
Setibanya di rumah, akhirnya Juan dapat kembali bersuara. Dia mengucap rasa syukur atas perjalanan yang telah dia lakukan dengan selamat sampai di rumah. Juan sangat bersyukur bisa selamat dalam perjalanan yang panjang tersebut. Tak lupa dia juga mengucapkan terima kasih pada Rendi.
Sebelum turun dari dalam mobilnya. Juan yang tidak ingin Amasya khawatir dengan air matanya. Mengelap terlebih dahulu air mata yang sedari tadi menetes dengan deras dari kedua matanya. Juan harus bisa bersikap sebaik mungkin di depan Amasya dan keluarganya yang lain. Juan harus bisa, walaupun masih ada kesedihan di dalam hatinya. Atas ulah dari seorang Devi yang begitu jahat tersebut.
Baru masuk kedalam rumahnya. Juan terkejut dengan mertuanya yang kini sudah mulai bisa kembali bicara. Ini sebuah kabar yang membahagiakan bagi seorang Juan. Dia akhirnya bisa berbincang banyak hal tentang bisnis. Dengan kesembuhan dari Alvin. Juan langsung memeluk erat tubuh Alvin.
Juan lalu meminta semua orang yang ada di rumahnya untuk berkumpul di ruang tamu. Juan ingin menyampaikan sesuatu pada semua orang yang ada di rumahnya.
Satu persatu penghuni rumah Juan datang ke ruang tamu. Mereka begitu antusias untuk mendengar apa yang di bawa oleh Juan. Sebuah kabar menarik yang ingin Juan sampaikan pada semu orang yang ada di rumahnya.
Hanya ada satu orang yang tidak ada di ruang tamu tersebut. Kehadiran Parni menjadi sorotan tersendiri bagi Juan. Sebab gerak-gerik Parni yang mencurigakan, membuat Juan sempat berprasangka buruk terhadap Parni. Apalagi Parni kerap bertemu dengan Devi.
"Kemana Parni?" tanya Juan.
"Dia tadi pergi menemui pacarnya sayang." jawab Amasya.
"Bukan menemui Devi?" tanya Juan kembali.
"Aku juga curiga demikian. Apalagi ketika ayah bilang, jika Parni kerap melakukan panggilan telepon dengan Devi. Parni juga bersikap kasar pada ayah dan mbok Darmi." jawab Amasya kembali.
Juan yang awalnya mulai tegar, tiba-tiba kembali bersedih saat mengingat kembali apa yang terjadi pada hidupnya. Bagi Juan ini adalah pukulan paling menyakitkan dalam hidup Juan. Hingga dia pun tidak bisa membayangkan betapa sakitnya Juan atas peristiwa tersebut.
Amasya yang duduk di samping Juan, mencoba menenangkan Juan yang terlihat semakin bersedih. Dia mengelus pundak Juan, sebelum memberikan senyum manis dirinya pada seorang Juan. Amasya ingin Juan kembali tersenyum lagi. Seperti sediakala.
__ADS_1
"Ada apa sayang, kenapa kamu menangis seperti ini?" tanya Amasya dengan begitu penasarannya.
Juan memegang tangan Amasya yang ada di pundaknya. Dia mengelus lembut, sebelum menatap wajah Amasya dengan penuh kesedihan.
"Apa kamu ingin mengetahui hal yang paling buruk dalam hidup kita ini?" tanya Juan.
"Kenapa tidak!" jawab Amasya.
"Ternyata keguguran yang kamu alami di sebabkan oleh Devi. Devi mencampur makanan untuk kamu dengan obat penggugur kandungan." ujar Juan menahan air matanya.
Tak hanya Amasya yang terkejut dengan ucapan dari Juan tersebut. Tapi hampir semua orang yang ada di ruang tamu tersebut terkejut dengan ucapan dari Juan. Amasya yang tak menyangka dengan perbuatan adik tirinya tersebut. Hanya bisa menangis mendengar kabar yang Juan bawa. Dia benar-benar tidak menyangka Devi akan melakukan tindakan yang jahat tersebut pada Amasya. Selama ini Amasya begitu baik pada Devi. Tapi Devi justru melakukan tindakan yang cukup jahat pada seorang Amasya. Air susu yang di balas air tuba.
