Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
RENDI BERTEMU DENGAN RINI DAN JUAN


__ADS_3

Rendi yang mulai bosan dengan kehidupan kamar yang di habiskan dengan menyelami sosial media dan game online. Mencari sedikit hiburan di luar kamar. Mungkin berbincang dengan pak Adhi bisa menjadi opsi yang tepat bagi seorang Rendi. Mengingat pak Adhi sendiri terlihat begitu baik dan memiliki aura tersendiri dalam berdiskusi.


Rendi membuka pintu kamarnya yang sedari dia tutup. Dengan penuh kehati-hatian, Rendi kembali menutup pintu kamar tersebut. Lalu dengan segera dia keluar dari pintu kamarnya itu. Baru beberapa langkah dari pintu kamarnya. Rendi langsung di kejutkan dengan kedatangan dari seorang Amasya. Dengan sebuah piring berisi nasi dengan ayam goreng dan sambal. Amasya berniat memberikan makanan itu pada Rendi.


"Mau kemana kamu Ren?" Tanya Amasya.


"Itu Bu, saya mau ke tempatnya pak Adhi. Saya bosan di kamar terus." Jawab Rendi dengan sedikit malu-malu.


"Tapi kamu sudah makan?" Tanya Amasya kembali pada Rendi.


"Belum sih Bu." Jawab Rendi semakin malu-malu.


"Ya sudah, kamu makan dulu. Baru nanti kamu ke tempatnya pak Adhi." Pinta Nania memberikan sepiring nasi itu pada Rendi.


"Terima kasih Bu." Rendi menerima piring berisi nasi tersebut.


"Nanti kalau kamu mau minum, kamu ambil sendiri di dapur Ren." Pinta Amasya pada Rendi.


"Iya Bu, kebetulan saya bawa beberapa botol air minum. Jadi saya bisa minum air yang saya bawa itu." Ucap Rendi.


Amasya kembali ke dapur untuk menyiapkan makan malam bersama pembantu barunya itu. Sementara Rendi yang mulai tergiur dengan makanan yang di berikan oleh Amasya kepadanya. Langsung kembali masuk ke dalam kamar. Dia ingin mencicipi makanan yang di berikan Amasya kepadanya.


Rendi yang begitu kelaparan, hanya sekejap saja menghabiskan makanan yang di berikan oleh Amasya. Tentu itu menjadi menu yang Rendi rasa tidak cukup untuk dirinya. Mengingat Rendi masih cukup lapar. Perjalanan jauh yang Rendi jalani dari kampung halaman, hanya di isi oleh Rendi dengan sekali sarapan saja. Itu pun hanya dengan sepiring nasi uduk yang memiliki harga tujuh ribu rupiah saja. Tidak sebanding dengan perjalanan yang di lakukan oleh Rendi yang menempuh waktu kurang lebih sekitar 8 jam lebih.


Meskipun masih begitu lapar, setidaknya sepiring nasi yang di berikan Amasya kepada Rendi. Sudah cukup membuat cacing yang ada di perut Rendi berhenti demontrasi. Sedari tadi, cacing itu sudah cukup ingin merasakan sedikit serat dari makanan yang di makan oleh Rendi.

__ADS_1


Mungkin pak Adhi memiliki sedikit cemilan untuk semakin membuat perutnya lebih kenyang lagi. Gorengan biasanya menjadi teman sekuriti ketika berjaga, mengingat harganya yang murah. Juga cukup mengenyangkan perut. Sehingga sudah pasti menjadi menu untuk di nikmati ketika bertugas.


Rendi begitu kecewa, saat mendatangi pos tempat pak Adhi berjaga. Hanya ada sisa ampas kopi yang mengendap di gelas milik pak Adhi. Tidak ada gorengan yang diharapkan oleh Rendi. Hingga dia tidak mendapatkan makanan penutup yang begitu di butuhkan untuk cacing di perutnya.


"Ada apa kamu kesini?" Tanya pak Adhi yang sedang bermain handphone.


"Tidak pak. Saya cuman ingin membunuh rasa bosan saya saja." Jawab Rendi sambil terus mencari makanan di pos jaga pak Adhi.


"Tidak, tapi mata kamu jelalatan mencari sesuatu. Apa yang kamu cari?" Bentak pak Adhi dengan begitu kerasnya.


"Bapak tidak memiliki cemilan gitu. Saya lapar banget pak." Ucap Rendi dengan penuh harap.


"Kamu cari makan ke sini. Cari makan itu di warung atau warteg sana. Di sini tidak ada makanan. Hanya ada ampas kopi saja. Kamu mau?" Jawab pak Adhi dengan begitu sewotnya pada Rendi.


