Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Pertemuan Kedua Juan Dengan Devi


__ADS_3

Juan seketika panik kala orangtuanya mengatakan jika bi Eem yang sejak Juan kecil menjadi pengasuhnya jatuh dari tangga. Juan yang sebenarnya sedang sibuk dengan pekerjaan kantor yang padat. Terpaksa harus meninggalkannya. Dia lebih memilih untuk melihat kondisi bi Eem terlebih dahulu.


Dengan alamat yang telah dikirimi oleh ibunya. Juan segera mendatangi rumah sakit tempat bi Eem di rawat. Rasa panik terus menghantui Juan di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Juan panik akan keselamatan bi Eem.


Tiba di rumah sakit, Juan langsung mencari ruangan yang menjadi tempat bi Eem di rawat. Setiap perawat yang Juan temui, sudah pasti menjadi objek jawaban akan lokasi tempat bi Eem di rawat.


Hampir bertanya pada 5 perawat, akhirnya Juan berhasil menemukan ruangan perawatan bi Eem. Dari luar kamar perawatan, Juan nampak menyaksikan bi Eem yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Selang infus juga tak lepas dari tubuhnya.


Perlahan Juan menarik gagang pintu ruangan tersebut. Kemudian membuka dengan hati-hati. Air matanya semakin jatuh saat dia melihat kondisi bi Eem dari dekat. Dimana tubuh wanita 60 tahun ini nampak tak berdaya.


Juan mencium tangan kanan bi Eem. Dia mendoakan kesembuhan dari bi Eem. Juan dapat merasakan sakit yang dialami oleh BI Eem, sehingga air matanya jatuh kala menyentuh tangan bi Eem.


Tak berselang lama usai tangan Juan menggenggam tangan kanan bi Eem. Sebuah panggilan telepon masuk ke handphone milik Juan. Ratih meneleponnya. Dengan segera Juan mengangkat telepon dari Ratih.


"Selamat siang pak Juan. Saya ingin mengabarkan ada seorang tamu penting yang sedang mencari pak Juan."


"Tamu penting! Siapa?" Tanya Juan penasaran.


"Bapak Renard pak." Jawab Ratih.


"Astaga..... Saya lupa kalau hari ini pak Renard mengajak saya bertemu. Ok Ratih saya akan segera kesana." Ucap Juan mematikan handphonenya.


Juan dilema. Disatu sisi dia tak mungkin meninggalkan bi Eem sendiri dengan keadaan seperti ini. Tapi kepercayaan pak Renard akan berkurang jika dia tidak menemui pak Renard.


3 menit dilema berat, akhirnya Juan menemukan solusi untuk permasalahannya. Juan menelepon Amasya. Dia ingin meminta Amasya untuk menjaga bi Eem. Sekaligus ini menjadi test kelayakan Amasya untuk menjadi calon istrinya.


"Hallo Juan." Sapa Amasya.


"Kamu dimana?" Tanya Juan.


"Aku masih disekolah. Tapi perjalanan pulang." Jawab Amasya.


"Sayang... Aku boleh minta tolong sama kamu?" Tanya Juan kembali.

__ADS_1


"Minta tolong apa?" Tanya balik Amasya.


"Kamu mau menjaga mantan pengasuh aku dulu. Dia jatuh dari tangga. Saat ini masih di rawat di rumah sakit. Di Jakarta dia tidak punya siapa-siapa. Siang ini aku harus ketemu dengan rekan bisnis aku. Jadi aku harus menemui rekan bisnis aku dulu. Apakah kamu mau menunggu dia disini?" Terang Juan.


"Innalilahi.. Baik Juan aku akan segera kesana. Kamu kirim saja alamat rumah sakit serta ruang perawatannya. Aku pasti akan pergi kesana untuk menunggu beliau." Ucap Amasya.


Juan yang awalnya bimbang. Perlahan berubah menjadi bahagia. Dia langsung tersenyum kala Amasya mau untuk menggantikan dia menunggu bi Eem. Juan mengucapkan berjuta terima kasih pada Amasya yang bersedia menolong Juan menunggu bi Eem.


Masalah selesai. Sebelum kembali berangkat ke kantor, Juan mencium terlebih dahulu kening bi Eem. Dengan penuh cinta, Juan meninggalkan sebuah ciuman di kening bi Eem. Juan berjanji, saat pulang kerja nanti akan kembali menjenguk bi Eem.


