
Grace sengaja menunggu Prince di depan kelasnya. Beberapa saat lagi, Prince akan mengakhiri jam kuliahnya. Grace sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Prince. Dia ingin pulang bersama Prince menggunakan mobil Prince yang mewah tersebut.
Pak Tomo mengakhiri jam pelajaran di kelas Prince. Dia menjadi orang pertama yang keluar dari dalam kelas. Kemudian di susul oleh mahasiswa lainnya di belakang pak Tomo. Sementara Prince yang terkenal sebagai mahasiswa yang paling santai. Memilih menjadi mahasiswa terakhir yang keluar dari dalam kelas. Begitu kelas sudah kosong, Prince baru beranjak dari kursi tempatnya duduk.
Baru akan beranjak, Prince langsung di kejutkan oleh kedatangan seorang Grace. Dia meminta Prince untuk duduk kembali. Sebab Grace ingin sedikit berbincang dengan Prince.
"Tunggu dulu Prince. Kamu jangan pergi dulu." Pinta Grace.
"Maaf Grace aku harus segera pergi. Aku sudah ada janji sama seseorang." jawab Prince.
"Janji. Kamu janjian sama siapa?" tanya Grace penasaran.
"Bukan urusan kamu." Tegas Prince.
Tak ingin membuat Rini lama menunggu. Prince dengan segera meninggalkan Grace yang masih duduk di samping tempat Prince duduk. Sementara Prince dengan langkah cepat meninggalkan kelas untuk bertemu dengan Rini di kelasnya.
Grace nampak kesal, sebab Prince begitu cuek kepada dirinya. Padahal Grace ingin pulang bersama Prince. Mengingat hari ini Grace tidak membawa mobil. Terpaksa Grace harus pulang dengan menumpang bersama salah satu temannya.
Tidak seperti biasanya, Prince yang di jemput oleh sopir pribadi. Kali ini, Prince membawa mobilnya sendiri. Dia menjinjing kunci mobilnya yang berornamenkan beberapa action figure dari tokoh-tokoh anime. Prince terlihat begitu bersemangat untuk pergi bersama Rini menuju rumah sakit.
Tak langsung masuk kedalam ruang kelas Rini. Prince hanya mengintip dari samping pintu ruang kelas Rini. Prince nampak begitu malu-malu untuk mendatangi Rini. Apalagi ada banyak teman Rini yang masih berada di dalam kelas. Prince semakin malu untuk masuk ke dalam kelas dari Rini.
__ADS_1
Tak berbeda dengan Prince. Rini juga mulai malu-malu saat Prince berada di depan kelasnya. Teman-teman Rini mulai meledak Rini. Rini semakin di buat malu-malu oleh ledekan yang berasal dari teman-temannya tersebut.
Namun Rini yang tak ingin membuat Prince lama menunggu. Akhirnya segera menemui Prince yang sedari tadi mengintip Rini dari depan ruang kelasnya. Rini berjalan dengan begitu malu-malu. Hingga salah seorang teman Rini mendorong tubuh Rini untuk segera berjumpa dengan Prince.
"Hai Prince." Sapa Rini.
"Hai, gimana hari ini jadi?" tanya Prince.
Rini menganggukkan kepalanya dengan ekspresi wajah malu-malu.
Sebelum Rini pergi bersama Prince. Rini berpamitan terlebih dahulu pada teman-teman sekelasnya. Mereka langsung memberikan respon positif pada Rini. Mereka mendoakan Rini dan Prince baik-baik selama perjalanan.
Baru akan beranjak dari ruang kelas Rini. Prince kembali bertemu dengan Grace. Dengan mulut pedasnya yang sepedas cabe jalapeno. Grace memaki Rini yang terus berada di samping Prince. Bagi Grace Rini adalah perempuan gatal yang terus berusaha mendapatkan hati seorang Prince.
Prince yang terkenal kalem dengan tutur katanya yang begitu lembut. Akhirnya mulai emosi juga dengan sikap Grace yang begitu tidak sopan pada Rini. Mengatakan Rini sebagai perempuan gatal tentu tidak beralasan. Sebab Rini tidak seperti yang Grace pikirkan. Rini adalah perempuan baik-baik, bukan perempuan gatal yang ada di pikiran seorang Grace.
Tidak ingin membuang banyak waktu, Prince langsung menarik tangan Rini untuk segera meninggalkan Grace. Mengingat waktu yang semakin sore. Rini hanya mengikuti perintah dari Prince saja. Sementara Grace begitu kesal pada Rini. Dia merasa Rini telah menabuh genderang perang dengan seorang Grace. Hingga Grace siap membuat Rini menderita dengan keputusan darinya untuk berdekat dengan Prince. Mengingat Prince adalah orang yang begitu di sukai Grace. Sebuah rencana jahat sudah di siapkan Grace untuk membuat Rini mundur dalam mendapatkan cinta seorang Prince.
