
Baik Amasya, maupun Juan masih belum begitu mengantuk. Begitu Amasya mematikan lampu di kamar, baik Juan dan Amasya. Sama-sama tidak bisa langsung tertidur.
Keduanya seolah sulit untuk tertidur, padahal jam terus berputar menuju ke arah waktu malam yang semakin larut. Beberapa bunyi burung juga mulai terdengar nyaring. Menandakan aktivitas dari manusia yang semakin berkurang.
Juan mencoba memejamkan matanya. Tapi usahanya sia-sia, tetap saja otaknya tidak bisa beristirahat. Sehingga tidak bisa mengirimkan sinyal untuk segera istirahat pada seluruh tubuhnya.
Pun dengan Amasya, waktunya yang di habiskan dengan rebahan di atas sofa. Telah membuat Amasya tak merasakan lelah sedikit pun. Apalagi semua pekerjaan rumah sudah di pegang oleh Parni. Tugas mengurus ayahnya juga sudah di ambil alih oleh Darmi. Sehingga Amasya tidak harus capek untuk mengurus itu semua.
Juan membalikkan posisi tidurnya kearah Amasya. Dia melihat istrinya itu yang berusaha untuk tidur. Namun Amasya terlihat sulit untuk tidur.
"Kalau belum ngantuk, bagaimana pun usaha kita untuk tidur. Tidak akan pernah berhasil." Ucap Juan pada Amasya.
Amasya menoleh ke arah Juan.
"Kamu sendiri pasti susah tidur juga?" Duga Amasya.
"Kalau aku bisa tidur, mungkin aku akan tidur. Tapi rasanya sulit sekali untuk tidur. Entah kenapa aku begitu kesulitan untuk tidur di malam ini." Jawab Juan terus memandangi wajah Amasya.
"Biasanya dulu waktu aku kecil, ketika susah tidur. Aku di bacain dongeng sama mama aku. Senang rasanya mendengar cerita dongeng itu. Apalagi kalau dongeng si kancil. Rasanya gregetan sama tingkah dia yang cerdik." Ucap Amasya nostalgia.
"Itu buat anak cewek sih. Kalau aku masih kecil, biasanya suka di ajak main robot-robotan. Sehabis main, biasanya aku kelelahan. Habis itu langsung tidur deh." Balas Juan nostalgia juga.
__ADS_1
"Nanti kalau anak kita sudah lahir, kamu mau bacain dongeng atau ajak main robot-robotan kalau susah tidur?" Tanya Amasya membayangkan.
"Emmm, tergantung jenis kelaminnya. Kalau cowok, sudah pasti aku ajak main robot-robotan. Kalau perlu perang-perangan juga boleh. Biar jiwa cowoknya keluar. Tapi kalau cewek aku bakal bacain dongeng buat dia." Jawab Juan sambil memperagakan dirinya menjadi seorang ayah.
"Terus dongeng apa yang bakal kamu backan untuk anak kita nantinya?" Tanya Amasya kembali.
"Tentu dongeng yang masuk di akal. Aku lebih suka rasionalitas. Supaya anak kita nantinya jadi filsuf." Ucap Juan dengan penuh keyakinan.
Amasya langsung tersenyum, sambil mengelus lembut wajah Juan. Dia begitu bahagia memiliki suami seperti Juan yang bisa romantis, bisa humoris dan tentunya juga bisa menjadi seorang yang tegas dengan pemikirannya.
"Hari ini ada yang seru gak di kantor kamu?" Tanya Amasya pada Juan.
"Seru tidak ada, tapi kabar gembira ada." Jawab Juan dengan penuh semangat.
"Kantor aku akan membuka cabang baru." Ucap Juan dengan penuh semangat.
Amasya langsung tersenyum bahagia. Bagaimana tidak, ini adalah kabar gembira yang harus di syukuri. Sebuah peningkatan dari perusahaan suaminya tersebut. Amasya bahagia akan kabar yang di sampaikan oleh Juan kepadanya.
"Aku pikir ini akan semakin baik dan semakin baik lagi. Semoga perusahaan kamu akan semakin berkembang lagi sayang." Doa Amasya untuk Juan.
"Terima kasih sayang. Doa dari kamu semoga menjadi kenyataan. Aku berharap itu akan jadi kenyataan untuk perusahaan aku." Balas Juan.
__ADS_1
Amasya menatap lembut wajah suaminya. Juan berusaha mendekatkan wajahnya pada wajah Amasya, mencoba mencium wajah istrinya tersebut. Namun suara burung hantu yang terdengar dengan begitu nyaring. Seketika membuat Amasya ketakutan. Di tambah mitos yang Amasya percaya akan burung hantu. Hingga Amasya langsung ketakutan akan suara burung hantu tersebut. Amasya memeluk erat tubuh Juan.
"Kamu tahu Juan mitos tentang burung hantu?" Tanya Amasya di pelukan Juan dengan penuh ketakutan.
"Mitos apa?" Tanya balik Juan.
"Orangtua dulu percaya banget, jika ada burung hantu di sekitar rumah kita. Itu artinya mereka akan mencuri bayi dalam kandungan kita. Makanya si istri harus memeluk suaminya. Agar tidak di rebut oleh burung hantu." Ucap Amasya semakin erat memeluk Juan.
Juan tertawa dengan mitos yang diucapkan oleh Amasya. Tak percaya dengan sebuah tahayul yang di yakini oleh Amasya. Juan justru meledak Amasya yang ingin memeluk erat tubuhnya. Dengan dalil takut, Amasya berusaha memeluk kuat tubuh Juan.
"Aku pikir kamu bukan takut burung hantu itu. Tapi kamu takut kehilangan aku. Tenang sayang, aku tidak akan tergoda pada seekor burung hantu, apalagi kalau dia laki-laki." Guyon Juan pada Amasya.
Amasya seketika kesal dengan jawaban nyeleneh dari Juan. Dia melepaskan pelukannya dari Juan. Kemudian dengan segera membalikkan badannya dari Juan.
"Biarkan saja burung hantu itu curi bayi kita, biar kamu tahu rasa." Amuk Amasya sambil menggerutu.
Juan langsung kembali merayu Amasya. Dia meminta maaf atas sikapnya yang terlihat begitu cuek. Juan langsung memeluk tubuh Amasya dari belakang. Mengelus lembut perut Amasya yang mulai sedikit membesar.
"Maafkan aku sayang, aku tadi cuman bercanda saja. Aku sangat sayang banget sama bayi kita. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk padanya. Aku begitu mencintainya." Ucap Juan dengan begitu manisnya.
Amasya seketika tersenyum dengan ucapan dari Juan. Dia begitu bahagia Juan mengatakan hal itu kepadanya. Juan begitu romantis, hingga Amasya langsung luluh dengan kata-kata manis yang di lontarkan oleh Juan kepadanya.
__ADS_1
Juan langsung membalikkan tubuh Amasya, kemudian Juan langsung menciumi wajah Amasya. Seketika keduanya melakukan hubungan intim di malam itu. Hingga akhirnya, baik Juan dan Amasya mengantuk juga. Usai berhubungan badan.