
Sebuah gaun berwarna biru muda di kenakan oleh Amasya. Amasya meminta saran dari Juan, akan gaun yang di pakainya tersebut.
Bak seorang juri di ajang kontes kecantikan. Juan memperhatikan Amasya dari atas hingga bawah. Ekspresi wajah Juan juga terlihat begitu konyol. Bibirnya di majukan, dengan tangan kanan yang menahan dagunya. Juan terlihat seperti sesosok tulang lunak yang berpenampilan nyaris menyerupai perempuan.
Amasya yang langsung merasa jijik melihat gesture yang di tunjukkan oleh Juan. Seketika meminta Juan untuk tidak bergaya seperti itu. Apalagi Amasya sedang mengandung, tentu itu bukan contoh yang bagus untuk di lihat. Berulang kali Amasya mengucapkan kata amit-amit saat Julien's bergaya layaknya perempuan.
Juan yang sedang mengenakan sebuah kemeja berwarna senada dengan Amasya. Akhirnya memberikan penilaian akan penampilan Amasya di sore ini. Menurut Juan, penampilan Amasya seperti seorang bidadari. Mungkin Amasya lebih dari bidadari.
Amasya begitu bahagia dengan sanjungan yang di berikan Juan kepada dirinya. Mungkin ini sanjungan yang paling tinggi yang Amasya dapatkan. Lebih cantik dari bidadari. Tentu sanjungan yang membuat Amasya serasa menjadi ratu di kerajaan bidadari.
Ketika Amasya sudah cukup rapi dengan gaun yang telah di kenakan olehnya. Kini giliran Amasya merapikan pakaian sang suami. Juan yang terlihat begitu berantakan, langsung menjadi pusat perhatian bagi seorang Amasya.
Dengan penuh perhatian, Amasya mengancingkan satu persatu kancing di kemeja Juan. Tak hanya itu, Amasya juga menyisir rambut Juan, hingga terlihat begitu rapi. Sebelum Juan mengajak Amasya sejenak untuk berdansa.
Juan dan Amasya sudah siap untuk datang ke tempat pernikahan salah seorang saudara Amasya. Ingin menghabiskan waktu berduaan dengan Amasya. Juan meminta Rendi untuk mengantar dirinya dan Amasya ke tempat resepsi tersebut. Mengingat jarak yang cukup jauh, di butuhkan waktu yang cukup lama juga dalam perjalanan menuju tempat resepsi.
Tak hanya Amasya saja yang di undang. Ratna dan Devi juga turut di undang oleh saudara Amasya tersebut. Tak seperti Amasya yang tak begitu heboh memilih baju. Ratna yang mengalami puber kedua, berdandan dengan begitu menor. Hingga wajahnya begitu putih oleh bedak yang di pakainya.
Tak seperti ibunya, Devi yang mengajak Aris untuk kondangan bersama dengan dirinya. Tampil dengan penampilan yang sederhana. Hanya menggunakan sebuah kebaya songket. Devi terlihat semakin mempesona dengan make up tipisnya.
Aris yang di ajak Devi pergi bersama dengan dirinya. Juga tampil dengan begitu gagahnya. Sebuah jas berwarna hitam, menutupi kemeja berwarna merah yang di kenakan olehnya. Dasi kupu-kupu berwarna hitam, semakin membuat Aris terlihat tampan. Aris benar-benar terlihat mempesona.
Ratna yang lebih dulu pergi keluar rumah, menjadi orang pertama di rumah Devi yang melihat betapa tampannya seorang Aris. Ratna dengan genitnya, mencoba menggoda Aris yang terlihat begitu malu-malu.
__ADS_1
"Kamu siapa?" tanya Ratna penasaran.
"Hallo Tante. Saya Aris, dokter baru di klinik dokter Devi." jawab Aris menyalami tangan Aris.
"Oh jadi kamu yang namanya Aris itu. Perkenalkan, nama Tante Ratna. Kamu boleh panggil Tante dengan panggilan Tante Ratna. Tante adalah ibu dari Devi." Jelas Ratna semakin genit.
Ratna yang mencoba melancarkan aksi genitnya pada Aris. Langsung di cegah oleh Devi. Devi meminta Ratna untuk tidak genit pada Aris. Mengingat jarak umur yang jauh antara Ratna dengan Aris. Sehingga tidak pantas bagi Ratna untuk genit seperti itu pada Aris.
Sedikit kesal dengan ucapan dari Devi. Tapi apa yang Devi ucapkan memang sebuah kenyataan. Hingga Ratna akhirnya menerima apa yang Devi ucapkan kepada dirinya.
Aris di minta Devi untuk membawa mobil miliknya. Devi sendiri duduk di samping Aris. Sedangkan Ratna duduk di bangku belakang mobil Devi. Devi meminta Ratna untuk tidak menggoda Aris kembali. Jika itu di lakukan oleh Ratna, Devi tak segan-segan untuk menurunkan Ratna di jalan.
Takut dengan ancaman dari Devi kepada dirinya. Akhirnya Ratna mengunci mulutnya untuk tidak menggoda seorang Devi. Mengingat Ratna tak ingin Devi menurunkan dirinya di jalanan. Ratna cukup menikmati saja wajah tampan Aris dari spion mobil Devi. Dari sana Ratna bisa melihat bagaimana tampan dan kalemnya Aris.
