
Bunyi alarm yang terdengar begitu nyaring, seketika membangunkan Amasya. Sementara Juan yang baru tidur beberapa jam yang lalu. Mengacuhkan bisingnya bunyi alarm tersebut.
Amasya yang tak ingin mengganggu tidur Juan. Langsung mematikan bunyi alarm yang berasal dari handphonenya tersebut. Sejenak Amasya menatap wajah letih Juan. Wajah letih seorang suami. Amasya tersenyum seketika mendengar suara Juan yang mulai mengorok. Dia teringat akan ucapan almarhum ibunya yang mengatakan jika seorang mengorok, artinya dia telah melakukan aktivitas yang cukup melelahkan. Seperti ayahnya terdahulu.
Hembusan angin yang semakin kenceng menerjang kamar. Amasya langsung berinisiatif untuk menyelimuti tubuh Juan. Kemudian sebuah kecupan manis langsung diberikan Amasya di pipi kiri Juan.
Kecupan manis yang Amasya layangkan, langsung membuat Juan terbangun dari tidur pulasnya. Amasya yang terkejut melihat Juan bangun, seketika malu-malu kucing. Wajahnya memerah dengan tatapan sempurna yang Juan berikan padanya.
"Kenapa kamu bangun sayang?" Tanya Amasya basa-basi.
Juan semakin menarik kuat selimut yang membungkus tubuhnya. Wajahnya berubah menjadi super menyebalkan. Menggoda Amasya, hingga Amasya semakin terlihat salah tingkah.
"Mungkin saraf-saraf cinta di tubuh aku, tak kuat dengan kecupan manis yang kamu berikan." Jawab Juan menggoda Amasya.
Amasya tersenyum kecil dengan jawaban yang Juan berikan. Dia semakin salah tingkah dengan sikap yang ditunjukkan oleh Juan padanya.
"Kamu gak ngantuk. Semalam kamu lemburkan, jadi pasti capek banget." Ucap Amasya.
"Enggak. Aku gak capek sama sekali. Sebab ada istri aku di samping aku. Aku gak boleh capek, sebab sebentar lagi. Aku punya jagoan yang harus aku bahagiakan." Terang Juan terus tersenyum manis pada Amasya.
__ADS_1
Amasya kembali tersenyum. Dia semakin tak bisa berbuat apapun dengan semua ucapan yang Juan lontarkan.
"Kenapa sih buru-buru amat. Langit masih gelap juga. Matahari belum datang untuk mengajak kita berjemur. Jadi kita nikmati aja bulan yang ada di atas kita kini. Jangan terburu-buru mengejar sesuatu yang sudah pasti." Jelas Juan dengan begitu puitis.
Amasya yang telah merapikan diri untuk bergegas dari kasurnya. Kembali menjatuhkan tubuhnya keatas kasur. Berbaring disamping Juan, yang semakin tajam menatap wajah Amasya.
"Pakai make up, atau pun tidak. Aku pikir kamu tetap cantik." Ucap Juan dengan begitu manisnya.
"Bisa aja kamu ini." Bantah Amasya mengusap lembut wajah Juan.
Juan langsung mengelus lembut tangan Amasya yang berada di wajahnya. Dengan sentuhan lembut, Amasya dibuat begitu nyaman dengan semua sentuhan yang Juan berikan di tangganya.
"Setahu aku tidak sih. Itu tidak akan menjadi masalah untuk kandungan yang sedang di kandung ibu hamil." Jelas Amasya.
"Berarti kita bisa dong malam ini." Ajak Juan dengan penuh godaan pada Amasya.
Amasya tak menjawab pertanyaan dari Juan. Hanya gesture menerima yang ditunjukkan olehnya. Sehingga dia begitu menunggu saat Juan mulai menjalankan aksinya untuk melakukan serangan pertama padanya.
Juan yang sudah terlatih selama menikah dengan Amasya. Siap melayangkan serangan pertama pada Amasya. Tentu serangan pertama itu berupa ciuman mesra yang akan diberikan Juan pada Amasya di bibirnya.
__ADS_1
Serangan pertama pun sukses. Juan berhasil membuat Amasya bergairah dengan ciuman mesra yang diberikan olehnya. Basah seluruh bibir Amasya dibuat oleh Juan.
Tangan nakal Juan mulai satu persatu melepaskan pakaian tipis Amasya. Hingga perlahan Amasya sudah tak mengenakan pakaian apapun. Sementara Juan masih dengan baju tidurnya.
Ketika Juan akan melepaskan seluruh pakaiannya. Juan dan Amasya dibuat terkejut oleh suara ketukan pintu yang dilakukan oleh Rini dari luar kamarnya. Baik Juan, maupun Amasya yang terkejut dengan suara itu. Langsung kembali merapikan pakaian mereka.
Juan yang masih rapi dengan pakaiannya, bergegas menuju pintu kamar. Kemudian dengan wajah lesuh, Juan membuka pintu kamarnya.
"Ada apa yah Rin?" Tanya Juan.
"Maaf mas Juan. Saya cuman ingin kasih tahu. Adzan subuh sudah berkumandang. Bagaimana kalau kita shalat berjamaah." Jawab Rini sambil menunduk.
"Iya Rin. Saya tadi sudah dengar juga. Sebentar lagi, saya dan Amasya akan berangkat shalat berjamaah juga kok." Terang Juan.
"Baik mas. Saya pikir mas Juan belum tahu. Makanya saya bangunin." Jelas Rini masih terlihat gugup.
Juan hanya tersenyum kecil saja. Sementara dengan raut wajah malu-malu. Rini berpamitan pada Juan.
Momen romantis yang hampir membuat Juan dan Amasya *******. Seketika sirna. Mereka yang sudah sama-sama bergairah, menjadi tak bersemangat lagi. Keduanya pun memilih pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Sebelum akhirnya berangkat shalat berjamaah di masjid.
__ADS_1