Mendengar ucapan dari pak Adhi, Rendi sedikit kecewa. Pasalnya kedatangan dia yang baik-baik. Di sambut pak Adhi dengan begitu kasarnya. Belum lagi kata-kata dari pak Adhi yang terdengar begitu sewot. Semakin membuat Rendi merasa tertekan. Hingga Rendi langsung memilih pergi meninggalkan pos jaga dari pak Adhi.


Rendi langsung menghampiri sahabat dekatnya itu. Kemudian Rendi langsung memeluk Rini. Keduanya begitu bahagia, dapat kembali bertemu. Rini menanyakan tubuh Rendi yang terlihat begitu kurus.


"Perasaan kamu sekarang begitu kurus Ren?" Tanya Rini.


"Gimana aku gak kurus. Aku setiap hari harus memikirkan hutang-hutang dari ibu aku. Sementara aku sendiri masih menganggur." Jawab Rendi dengan begitu kusutnya.


"Mudah-mudahan saja mas Juan mau menerima kamu jadi sopir yah Ren. Lumayan kalau kamu bisa di terima sama mas Juan. Kamu bakal ada sedikit pemasukan nantinya." Ucap Rini sambil menepuk pundak Rendi.


"Mudah-mudahan saja." Balas Rendi yang kembali bersemangat.

__ADS_1


Tak lama, mobil Juan datang ke rumah. Sehingga Rini langsung membawa Rendi ke tepian pintu gerbang rumah. Mengingat Juan akan memasukkan mobilnya ke dalam rumah.


Begitu Juan telah masuk ke dalam rumah. Rini langsung membawa Rendi ke hadapan Juan. Tentu Rini ingin memberikan beberapa pernyataan kuat yang bisa membuat Rendi di terima sebagai sopir pribadi seorang Juan. Mungkin dengan kata-kata manis yang Rini ucapkan. Nantinya Juan akan menerima Rendi sebagai sopir pribadinya.


Juan sendiri langsung di sambut oleh Amasya. Dia terlihat begitu lelah, usai pulang dari kantor. Bagaimana tidak, perjalanan yang cukup jauh dari kantor. Harus di tempuh Juan dengan berkendara sendiri. Hingga dia begitu kelelahan setiba di rumahnya.


Amasya langsung membawa tas kerja milik Juan. Mengajak suami tercintanya itu masuk ke dalam rumah. Dia begitu menunjukkan perhatian yang cukup besar pada Juan. Hingga Juan merasa begitu beruntung memiliki istri sebaik Amasya.


Amasya menyiapkan air hangat untuk Juan mandi. Begitu juga dengan handuk yang akan Juan kenakan. Amasya juga yang menyiapkan semuanya. Juan bak seorang raja yang mendapat perlakuan ekslusif dari seorang Amasya.


Sambil menunggu Amasya selesai menyiapkan perlengkapan mandinya. Juan melepaskan terlebih dahulu seragam yang dia kenakan. Di mulai dari sepatu, jas kantor hingga dasi panjang yang membuat udara panas terperangkap di dalam tubuhnya.


Begitu semua seragam kantornya dia lepaskan. Juan bersandar sejenak di atas sofa miliknya. Menyingkirkan terlebih dahulu rasa lelah yang mendekap tubuhnya. Sebelum bersiap untuk mandi dengan air yang telah Amasya siapkan untuk dirinya.


Baru akan memejamkan matanya. Juan langsung di kejutkan dengan kedatangan dari Rini bersama Rendi. Terlebih Rendi yang begitu asing bagi Juan.


"Selamat sore mas Juan." Sapa Rini berdiri di hadapan Juan.


"Sore Rin. Ini siapa?" Tanya Juan menunjuk ke arah Rendi.


"Ini Rendi mas. Dia yang aku rekomendasikan untuk menjadi sopir pribadi dari mas Juan." Jawab Rini dengan penuh semangat.


Sebelum mengobrol lebih jauh, Juan mempersilakan Rendi dan Rini untuk duduk terlebih dahulu. Baru setelah itu, beberapa pertanyaan di lontarkan oleh Juan pada Rendi. Di banding dengan pertanyaan seputar sopir yang sebenarnya menjadi tujuan dari Rendi datang ke rumah Juan. Juan justru banyak bertanya perihal background dari seorang Rendi. Menurut Juan itu penting, daripada sekedar sopir saja.


Begitu mengetahui background dari seorang Rendi. Juan pun mulai merasa iba. Hingga akhirnya Juan menerima Rendi sebagai sopir pribadi darinya. Namun dengan sedikit syarat utama, Rendi harus berkeliling Jakarta terlebih dahulu. Tujuannya jelas, untuk membuat Rendi tahu rute jalan yang akan di lewatinya nanti. Saat dia benar-benar telah resmi menjadi sopir pribadi seorang Juan.

__ADS_1


Rendi dengan sepenuh hati akan berkeliling Jakarta bersama Rini. Mencari alternatif jalan yang mungkin akan dia gunakan ketika menjadi sopir pribadi dari seorang Juan.


__ADS_2