Juan yang terlalu lama meninggalkan pak Renard. Berjalan menuju parkiran mobil dengan begitu cepatnya. Hingga tanpa sengaja dia bertabrakan dengan Devi yang saat itu datang ke rumah sakit untuk memberikan surat pengunduran diri.


Berserakan semua berkas-berkas yang Devi bawa. Baik Juan dan Devi mencoba memunguti berkas-berkas yang berserakan. Saat Devi akan marah, tiba-tiba ekspresi Devi berubah. Orang yang menabrak Devi adalah pahlawan Devi saat akan di rampok.


"Kamu." Ucap Devi tersenyum.


"Iya, kita bertemu lagi." Jawab Juan dengan sedikit senyuman.


"Siapa yang sakit?" Tanya Devi malu-malu.


"It's ok. Aku gak kenapa-kenapa. Lagi pula berkas-berkasnya juga tetap aman." Beber Devi.


Dari arah pintu masuk, Willy dengan setelan dokter yang dia pakai melihat Devi yang tengah asyik mengobrol dengan Juan. Willy seketika cemburu melihat kedekatan keduanya. Terlebih Devi yang tersenyum lebar kala mengobrol dengan Juan. Willy terus menyaksikan dari kejauhan obrolan keduanya.


Sementara Juan yang sudah dikejar waktu. Terpaksa harus meninggalkan obrolan dengan Devi. Sekali lagi Juan meminta maaf pada Devi atas insiden yang terjadi. Sebelum akhirnya Juan benar-benar pergi meninggalkan Devi.


Waktu yang tepat untuk Willy mendekati Devi. Dia segera menghampiri Devi yang nampak akan kembali melanjutkan perjalanan menuju ruang kepala rumah sakit.


"Mau kemana kamu?" Tahan Willy menggenggam tangan Devi.


"Lepasin tangan aku." Devi membanting tangan Willy.


"Jadi alasan kamu putus dari aku, karena laki-laki bodoh itu?" Tanya Willy sangat marah.

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!" Jawab Devi tegas.


"Jelas itu urusan aku. Sebab kita tidak akan pernah putus sampai kapan pun." Ancam Willy.


"Enggak Wil. Aku pikir hubungan kita telah berakhir. Jadi jangan pernah berharap untuk kembali lagi padaku." Tegas Devi.


"Tidak akan pernah. Kamu akan selamanya menjadi milik aku!" Ucap Willy dengan sangat tegas.


Mata Willy melirik kearah surat yang Devi pegang.


"Surat apa itu?" Tanya Willy.


Devi coba menyembunyikan surat tersebut. Tetapi dengan memaksa, Willy merebut surat tersebut dari tangan Devi. Kemudian dia pun membaca surat tersebut.


Willy langsung tercengang dengan isi surat dari Devi yang merupakan surat pengunduran dirinya dari rumah sakit. Dengan segera Willy merobek surat tersebut.


"Kenapa kamu robek surat tersebut?" Tanya Devi.


"Karena surat itu gak penting. Kamu tidak boleh resign dari rumah sakit ini. Kamu harus tetap bertahan." Pinta Willy memegang dagu Devi.


"Tidak! Aku gak bakal bertahan disini. Aku akan resign." Ucap Devi.


Ditengah pertengkaran Devi dengan Willy yang semakin sengit. Tiba-tiba Amasya yang masih menggunakan seragam guru datang melerai keduanya.


"Kalian kenapa berantem disini?" Tanya Amasya.


"Tanya sama adik kamu ini. Perempuan kurang bersyukur." Jawab Willy.


"Tidak akan pernah ada yang bahagia memiliki kamu!" Tegas Devi.


Mendengar ucapan dari Devi. Willy langsung mencoba menampar Devi. Tetapi Amasya langsung menahan tangan Willy.


"Jangan pernah bermain kasar dengan perempuan." Pinta Amasya melempar tangan Willy.

__ADS_1


Dengan segera Amasya membawa Devi menjauh dari Willy. Kemudian Devi memilih pergi dari rumah sakit, tanpa mengucapkan sepatah kata pada Amasya. Sementara Amasya melanjutkan perjalanan menuju ruang perawatan dari bi Eem.


__ADS_2