
Ratna mendatangi kamar Devi. Ia menceritakan semua keributan yang terjadi di meja makan. Keributan yang disebabkan ketidakhadiran Devi untuk makan siang bersama Amasya dan Alvin.
Ratna yang sama jahatnya dengan Devi. Menceritakan cerita yang sedikit dilebihkan. Ditambah sedikit bumbu kebohongan, Ratna berharap Devi akan semakin terpancing marah pada Amasya.
Benar saja, Devi berhasil terpancing marah oleh cerita yang dilebih-lebihkan oleh Ratna akan Amasya. Dimana Ratna memfitnah Amasya, jika Amasya mengatakan jauh lebih beruntung dibanding Devi. Amasya sudah menikah, memiliki suami yang tampan. Bahkan Amasya sudah memiliki calon cabang bayi yang tentu tidak bisa dimiliki oleh Devi.
Siasat jahat langsung terbesit dalam pikiran Devi. Siasat jahat yang akan membuat Amasya menyesali ucapannya pada Devi. Mengingat Devi begitu sakit hati akan ucapan Amasya tersebut.
Devi mencoba meracuni bayi yang ada dalam kandungan Amasya dengan sebuah obat keras. Nantinya obat keras itu akan dilarutkan kedalam minuman yang akan Devi buat untuk Amasya. Namun Devi tidak memiliki obat keras tersebut. Hingga ia harus pergi ke apotek untuk membeli obat keras itu.
Devi meminta izin pada ibunya untuk pergi sebentar ke apotek. Tanpa rasa keberatan sedikit pun, Ratna langsung memberikan Devi izin untuk pergi membeli obat keras tersebut di apotek.
Devi membawa mobilnya menuju apotek. Sebelum Devi membeli obat keras untuk Amasya tersebut. Devi menepi sejenak di sebuah restoran. Perutnya mulai keroncongan, meminta untuk diisi sedikit makanan. Mengingat Devi belum makan siang.
Devi yang tidak terlalu rakus, hanya memesan beberapa menu makanan yang bisa mengganjal perut. Menu sushi yang dipilih oleh Devi. Makanan ringan itu, dirasa cukup untuk mengganjal perut Devi yang keroncongan.
Selesai menyantap semua menu yang dia beli. Kini Devi kembali melanjutkan perjalanan menuju apotek. Berbekal surat dokter palsu dengan tanda tangan dari salah seorang dokter spesialis kandungan. Devi yakin bisa mendapatkan obat penggugur kandungan yang akan menggugurkan kandungan dari Amasya.
Tak ingin aksinya terlihat banyak orang. Devi melihat situasi terlebih dahulu. Ia sengaja antre paling terakhir. Devi tak ingin aksinya dapat diketahui oleh banyak orang, sebab itu bisa membahayakan Devi.
Begitu sepi, Devi langsung menghampiri pegawai apotek. Dengan suara yang tidak terlalu keras, Devi berusaha membuat situasi menjadi aman.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu kakak?" Si apoteker menanyakan maksud kedatangan Devi.
"Mbak. Saya ingin membeli sebuah obat penggugur kandungan. Apakah masih ada?" Devi berbicara dengan suara begitu pelan.
"Masih kak. Tapi boleh saya check surat rujukan dari dokter terlebih dahulu?" Pinta si apoteker pada Devi.
Devi dengan segera merogoh tasnya. Ia mencari surat dokter palsu yang ia ambil di ruangan Willy. Dengan stampel dari rumah sakit. Rasanya cukup untuk meyakinkan apoteker tersebut.
Apoteker itu menerima surat yang diberikan oleh Devi. Mengecek terlebih dahulu, sebelum akhirnya yakin jika surat itu asli dari sebuah rumah sakit.
Apoteker itu segera mengambil obat yang diminta oleh Devi. Setelah menemukan obat tersebut, ia langsung memberikan obat itu pada Devi.
Dengan senyum sinis dari wajahnya, Devi berharap obat ini bisa menggugurkan kandungan dari Amasya. Sehingga Amasya batal memiliki anak.
Devi yang memarkir mobilnya di pinggir jalan, mendapat kejadian yang tak terduga. Dua orang yang mengendarai motor trial besar, menjambret tas milik Devi. Selain kehilangan seluruh benda penting miliknya. Devi juga harus kehilangan obat keras yang baru ia beli untuk Amasya.
Devi berteriak meminta tolong pada orang-orang disekitarnya. Hingga orang-orang langsung berkumpul mendekat kearah Devi untuk menolongnya. Namun laju kencang dari penjambret itu, tidak bisa dikejar oleh orang-orang. Devi pun harus kehilangan salah satu koleksi tas mahalnya.
Devi kembali menuju apotek. Ia ingin kembali mendapatkan obatnya yang telah dijambret. Namun baru meninggalkan beberapa langkah mobilnya. Sebuah panggilan telepon Devi dapatkan dari Willy. Devi sebenarnya malas untuk mengangkat telepon tersebut. Tapi amarah Willy yang mungkin akan meledak begitu saja, akhirnya membuat Devi mengangkat panggilan telepon dari Willy.
"Hallo Will." Devi memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Hallo sayang." Willy mulai menggoda dengan suara sedikit mendesah.
"Ada apa Will?" Devi mulai menanyakan tujuan Willy menelponnya.
"Aku cuman kangen saja sama kamu. Aku ingin dimanjain kamu doang. Kamu bisa dong manjain aku." Pinta Willy semakin menggoda Devi.
"Apa sih Will. Aku lagi ada urusan. Jadi aku gak bisa ketemu sama kamu." Tegas Devi.
"Jadi kamu nolak ajakan dari aku! Oh kamu mulai berani sama aku." Willy marah.
"Enggak Wil. Aku benar-benar ada urusan." Jelas Devi ketakutan.
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya kamu harus datang ke rumah aku sekarang. Jika tidak, kamu tahu sendiri akibatnya." Tutup Willy.
Mau tidak mau, Devi akhirnya menuruti permintaan dari Willy. Rasa malas yang sebenarnya sedang dia rasakan, terpaksa Devi kesampingkan. Demi menuruti permintaan dari Willy.
Tetapi sebelum Devi pergi menemui Willy. Devi kembali menuju apotek. Ia ingin kembali membeli obat keras yang akan digunakan untuk menggugurkan kandungan dari Amasya.
Sial bagi Devi. Ternyata obat keras yang ia beli adalah stok akhir dari apotek tersebut. Sehingga Devi harus mencari apotek lain yang menjual obat yang sama.
Tentu waktu Devi tidak akan cukup untuk mencari apotek lain yang menjual obat tersebut. Mengingat keberadaan obat itu sebenarnya cukup langka. Hanya beberapa apotek saja yang menjual obat keras tersebut.
__ADS_1
Devi memilih untuk tidak melanjutkan pencarian terhadap obat keras itu. Mengingat Willy sudah menunggu dirinya. Tak mungkin Devi akan membuat Willy menunggu lebih lama lagi.