Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Amasya Membuat Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Menemani ayahnya terlebih dahulu untuk tidur di kamar. Begitu ayahnya telah tertidur, Amasya dengan segera menjalankan tugasnya sebagai seorang istri. Dia menemani Juan yang terlihat sibuk dengan urusan kantornya. Juan terlihat begitu fokus mengerjakan tugas kantor yang belum dia selesaikan.


Tak ada kopi yang bisa membuat mata Juan sedikit segar di atas meja kerja. Hingga Amasya berinisiatif untuk membuat Amasya segelas kopi untuk suaminya tersebut.


Juan begitu pecinta manis, sehingga kopi yang harus di buat oleh Amasya harus manis. Tidak sepahit kopi yang biasanya di minum oleh orang lain. Untuk tidak membuat suaminya terkena dampak dari gula yang berlebih. Amasya menggunakan gula dari daun stevia. Sehingga resiko Juan terkena diabetes akan semakin kecil.


Segelas kopi dengan rasa yang Juan sukai, telah Amasya buat. Tinggal membawa kopi itu ke atas meja kerja Juan. Menemani suaminya itu untuk lembur mengerjakan tugas. Tentu itu bukan pekerjaan yang sulit bagi Amasya. Dia bisa juga membantu pekerjaan dari Juan, jika memang di butuhkan.


"Malam sayang." Sapa Amasya menaruh segelas kopi itu di atas meja kerja Juan.


"Malam. Tahu aja istri ku, kalau mata ini sudah ngantuk banget. Terima kasih sayang." Balas Juan dengan antusias.

__ADS_1


"Ada yang bisa aku bantu saya untuk pekerjaan kantor kamu?" Tanya Amasya.


"Tidak usah sayang, biarkan aku menyelesaikan semua tugas ini. Aku tidak ingin kamu kecapean nantinya. Kamu cukup temenin aku saja menyelesaikan semua tugas ini saja." Jawab Juan dengan tegasnya.


"Tapi aku boleh tidak meminjam laptop kamu sebentar?" Tanya Amasya meminta.


"Buat apa?" Tanya balik Juan.


"Aku senang banget dengar kabar ini. Semoga ini akan menjadi keputusan terbaik buat kamu, tentu buat keluarga kita juga." Doa terbaik dari seorang Juan.


"Aamiin." Balas Amasya dengan penuh optimis.

__ADS_1


Amasya langsung memulai untuk membuat surat pengunduran diri di sekolah tempatnya mengajar. Mungkin ini adalah keputusan paling tepat bagi seorang Amasya. Mengundurkan diri dari sekolah, tentu bukan hal yang sulit untuknya. Walaupun dia harus sedikit bersedih, tidak akan mengajar lagi. Terpenting tugas dia sebagai seorang istri berjalan dengan baik. Begitu juga dengan baktinya kepada ayahnya tetap ada.


Sekalipun di hati seorang Amasya sudah ada keikhlasan. Tetap saja, masih cukup berat bagi Amasya untuk mengetik nama dirinya dalam surat pengunduran dirinya itu. Menjadi seorang pengajar adalah cita-cita dari dirinya semasa kecil. Dimana dia ingin menciptakan generasi gemilang dengan apa yang dia ajarkan pada anak-anak bangsa.


Tapi mungkin takdir berkata lain. Mungkin tugas Amasya sebagai seorang guru harus berakhir. Kini Amasya harus lebih fokus menjadi seorang istri dari Juan. Begitu juga dalam hal mengurus Alvin. Ini adalah waktu bagi Amasya untuk mengurusi ayahnya tersebut.


Tak jauh beda dari pahala mengajar. Berbakti kepada suami, serta ayahnya memiliki pahala yang cukup besar. Terlebih ayahnya sedang dalam keadaan sakit. Ini tentu tantangan yang cukup besar bagi Amasya sebagai seorang anak. Dia harus bersabar, serta harus tetap ikhlas dalam memberikan waktunya dalam mengurus ayahnya yang sakit tersebut.


Hampir 30 menit untuk membuat surat pengunduran diri tersebut. Amasya dengan segera mencetak surat pengunduran diri itu dengan sebuah printer. Begitu kertas itu telah keluar dari dalam printer. Amasya langsung melakukan tanda tangan di atas namanya.


Memasang materai, surat itu pun siap di kirim pada pihak sekolah. Juan langsung memeluk Amasya yang masih sedikit ada perasaan untuk mengajar. Alvin mengelus lembut rambut Amasya. Berulang kali dia mencium kepala Amasya. Mengatakan pada Amasya untuk siap dengan segala keputusan yang di buatnya. Ini adalah keputusan yang tepat. Sehingga Amasya harus bisa untuk tersenyum dengan keputusan yang di buat olehnya tersebut.

__ADS_1


__ADS_2