"Mas Juan tahu dari mana, jika yang melakukan itu adalah mbak Devi?" tanya Darmi.
"Kamu harus segera memproses hukum orang-orang yang terlibat. Itu kriminal berat Juan. Ayah siap membantu kamu dalam memproses anak itu." ujar Alvin dengan begitu emosional.
"Aku setuju, perempuan itu memang jahat. Prince memiliki seorang pengacara handal. Mungkin aku akan meminta bantuan dari dia untuk memproses perempuan jahat tersebut." balas Rini dengan wajah kesal juga.
"Iya yah. Aku siap memproses perempuan jahat tersebut. Jika memang pengacara teman kamu itu memang kompeten. Kamu bisa rekomendasikan pada mas Rini." ujar Juan masih emosi.
Amasya tak henti menangis, hingga mbok Darmi pun mencoba menenangkan Amasya dengan upayanya. Dia tidak tega melihat kesedihan dari seorang Amasya atas ulah dari adik tirinya tersebut. Mbok Darmi meminta Amasya untuk lebih bersabar lagi. Mungkin ini adalah ujian yang harus di terima oleh Amasya. Sehingga Amasya harus mendapatkan ujian yang cukup berat tersebut.
"Aku rasa, banyak pelakunya. Bukan hanya Devi saja. Mungkin saja ada orang dalam yang telah mencampur obat itu pada makanan Amasya. Kecurigaanku pada seorang Parni. Sebab dia yang memasak makanan untuk Amasya. Sialnya aku tidak memasang CCTV di dapur. Hingga tidak ada bukti kuat bagiku untuk menjerat Parni juga." ucap Juan yang masih terlihat emosi.
__ADS_1
Tak lama Parni yang menjadi sosok terduga oleh Juan. Datang dengan sebuah botol kecil yang ada di saku baju tidurnya. Botol kecil itu terlihat menonjol dari saku baju tidur Parni yang tipis.
Ketika Parni ingin pergi dari ruang tamu tersebut. Juan meminta Parni untuk duduk bersama yang lainnya di sofa ruang tamu. Juan ingin sedikit berbincang dengan Parni yang di duga bersekutu dengan seorang Devi.
"Ada apa pak Juan?" tanya Parni dengan grogi.
"Kamu habis dari mana?" tanya balik Juan.
"Saya habis ketemu pacar saya." jawab Parni gugup.
Juan melihat botol yang menonjol dari saku baju tidur Parni. Jua pun langsung penasaran dengan botol kecil yang berisi racun tersebut.
"Apa yang ada di saku baju kamu tersebut?" tanya Juan penasaran.
"Ini adalah obat batu, pak." jawab Parni semakin terlihat gugup.
"Kamu batuk Par. Sejak kapan kamu batuk?" ucap Darmi dengan pertanyaan menukik.
Parni pun begitu kesal saat Darmi tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang cukup menukik pada dirinya. Memang Parni tidak batuk, sehingga heran saja jika Parni membeli obat batuk tersebut.
"Boleh saya lihat obat batuk kamu tersebut?" Pinta Juan pada Parni.
Parni langsung panik dengan permintaan dari Juan tersebut. Tentu Juan akan tahu jika yang ada di dalam botol tersebut, bukanlah obat batuk. Melainkan sebuah racun yang akan di gunakan Parni untuk meracuni Alvin.
__ADS_1
Parni dengan gerakan lambat, mulai merogoh saku bajunya. Untung saja, sebelum Parni memberikan botol kecil tersebut. Amasya secara tiba-tiba pingsan. Hingga Parni tidak harus memberikan botol itu pada Juan. Sebab fokus Juan langsung terbagi dengan Amasya yang tiba-tiba pingsan.