Rini masih terlihat tidak enak hati pada Grace. Di dalam mobil Prince, Rini terus memikirkan ancaman dari seorang Grace yang terlihat begitu nyata. Hingga Rini tak bisa enyah dari pikiran negatif yang mungkin akan terjadi pada dirinya oleh Grace.
Prince seperti namanya yakni pangeran. Seorang pangeran yang setiap tutur katanya begitu indah untuk di dengar. Begitu juga dengan sikap tenang dari seorang Prince. Dia berhasil menenangkan seorang Rini yang terlihat begitu panik dengan ancaman dari seorang Grace yang membabi buta.
__ADS_1
Dengan sedikit tutur kata, serta sikap tenang yang di tunjukkan oleh Prince. Akhirnya Rini bisa lebih tenang dan yakin lagi. Tidak ada yang harus di khawatirkan oleh Rini. Akan ada Prince yang akan menjaga dia dari serangan yang akan di lakukan oleh Grace bersama teman-temannya. Hingga Rini tidak harus takut dengan ancaman yang akan di lakukan oleh Grace padanya.
Rini dan Prince akhirnya tiba di rumah sakit tempat Amasya di rawat. Mereka langsung masuk ke dalam ruang perawatan Amasya yang berada di lantai dua. Prince nampak begitu bahagia bisa mengantar Rini untuk menjenguk Amasya. Begitu juga dengan Rini yang terlihat senang bisa Menjenguk Amasya bersama Prince.
Sebuah keranjang buah yang telah Rini siapkan untuk Amasya, sudah berada di tangan Rini. Sementara Prince sudah siap dengan sebuah bucket bunga yang akan di persembahkan pada Amasya. Bucket bunga cantik berwarna merah itu siap Prince berikan pada Amasya yang di landa kesedihan.
Kedatangan Prince di sambut baik oleh Juan dan Amasya. Mereka berdua senang Rini bisa menjenguk Amasya. Memberikan dukungan pada Amasya yang di landa kesedihan. Mereka pun di sambut oleh Juan dengan tangan terbuka.
Pemandangan berbeda justru di perlihatkan oleh Rendi. Melihat Rini yang datang bersama dengan Prince. Rendi terlihat begitu kesal. Apalagi Prince terlihat akrab dengan Amasya. Rendi semakin tidak kuat, melihat kenyataan tersebut. Rendi pun akhirnya memilih untuk keluar dari kamar perawatan Amasya. Dengan alasan ingin pergi ke toilet. Rendi segera pergi dari kamar perawatan Amasya.
"Yang sabar yah mbak Amasya. Mungkin ini ujian buat mbak dan mas Juan." ucap Rini.
"Terima kasih Rin. Semoga ada hikmah dari semua yang terjadi di hari ini." balas Amasya dengan begitu lembutnya.
Amasya mulai menceritakan pertemuan pertama kali dirinya dengan Prince. Mungkin Prince saat itu masih remaja. Dimana penampilan Prince tidak sekeren hari ini. Rambut Prince tidak rapi seperti sekarang. Begitu juga pakaian dari Prince yang terlihat sedikit acak-acakan. Namun kini Prince telah tumbuh menjadi seorang pria dewasa yang tampan. Pria dewasa yang terlihat begitu gagah. Sehingga Amasya pikir, Prince begitu cocok jika di pasangkan dengan Rini.
Mendengar ucapan dari Amasya, Prince terlihat begitu malu-malu. Dia berterima kasih pada Amasya yang telah memuji dirinya. Tapi pujian dari Amasya sedikit berlebihan untuk Prince. Prince tetap terlihat biasa saja, tidak setampan yang Amasya katakan. Sehingga Prince terlihat begitu malu-malu mendapat pujian dari Amasya.
Pun dengan Rini yang di pasangkan dengan Prince. Rini merasa Prince bukan orang yang cocok untuk dirinya. Prince lahir dari keluarga konglomerat, sementara Rini hanya gadis desa yang tak memiliki kekayaan melimpah seperti yang Prince miliki. Dasar itu, Rini merasa dirinya begitu tidak cocok dengan Prince.
Selain bercerita tentang pertemuan dirinya dengan Prince remaja. Amasya juga menceritakan bagaimana perjuangan ayah Prince dalam membangun kampus tersebut. Dulunya kampus itu sulit di realisasikan. Sebab di tentang oleh keluarga besar dari ayah Prince. Namun berkat kerja kerasnya. Akhirnya kampus itu pun berdiri hingga sekarang. Pelajaran sejarah yang cukup memuaskan bagi seorang Rini.
__ADS_1