
Ini pertemuan secara langsung kembali yang di lakukan oleh Parni dengan Devi. Parni dengan pakaian yang cukup sederhana, mendatangi sebuah kafe yang menjadi tempat pertemuan antara dirinya dengan Devi. Di pertemuan dengan Devi itu, Parni berharap Devi memberikan dirinya uang. Sebab Parni di ajak jalan oleh seorang berondong tampan yang baru dia kenal dari jejaring sosial media.
Parni yang lebih dulu sampai di kafe tersebut. Langsung memesan beberapa makanan yang baginya cukup untuk mengganjal perutnya yang kosong. Tak hanya makanan saja, Parni juga memesan dua gelas minuman bersoda untuk dirinya. Parni yang merasakan sedikit kurang nyaman dengan perutnya. Memilih untuk membeli minuman bersoda untuk memulihkan kembali kondisi perutnya yang terasa kembung.
Devi yang masih belum tiba juga di kafe. Ada sedikit rasa ketakutan dari dalam diri Parni. Pasalnya Parni telah memesan beberapa menu untuk dirinya. Jika Devi tidak datang, lantas siapa yang akan membayar menu makanan tersebut. Apalagi menu makanan yang Parni pesan cukup mahal. Dia khawatir Devi tidak datang menemui dirinya.
Kekhawatiran dari Parni, nyatanya tidak terbukti. Devi yang di khawatirkan tidak akan datang ke kafe tersebut. Akhirnya menunjukkan batang hidungnya. Dengan sebuah blazer berwarna biru muda. Devi terlihat begitu cantik di malam ini. Parni yang panik pun, akhirnya tersenyum lebar dengan kedatangan dari seorang Devi yang sedikit telat tersebut.
Parni langsung menyapa Devi dengan begitu ramahnya. Sedikit menjilat, Parni mengeluarkan kata-kata yang mungkin terdengar menjilat. Hingga Devi meminta Parni untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang terdengar tidak nyaman di telinga Devi tersebut.
Tak berselang lama, semua makanan pesanan dan minuman dari Parni berdatangan. Tidak hanya satu atau dua menu saja. Parni memesan enam menu makanan yang langsung membuat meja makan itu di penuhi oleh makanan yang di pesan oleh Parni.
Sialnya dari 6 menu yang di pesan oleh Parni, tidak ada satu pun menu yang di sukai oleh Devi. Sehingga semua menua itu khusus untuk Parni. Sementara Devi terpaksa harus memesan menu lain yang mungkin ingin memuaskan perutnya.
Sebelum pelayan itu kembali pergi, Devi yang sebenarnya lapar juga. Akhirnya memesan menu steak dengan kentang goreng serta jus anggur yang segar. Parni yang sudah memesan 6 menu, kembali mencoba memesan menu lainnya saat Devi masih memesan menu tersebut. Namun Devi yang tidak ingin semakin banyak membayar tagihan, langsung menegur Parni. Dia meminta Parni untuk menyudahi pesanan dari dirinya. Enam menu rasanya sudah cukup banyak, sehingga Parni tidak harus memesan lagi menu makanan tersebut.
Parni menuruti perintah dari seorang Devi. Dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk kembali memesan menu makanan yang ada. Padahal Parni sendiri ingin memesan menu makanan lain yang bisa semakin membuat perutnya kenyang. Tapi penolakan dari Devi, jelas harus di turuti. Sebab Devi adalah orang yang akan membayar semua menu yang di pesan oleh Parni. Menu-menu mahal yang menguras kantong celana dari seorang Devi.
__ADS_1
Ketika Devi masih menunggu pesanan makanan yang dia pesan datang. Parni justru mulai menyantap menu makanannya satu persatu. Dia terlihat begitu lahap menyantap menu makanan tersebut. Apalagi saat dia menyantap ayam bakar yang ada. Parni begitu terlihat lahap menyantap ayam bakar tersebut. Hingga Devi merasa risih dengan cara makan Parni yang terlihat kampungan..
