
Tok... Tok... Tok... Tiga kali dua orang polisi melakukan ketukan pintu di apartemen milik Devi. Tapi Devi tidak kunjung keluar dari apartemen miliknya. Dia terlihat masih tertidur dengan pulasnya di atas ranjang. Padahal hari ini Devi harus bekerja di klinik miliknya.
Devi baru terbangun saat seorang staf di tempatnya kerja menelpon Devi. Panggilan telepon dari staf itu langsung membangunkan Devi dari tidur pulasnya tersebut. Devi pun akhirnya terbangun, sebelum menyadari ada dua orang polisi yang sedang menunggu Devi di luar apartemen miliknya.
Devi membuka pintu apartemen miliknya tersebut. Dia terlihat begitu terkejut saat dua polisi itu datang dengan membawa sebuah surat tugas. Surat tugas yang tentunya adalah surat tugas penjemputan dari polisi yang di berikan pada seorang Devi.
__ADS_1
"Selamat pagi Bu Devi. Kami membawa surat tugas untuk Ibu. Surat tugas penjemputan untuk memenuhi keterangan yang akan di berikan oleh Bu Devi di kantor polisi." ujar salah seorang polisi.
Dengan tangan yang gemetar, Devi menerima surat yang di berikan oleh pihak kepolisian tersebut. Dia terlihat tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya akan surat penjemputan tersebut. Devi membaca surat itu, kemudian melihat nama pelapor dalam surat tersebut yang merupakan adalah Juan.
"Mohon maaf Pak. Kenapa saya harus di jemput paksa seperti ini. Saya bisa datang ke kantor polisi sendiri. Tanpa harus di jemput paksa seperti ini?" tanya Devi dengan wajah ketakutannya.
__ADS_1
Devi terkejut dengan kehadiran Juan yang datang secara tiba-tiba ke apartemen miliknya. Devi merasa apa yang Juan ucapkan tidak mendasar. Sebab Devi masih mau berkelit dari apa yang telah dia perbuat. Devi adalah seorang pecundang yang tidak pernah mau mengakui kesalahannya. Hingga Devi harus benar-benar di ingatkan atas kesalahan yang telah di buat olehnya.
"Kamu itu benar-benar perempuan tidak tahu malu. Kamu tidak seharusnya masih mengatakan hal tersebut pada polisi. Jelas-jelas kamu melakukan tindakan semua itu. Tapi kamu masih ingin berkelit. Dasar perempuan jahat." ucap Juan dengan penuh emosi.
Devi yang terus berkelit dari kesalahannya. Mencoba membuat situasi semakin rumit. Dia masih tidak mau mengakui bahwa dirinya bersalah. Devi masih meyakini ucapan dari Parni dan dokter Dani tidak benar akan dirinya. Oleh sebab itu Devi masih belum mau mengakui kesalahannya tersebut. Sekali pun Juan sudah membukakan semua bukti kejahatan yang di lakukan oleh Devi.
__ADS_1
Devi tetap menolak di bawa oleh kedua polisi tersebut. Devi terus melakukan perlawanan pada kedua polisi yang membawa paksa dirinya. Bagi Devi, apa yang di ucapkan oleh Parni dan dokter Dani adalah kebohongan. Mereka berdua telah membuat berita palsu.
Devi pun di minta untuk memberikan keterangan lebih lanjut di kantor polisi. Dia masih bisa membela diri, tapi Devi harus sadar akan posisi dari dirinya yang memang sudah terjepit. Bagaimana Devi mentransfer sejumlah dana pada Parni. Hingga penemuan obat penggugur kandungan di dalam apartemen miliknya ketika sedang di geledah. Semua bukti itu cukup untuk membuat Polisi yakin, jika Devi adalah pelaku utama dari keguguran yang di alami oleh Amasya.