
Devi menghadiri undangan polisi dalam pemberian keterangan akan klinik yang terbakar di hari kemarin. Ditemani oleh Ratna, Devi memberikan keterangan sesuai kapasitas yang dimilikinya.
Selain meminta keterangan dari Devi. Pihak kepolisian juga memberikan beberapa informasi akan temuan yang mereka dapatkan. Beberapa ditemukan mengarah pada pembakaran yang disengaja. Terlebih keterangan dari salah seorang pekerja bangunan yang jatuh pingsan. Semakin menguatkan dugaan klinik itu di bakar oleh seseorang. Bukan tanpa kesengajaan.
Kecurigaan Devi pada Amasya dan Juan semakin kuat. Hatinya berkata demikian, walaupun dengan tegas Amasya dan Juan menolak segala praduga yang Devi tuduhkan kepadanya mereka berdua. Namun Devi masih kekeh akan pelaku dari pembakaran itu, yang tak lain dan tak bukan adalah Amasya.
Devi berharap polisi bisa segera mengungkap dalang dari pembakaran dari klinik miliknya. Devi ingin membalaskan dendam, jika tahu seseorang yang berusaha menghancurkan lini usaha yang baru dirintis olehnya.
Selepas pulang dari kantor polisi. Devi kembali mendatangi kliniknya yang terbakar. Seharusnya hari ini klinik Devi resmi beroperasi. Melayani beberapa pasien yang hendak berkonsultasi kepadanya. Namun semuanya lenyap begitu saja. Nasib malang menghantam klinik miliknya. Seseorang dengan sengaja membakar klinik itu. Tanpa diketahui tujuan dari pembakaran itu. Tetapi Devi siap membalas dendam pada siapa saja yang telah membakar klinik miliknya. Termasuk Amasya dan Juan, jika pihak kepolisian mengatakan demikian.
__ADS_1
Berat rasanya untuk Devi meninggalkan tempat kejadian perkara. Devi memasuki area yang sebenarnya sudah diberikan garis polisi untuk tidak dimasuki. Tetapi dirinya ingin melihat berapa kerugian yang bisa ia taksir dalam kebakaran yang terjadi.
Tak hanya Devi, Alvin yang baru mengetahui klinik milik Devi terbakar dari sebuah media. Langsung mendatangi lokasi kebakaran tersebut. Kebetulan saat itu Devi dan Ratna sedang berada disana. Hingga Alvin dapat bertemu dengan keduanya.
"Devi, Ratna.. Kalian kenapa masuk kedalam sana. Sudah jelas jangan dimasuki. Tapi kenapa kalian masih bandel untuk masuk kedalam sana. Itu bahaya untuk kalian berdua." Teriak Alvin tak tepat di garis polisi.
"Ayah gak usah banyak ngomong. Bukannya ayah senang dengan peristiwa ini. Harusnya ayah tertawa melihat klinik aku ini hancur." Devi mengomel dengan begitu marahnya.
"Astaghfirullah... Kenapa kamu berbicara seperti itu Devi?" Alvin mencoba sedikit menenangkan dirinya.
__ADS_1
"Semua suka cita yang ayah berikan hanya omong kosong belaka. Ayah senang dengan semua ini. Ayah pasti bersekongkol dengan Amasya dan Juan untuk membakar klinik aku ini." Tuduh Devi pada Alvin.
"Kenapa kamu memfitnah ayah seperti itu Devi."
"Karena ayah memang tidak pernah adil untuk aku. Ayah selalu pilih kasih pada aku. Makanya aku yakin ayah juga bersekongkol dengan Amasya dan Juan untuk menjatuhkan aku." Terang Devi dengan tegasnya.
Statemen dari Devi semakin ditambah oleh ucapan dari Ratna. Keduanya semakin menyudutkan Alvin dengan praduga yang dilakukan oleh Devi. Sementara Alvin hanya bisa bertahan dengan kebenaran yang ada. Meskipun Devi terus mengatakan jika Alvin adalah pelaku dari pembakaran tersebut. Tentu dengan Juan dan Amasya.
Devi dan Ratna meninggalkan Alvin sendirian. Keduanya tak memperdulikan rasa sakit yang dirasakan oleh Alvin. Berdasarkan kebencian keduanya pada Amasya. Keduanya tetap berkeyakinan jika Amasya dan Juan, serta dibantu oleh Alvin menjadi dalang utama pembakaran Klinik miliknya.
__ADS_1