
Juan nampak tak henti meneteskan air mata. Dia berusaha tenang, tapi darah yang keluar dari bagian bawah perut Amasya tidak bisa membuat ketenangannya itu tetap konsisten. Apalagi mendengar rintihan tangis dari Amasya. Semakin membuat Juan tersiksa.
Juan meminta Rendi untuk memacu mobilnya secepat mungkin. Dia ingin Amasya segera mendapatkan pertolongan pertama. Sebab ada banyak darah yang mengucur dari bawah perutnya. Hingga Juan khawatir akan terjadi sesuatu yang buruk pada Amasya.
Rendi pun memacu mobilnya secepat mungkin. Dia mengikuti instruksi dari Juan yang semakin panik. Amasya sendiri tak henti menangis kesakitan. Perutnya terasa seperti terbakar. Obat itu sukses membuat kandungan dari Amasya benar tak berdaya. Hingga Amasya begitu merasakan rasa sakit yang teramat.
__ADS_1
Tiba di rumah sakit, Juan langsung menggendong tubuh Amasya ke atas ranjang berjalan di rumah sakit. Juan bersama beberapa perawat langsung mendorong ranjang itu menuju ke ruang perawatan. Juan terus menenangkan Amasya yang tak henti menangis menahan rasa sakit.
Juan di minta untuk menunggu di luar kamar perawatan. Sementara dokter siap memeriksa Amasya yang terlihat banyak mengeluarkan darah dari bawah perutnya. Juan benar-benar di landa kepanikan yang teramat. Mengingat ada dua nyawa yang dalam keadaan berbahaya. Hingga Juan hanya bisa berpasrah akan kondisi kedua orang yang dia sayang tersebut.
Berdiri, duduk hingga menyender di tembok. Juan coba lakukan untuk sedikit menenangkan diri dan pikirannya dari rasa khawatir. Mengingat kondisi Amasya terlihat begitu lemah dengan darah yang terus mengucur dari bawah perutnya. Juan berharap tidak akan terjadi sesuatu yang buruk yang akan terjadi pada istri dan calon anaknya tersebut.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Juan dengan begitu paniknya.
"Kondisi istri bapak begitu buruk. Kandungannya sangat lemah. Mungkin kita hanya bisa menyelamatkan salah satunya saja. Kandungan istri bapak akan sangat menganggu kondisi dari istri Bapak. Hingga langkah yang mungkin harus kita lakukan adalah melakukan operasi kuret untuk mengeluarkan janin dalam kandungan istri Bapak. Sebab jika itu tidak segera di lakukan, bukan tidak mungkin akan terjadi sesuatu hal yang buruk." ucap dokter tersebut.
Tak hanya runtuh. Mungkin ini akan menjadi hari paling buruk bagi seorang Juan. Dia harus kehilangan calon bayi yang begitu dia tunggu. Juan seketika menangis hebat mendengar pernyataan dari dokter tersebut. Kehilangan buah hatinya yang masih dalam bentuk janin, tentu adalah hal yang tak bisa di bayangkan. Bagaimana Juan begitu merawat calon bayi dalam kandungan Amasya tersebut. Namun Tuhan berkehendak lain. Juan dan Amasya harus kehilangan bayi tersebut. Ikhlas hanya menjadi jalan satu-satunya yang harus di terima oleh Juan sebagai seorang ayah.
__ADS_1
Tidak ada pilihan lain yang harus di pilih oleh Juan. Akhirnya Juan menyetujui untuk operasi kuret yang akan di lakukan oleh Amasya. Mengingat sudah tidak ada harapan lagi bagi Amasya untuk mempertahankan kandungannya. Bayi tersebut cukup lemah. Hingga jalan satu-satunya adalah untuk melakukan operasi kuret.
Beberapa dokumen operasi segera di tandatangani oleh Juan. Dimana dokumen itu merupakan persetujuan dari Juan untuk operasi kuret yang akan di lakukan oleh Amasya. Tangis Juan tak henti menetes, bahkan membasahi kertas yang harus ditandatangani oleh Juan tersebut. Hingga Juan meminta maaf pada dokter yang sudah membasahi kertas persetujuan operasi tersebut.