Sepanjang perjalanan menuju tempat resepsi itu. Devi terus melancarkan aksinya untuk terus mendapatkan cinta seorang Aris. Mungkin ini kesempatan emas bagi seorang Devi untuk mendapatkan perhatian lebih dari Aris. Mengingat Devi dan Aris memiliki shift yang berbeda.
Sebenarnya Aris sendiri tidak nyaman dengan apa yang di lakukan oleh Devi. Tapi Devi adalah bos dari Aris. Tentu akan sangat tidak enak bagi Aris yang beru seminggu bekerja. Sudah menolak permintaan dari Devi. Walaupun ini bukan ranah pekerjaan. Tapi tetap saja Aris merasa sesuatu yang tidak enak. Bila Aris menolak permintaan dari Devi kepada dirinya.
Amasya yang berangkat lebih awal di banding rombongan Devi. Tiba di acara resepsi lebih dulu. Amasya langsung menemui sepupunya yang terlihat begitu bahagia. Tak lupa Amasya mengucapkan selamat atas pernikahan dari sepupunya tersebut.
Amasya yang sedang hamil muda, juga mendapatkan ucapan selamat dari sepupunya yang menikah tersebut. Dia begitu senang mendengar kabar kehamilan dari Amasya. Sepupu Amasya itu berharap, dia juga akan secepatnya mendapatkan momongan seperti Amasya. Doa yang langsung di sambut kata Amin oleh Juan dan Amasya.
Tak berselang lama, rombongan dari Devi tiba juga di tempat resepsi. Devi langsung terlihat kesal, saat melihat Amasya dan Juan yang berada di panggung resepsi. Terlebih saat Devi mendengar kata hamil. Rasanya Devi ingin menampar wajah Amasya yang sedang hamil muda. Dia seolah tak menghargai Devi yang di diagnosa tidak bisa hamil.
__ADS_1
Devi berusaha tegar, dia yang menggandeng Aris menuju ke tempat resepsi berjalan dengan begitu penuh percaya diri. Mungkin Devi belum menikah, tapi Devi sudah memiliki calon suami yang tak kalah tampan dari Juan.
"Selamat Vi atas pernikahannya." ucap Devi semakin erat menggandeng Aris.
"Terima kasih Devi. Sudah lama kita tidak bertemu. Senang bisa bertemu dengan kamu lagi. Ini pasti calon kamu." balas sepupu Amasya.
Devi melirik ke arah Amasya. Kemudian dengan penuh percaya diri memperkenalkan Aris sebagai calon suami darinya.
"Iya, ini adalah calon suamiku. Calon dokter muda yang berprestasi." ucap Devi dengan tegas.
Aris langsung terkejut dengan ucapan dari Devi. Dia tak menyangka Devi akan mengucapkan kata itu. Tapi tidak masalah juga. Namun dia merasa tidak layak saja untuk di sebut sebagai dokter berprestasi. Sebab dia baru terjun ke dunia kedokteran.
Juan yang tak ingin berurusan dengan Devi dan Ratna. Mengajak Amasya untuk turun dari panggung resepsi. Dia tak ingin terjadi keributan yang mungkin saja akan di timbulkan oleh Devi.
Namun baru akan turun, Devi sudah menyindir Amasya dengan ucapan jahatnya. Dia sengaja mengatakan bahwa Amasya mengubur mimpinya untuk menjadi seorang guru demi menjadi budak seorang suaminya. Tentu kata-kata kotor yang diucapkan oleh Devi pada Amasya, memancing emosi dari Juan. Juan yang sempat akan turun. Langsung menghampiri Devi. Lalu menampar wajah Devi dengan begitu kerasnya.
"Kamu dengar baik-baik perempuan licik. Amasya tidak pernah mengubur mimpinya untuk menjadi guru. Tapi kamu yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu yang kamu inginkan. Hingga kamu memeras orang lain untuk mendapatkan sebuah klinik." Bentak Juan.
Pada tamu undangan begitu terkejut dengan amarah dari seorang Juan. Mereka terkejut Juan akan semarah itu pada Devi. Juan yang di kenal humoris dan kalem. Tidak pernah menunjukkan raut wajah marah seperti itu. Tapi mungkin apa yang Devi ucapkan pada Juan sudah cukup menyakitkan. Hingga Juan tidak bisa lagi menahan emosinya. Akhirnya Juan pun menampar Devi di hadapan semua orang.
Devi yang tak terima, langsung membalas ucapan Juan dengan kata-kata kotor lainnya. Mengatakan jika Amasya pernah tidur dengan mantan kepala sekolah. Hingga Amasya bisa di terima sebagai seorang guru, padahal usia Amasya saat itu masih muda.
Ucapan dari Devi itu tak hanya semakin membuat Juan marah. Tapi juga cukup melukai hati Amasya. Pasalnya Devi melakukan fitnah besar pada seorang Amasya. Padahal Amasya tidak pernah menyindir Devi, apalagi memfitnah Devi.
__ADS_1
Amasya yang begitu sedih dengan ucapan dari Devi. Langsung pergi dari tempat resepsi. Dia ingin sekedar menenangkan diri dari apa yang telah Devi ucapkan kepada dirinya.
Juan mencoba mengejar Amasya. Menenangkan Amasya yang begitu bersedih. Dia memeluk tubuh istrinya, berulang kali mencium keningnya. Mungkin itu yang bisa di lakukan oleh Juan untuk membuat Amasya semakin kuat lagi. Mengingat Amasya tidak seburuk yang Devi katakan. Juan tidak mempercayai ucapan kotor dari Devi tersebut. Hingga Amasya tidak harus bersedih hati.