
Sindiran keras yang diberikan oleh Juan pada Devi. Seketika membuat Devi meradang. Dia tak terima dengan sindiran keras itu, Devi meluapkan semua kekesalan dalam hatinya di rumah. Semua jenis nama binatang yang menurutnya hina, di lontarkan untuk memaki seorang Julien's.
Ratna tak bisa membendung amarah dari Devi. Dia hanya bisa melihat anaknya terus mengeluarkan kata-kata yang tak pantas untuk Juan. Ratna tak ingin dirinya juga menjadi objek dari amukan seorang Devi. Pasalnya dia yang mengajak Devi menjenguk Alvin di rumah sakit.
Devi yang tak terima dengan semua ucapan itu. Siap membalas segala perbuatan Alvin yang membuatnya sakit hati. Devi siap membuat hidup Juan dan Amasya tidak nyaman. Mengingat apa yang telah Juan ucapkan pada Devi, telah membuat hati Devi hancur berkeping-keping. Ambisi Devi untuk membuat Amasya keguguran semakin besar, bahkan semakin membesar seperti bola salju yang di dorong maju.
"Mama mau membantu aku?" Tanya Devi pada Ratna.
"Bantu apa sayang?" Tanya balik Ratna pada Devi.
__ADS_1
"Mama mau bantu aku buat Amasya keguguran. Aku tidak rela, perempuan itu punya anak." Ucap Devi dengan wajah jahatnya.
"Keguguran! Tapi bagaimana caranya?" Tanya Ratna kembali pada Devi semakin penasaran.
"Itu biar jadi urusan aku. Mama hanya tinggal mengikuti setiap instruksi yang aku berikan. Tapi mama jangan bertindak sendiri seperti waktu itu. Mengingat mama terkadang suka gegabah. Hingga akhirnya bisa menghancurkan rencana kita." Pinta Devi dengan tegasnya.
"Baik, Mama akan bertindak sesuai perintah dari kamu. Tapi mama penasaran, bagaimana cara kamu buat Amasya keguguran?" Tanya Ratna semakin penasaran.
"Mama setuju dengan ide kamu. Daripada dengan sentuhan fisik, mending cara seperti itu lebih baik. Jika sentuhan fisik itu rentan gagal. Sementara dengan obat seperti itu, mungkin bisa lebih aman buat kita." Ucap Ratna yang semakin antusias.
__ADS_1
"Tapi ingat. Mama harus melakukan itu semua atas komando dari aku. Tidak boleh gegabah. Apalagi membuat rencana tersendiri. Jika gagal, mama harus tanggung sendiri akibatnya." Ancam seorang Devi Devi pada Ratna.
"Iya sayang, mama janji." Ratna mengelus lembut pundak Devi.
Di tengah kekesalan seorang Devi itu. Pembantu baru yang baru saja Ratna ambil dari sebuah agensi telah datang. Seorang perempuan seumuran Ratna nampak begitu polos. Terlebih dengan logat Jawa yang masih cukup kental. Semakin memperlihatkan kepolosan dari pembantu Ratna itu.
Ratna memperkenalkan pembantu baru mereka itu pada Devi. Dia mungkin bisa menggantikan seorang Darmi yang Ratna rasa sudah tidak bisa di andalkan lagi. Hingga Ratna memilih pembantu baru yang menurutnya masih begitu segar.
Pembantu baru Ratna itu bernama Sopia. Nama yang sebenarnya cukup bagus untuk seorang pembantu. Tapi apalah arti sebuah nama. Terpenting adalah kinerjanya yang mungkin di atas rata-rata. Bahkan di atas Darmi yang di anggap sudah di pecat oleh Ratna. Walaupun belum di konfirmasi pada Darmi secara langsung oleh Ratna.
__ADS_1
Devi melihat peluang dari kepolosan seorang Sopia. Mungkin kepolosan dari seorang Sopia bisa Devi manfaatkan untuk kepentingannya. Hingga selain bisa menggunakan jasa Sopia sebagai pembantu. Devi juga akan menggunakan jasa Sopia dalam hal lainnya. Tentunya akan menguntungkan dirinya.