
Ucapan syukur langsung di ucapkan Amasya, setibanya di rumah. Dia begitu bahagia akan nikmat yang Tuhan berikan kepada keluarganya. Bisa kembali ke rumah dengan selamat, meskipun ayahnya dalam keadaan kurang sehat. Tetapi semua itu tetap Amasya syukuri.
Juan sebagai seorang menantu yang siap siaga. Langsung mengeluarkan kursi roda yang hendak digunakan oleh Alvin. Begitu juga ketika Alvin turun dari mobil. Juan juga yang mengangkat tubuh Alvin ke atas kursi roda. Dia begitu cekatan dalam mengurus Alvin sebagai mertuanya.
Melihat sigapnya Juan dalam mengurus ayahnya, Amasya merasa itu sebuah berkah yang Tuhan berikan padanya. Diberikan seorang suami seperti Juan adalah sebuah berkah yang Amasya dapat. Hingga rasa syukur dari Amasya diucap berulang.
Tak sekedar mengucap syukur pada Tuhan. Amasya juga mengucapkan banyak terima kasih pada Juan. Dia begitu terharu dengan segala bentuk perhatian Juan pada ayahnya. Juan terlihat begitu sigap dalam mengurus Alvin. Itu yang membuat Amasya merasa bahagia.
"Aku tidak tahu harus berkata apa lagi. Tapi aku benar-benar bahagia memiliki kamu. Mencintai aku dan ayahku dengan begitu tulusnya." Ucap Amasya.
Juan mengelus rambut Amasya.
"Itu sudah jadi kewajiban aku sayang. Justru aku yang akan bersalah banget, jika aku tidak melakukan itu. Sebab ini adalah kewajiban aku." Balas Juan sambil tersenyum.
Amasya langsung memeluk tubuh Juan. Dia merasakan ketulusan cinta Juan, walau hanya memeluk tubuh Juan tersebut. Amasya dapat merasakan bagaimana Juan begitu mencintai dirinya dengan sepenuh hati. Begitu juga kasih sayang dari Juan yang besar padanya. Dapat Amasya rasakan dengan begitu tulusnya.
__ADS_1
Usai bermesraan dengan apa yang telah Juan tunjukkan. Juan segera mendorong kursi roda Alvin menuju ke dalam rumahnya. Tentu Alvin ingin istirahat, usai seharian berada di rumah sakit.
Baru akan masuk ke dalam rumah, Juan dan Amasya langsung menghentikan langkah mereka berdua. Ryan memanggil nama Juan dan Amasya. Dia ingin membawa Alvin untuk pulang ke rumah Ratna.
"Mas Juan, mbak Amasya." Teriak Ryan di dekat mobilnya.
Lalu Ryan segera mendatangi Juan dan Amasya yang belum masuk ke dalam rumah mereka. Dia berharap Juan dan Amasya akan memberikan Alvin pada dirinya untuk di bawa pulang.
"Ada apa Ryan?" Tanya Amasya.
"Sepertinya saya tidak akan membiarkan ayah untuk pulang ke rumah itu. Tentu mereka akan memperlakukan ayah dengan tidak baik. Aku yakin itu." Duga Juan pada Devi dan Ratna.
"Tapi mas Juan, Bu Ratna dan mbak Devi begitu marah sama saya. Dia meminta saya untuk membawa pak Alvin pulang ke rumah." Jelas Ryan mengiba.
"Tapi maaf Ryan. Saya setuju dengan suami saya. Ayah saya akan tinggal di rumah saya bersama saya dan suami saya. Ini sudah kewajiban saya untuk mengurus ayah saya." Terang Amasya dengan begitu tegasnya.
__ADS_1
"Tapi mbak Amasya." Ryan memohon.
"Maaf Ryan, sekali lagi saya tidak bisa menolong kamu. Ini sudah keputusan saya." Tegas Amasya semakin mantap.
"Bagaimana jika ibu dan mbak Devi marah?" Tanya Ryan.
"Bilang kepada mereka. Jika mau marah, suruh datang ke sini. Marahi saya langsung. Kamu tidak tahu apa-apa. Jadi kamu tidak berhak untuk di marahi. Bilang kepada keduanya." Pinta Juan semakin tegas.
Ryan terdiam. Tentu dirinya berada di ujung tanduk. Mungkin Devi dan Ratna tidak akan menerima alasan apapun dari Ryan. Dia hanya ingin melihat Alvin berad di rumah mereka. Tidak mau tahu alasan apapun. Terpenting Alvin berada di rumah mereka.
"Ada apa lagi Ryan?" Kejut Amasya.
"Saya tetap takut mbak Amasya. Mereka akan tetap memakai saya, jika tidak membawa bapak pulang." Jelas Ryan ketakutan.
"Tadi saya bilang, jika kamu di marahi oleh dua monster itu. Kamu bilang, suruh mereka datang ke sini. Suruh ke sini untuk marahi saya. Jangan bisanya marahi kamu doang." Perintah Juan semakin tegas.
__ADS_1
Akhirnya Ryan menurut permintaan Juan. Dia pulang tanpa bersama Alvin. Ada sedikit ketakutan yang mulai melanda dirinya. Tentu Devi dan Ratna akan kembali memaki Ryan dengan kata-kata yang kasar. Sebuah makian yang harus di terima oleh Ryan.