Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Devi Ribut Dengan Juan


__ADS_3

Tiba di rumah sakit, Devi tak sabar untuk bertemu dengan Amasya. Tujuan Devi jelas untuk memamerkan keberhasilan dari dirinya yang telah memiliki klinik yang cukup besar. Beda dengan Amasya yang tak memiliki sekolah seperti impiannya dulu. Amasya masih menjadi seorang pengajar di sekolah milik orang lain. Ini tentu akan jadi peluang bagi seorang Devi untuk melakukan pembulian terhadap Amasya.


Daripada harus menelpon seorang Amasya untuk menanyakan ruangan Alvin berada. Ratna lebih memilih untuk menelpon Ryan dalam mengetahui ruangan tempat Alvin di rawat. Mungkin dengan bertanya pada Ryan, Ratna dan Devi tidak harus mencari kesana-kemari. Hanya tinggal mengikuti Ryan, mereka bisa dengan mudah tiba di ruang perawatan Alvin.


Tak perlu menunggu lama, Ryan yang di tunggu oleh Devi dan Ratna akhirnya menghampiri keduanya. Ryan dengan langkah tegapnya, langsung memimpin Devi dan Ratna menuju ruang perawatan Alvin yang berada di ruang UGD.


Tiba di ruang perawatan Alvin. Devi dengan wajah congkaknya, siap membully Amasya. Dia begitu percaya diri untuk melakukan pembulian terhadap Amasya yang dianggapnya berada di bawah dirinya dalam hal pencapaian yang di dapat saat ini.

__ADS_1


Namun Devi begitu terkejut saat masuk ke dalam ruang perawatan Alvin. Dia tak menemukan batang hidung seorang Amasya sama sekali. Tak ada Amasya yang ingin dia bully. Hanya tubuh Alvin yang nampak begitu kaku di atas ranjang perawatan. Dimana keberadaan dari seorang Amasya yang di cari oleh Devi.


Merasa telah dibohongi oleh Ryan akan Amasya, Devi kembali keluar dari ruang perawatan Alvin. Dia siap memaki Ryan yang dianggap oleh ya telah membohongi Devi. Devi benar-benar telah di bohongi oleh Ryan akan keberadaan Amasya.


Baru akan memarahi seorang Ryan. Amukan dari Devi seketika mereda, begitu kedatangan Amasya dan Juan mengejutkan dirinya. Amukan dari seorang Devi berubah menjadi sebuah pembulian pada seorang Amasya yang berjalan bersama Juan ke ruang perawatan Alvin kembali.


"Pasangan kita akhirnya tiba juga." Ucap Devi.

__ADS_1


"Kalian tahu, apa yang sudah aku miliki. Mungkin apa yang aku miliki, tidak akan mungkin bisa kamu miliki Amasya. Aku yakin itu." Devi membanggakan dirinya.


"Apa maksud kamu. Tidak usah buat kami harus berpikir. Ucapkan apa maksud kamu berkata demikian!" Bentak Juan semakin keras.


"Klinikku sekarang sudah buka. Klinik besar dengan pengunjung yang banyak, satu impian yang telah aku realisasi dalam hidupku. Beda dengan istri kamu ini. Mimpinya yang ingin memiliki sekolah, hanya berada di angan-angan saja. Tidak bisa terealisasi." Devi dengan bangganya.


"Klinik pemberian saja kamu bangga. Klinik sebelumnya hasil maksa buat di kasih modal sama ayah, sekarang hasil polemik. Kamu bilang itu kesuksesan. Aku yang memiliki sebuah perusahaan besar dari hasil kerja keras aku saja, tidak bisa mengatakan diriku sudah sukses. Apalagi hanya klinik yang hasilnya pun tidak jelas dari mana." Sindir Juan dengan berkelasnya.

__ADS_1


Mendapatkan jawaban dari Juan. Devi semakin murka, dia langsung memaki Amasya. Hingga dia sempat ingin menampar wajah Amasya. Untung Juan sigap, dengan segera Juan melempar tangan Devi itu. Dia mengingatkan Devi untuk tidak melakukan kekerasan terhadap Amasya. Jika itu tetap di lakukan oleh Devi. Bukan tidak mungkin Juan akan melakukan hal yang lebih dari apa yang Devi lakukan.


Merasa tak terima dengan perlakuan dari Juan. Devi memilih untuk pergi dari rumah sakit. Mungkin itu pilihan yang tepat. Daripada dirinya yang harus dipermalukan oleh Juan di depan Amasya dan Ryan.


__ADS_2