"Kamu bisa makan lebih baik lagi?" Tanya Devi dengan wajah jijiknya.
"Maksud Bu Devi apa?" Tanya balik Parni.
"Kita makan di kafe, kamu harus makan sesuai dengan standar yang ada. Tidak seperti itu. Kamu gunakan sendok, garpu dan pisaunya. Tidak dengan tangan seperti itu." Pinta Devi dengan tegas tegasnya.
Parni yang awalnya menggunakan tangan untuk menyantap ayam bakar miliknya. Akhirnya terpaksa harus menggunakan peralatan makan seperti sendok dan garpu. Padahal bagi Parni lebih enak makan tanpa menggunakan peralatan makan. Sebab tangan Parni juga cukup higenis. Sehingga tidak mungkin ada kuman yang menempel di tangannya.
"Kenapa lama banget yah mbak. Untuk satu pesanan saja selama ini. Apalagi kalau saya pesan banyak menu." Ucap Devi sambil menggerutu.
"Iya maaf kak, kami sedang kekurangan staf kitchen. Sehingga ada sedikit masalah dalam proses waktunya." Jawab pelayan tersebut.
"Saya tidak peduli. Terpenting seharusnya makanan itu di buat secepat mungkin. Tidak selama ini." Ucap Devi kembali semakin marah.
Manajer kafe tersebut lantas menghampiri meja Devi. Apalagi melihat salah seorang pelayan di kafe itu dimarahi oleh Devi secara membabi buta.
__ADS_1
"Maaf ka, ada yang bisa saya bantu?" Tanya manajer restoran tersebut.
"Saya ingin protes. Kenapa makanan yang saya pesan lama sekali. Saya dari tadi menunggu makanan tersebut. Tapi kenapa keluarnya lama sekali." Bentak Devi.
"Maaf kak, proses pemasakan daging itu cukup lama. Apalagi kakak memesan steak dengan well done. Sudah pasti proses pemasakan dari steak itu cukup lama. Belum lagi ada beberapa staf kitchen yang sakit. Sehingga kami kekurangan orang di dapur. Jadi hal yang wajar dengan waktu yang ada. Kalau menurut Kakak prosesnya terlalu lama. Saya mewakili kafe ini, mengucapkan maaf yang sebesarnya. Mungkin di lain kesempatan, kami akan lebih baik dan cepat lagi dalam proses pemasakannya." Terang manajer kafe tersebut.
Mendengar penjelasan dari manajer kafe tersebut. Akhirnya Devi pun menerima penjelasan tersebut. Devi menerima semua pemaparan yang di sampaikan oleh manajer kafe itu. Walaupun dia masih terlihat kecewa dengan makanan yang datang begitu lama.
"Enak yah kalau makan di kafe elit, pelanggan itu seperti raja. Padahal memang proses masak steak itu yang lama." Ucap Parni.
"Tamu adalah raja." Lanjut Devi yang mulai menyantap makanannya.
Obrolan dari seorang Parni dan Devi baru di mulai di pertengahan makan malam. Dimana Devi mulai menanyakan rencana apalagi yang sedang di susun oleh Parni untuk membuat Amasya tidak hamil.
Namun Parni yang seorang eksekutor, tidak memiliki rencana apapun. Dia hanya menerima perintah saja. Sementara Devi yang membuat skenario dalam membuat Amasya tidak hamil lagi. Devi adalah sutradara dalam rencana besar tersebut. Sementara Parni adalah aktor yang menjalankan setiap arahan yang di berikan oleh Devi. Parni menjalankan setiap tugas dari Devi sebaik mungkin. Hingga rencana itu berjalan dengan begitu baiknya. Sesuai dengan rencana yang ada.
Devi ingin Parni memasak makanan yang tidak sehat untuk Amasya. Parni di minta oleh Devi untuk membuat masakan seperti gorengan yang memiliki tinggi lemak. Dengan makanan tersebut. Kesehatan Amasya tentu akan sedikit terganggu, sehingga dia akan semakin kesulitan untuk hamil kembali.
__ADS_1