
Sepertinya memakan soto di kantin rumah sakit cukup lezat. Mungkin itu bisa dilakukan Amasya dengan Alvin disana. Terlebih Alvin ingin berbicara serius pada. Entah apa yang ingin Alvin bicarakan pada Amasya. Hingga dia meminta Amasya untuk mendengarkan dirinya berbicara serius tersebut.
Tiba di kantin, Alvin langsung mendatangi sebuah toko yang menjual soto ayam. Sementara itu, Amasya diminta untuk menunggu di bangku panjang bersama pengunjung lainnya.
"Bu sotonya dua yah. Teh manis hangat juga dua." Alvin memesan makanan dan minuman pada ibu kantin.
Alvin duduk berhadapan dengan Amasya di bangku panjang. Sebelum ke pokok pembahasan yang akan dibicarakan oleh Alvin. Alvin mengajak Amasya berbincang terlebih dahulu perihal kehamilan yang sedang dihadapinya. Kehamilan yang tentunya menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Amasya.
"Gimana kehamilan kamu sekarang sayang?" Tanya Alvin memulai pembicaraan.
"Alhamdulillah berjalan lancar ayah. Sekarang tidak kerasa sudah 1 bulan saja. Menunggu 8 bulan lagi menuju proses persalinan." Jawab Amasya dengan begitu bahagia.
"Alhamdulillah. Ayah sudah tidak sabar untuk melihat cucu pertama ayah ini lahir. Kalau perempuan, tentu akan secantik kamu. Jika cucu ayah ini laki-laki, sudah pasti setampan Juan." Doa Alvin untuk Amasya.
"Amin ayah." Jawab Amasya singkat.
Percakapan singkat itu terhenti, setelah pedagang soto itu membawa pesanan dari Alvin. Dua mangkok soto ayam yang masih panas. Serta dua gelas teh manis hangat, menjadi menu yang di pesan oleh Alvin. Menu itu langsung menggugah selera Alvin dan Amasya begitu mencium aroma dari soto yang ada dihadapannya.
__ADS_1
"Kalau lihat soto dengan tampilan seperti ini. Aku jadi ingat ibu. Dulu ibu sering banget buatin kita soto. Apalagi pas musim hujan. Soto ibu selalu di tunggu ketika malam tiba." Teringat Amasya.
"Benar sayang. Dulu ibu kamu sering banget masak soto seperti ini. Soto lezat yang terhidang ketika musim hujan tiba." Lanjut Alvin yang mulai mengaduk soto dengan sebuah sendok miliknya.
Amasya dan Alvin pun mulai mencicipi rasa soto itu terlebih dahulu. Rasa soto yang autentik, kembali mengingatkan Amasya akan masakan ibunya terdahulu. Tak jauh beda dengan rasa soto buatan ibunya. Rasa kuah soto itu begitu gurih nan sedap begitu masuk kedalam mulut Amasya. Rasanya begitu nikmat dan juara.
Begitu juga dengan Alvin. Bawang goreng yang dahulu sering Alvin jadikan cemilan, terkadang membuat almarhumah istrinya marah. Pasalnya bawang goreng tersebut memang digunakan untuk garnis soto yang dibuatnya. Tanpa bawang goreng itu, tentu rasa soto itu tidak akan selezat yang dibayangkan.
Tanpa disadari, Amasya dan Alvin sudah hampir menghabiskan semangkuk soto ayam tersebut. Terlebih Amasya yang tak henti menyuap soto ayam tersebut kedalam mulutnya. Soto itu benar-benar membuatnya kembali bernostalgia ke zaman, dimana ibunya masih hidup. Hingga Amasya begitu menikmati setiap rasa soto yang masuk kedalam mulutnya.
"Jadi ayah ingin membicarakan hal penting apa kepada Amasya?"
"Ayah ingin meminta pendapat kamu Amasya." Jawab Alvin terlihat begitu lesuh.
"Pendapat dalam hal apa ayah?" Tanya Amasya kembali.
"Ayah ingin bercerai dengan ibu tiri kamu." Jawab Alvin dengan begitu seriusnya.
__ADS_1
"Apa ayah! Bercerai?" Amasya terkejut hebat.
"Ayah pikir, ibu tiri kamu sudah tidak bisa lagi diatur oleh ayah. Dia tidak menghargai ayah sebagai seorang suaminya. Beberapa keputusan dalam keluarga, selalu didominasi olehnya. Sementara ayah ini kepala keluarga disana. Jadi sudah seharusnya ibu tiri kamu dapat menerima saran dari ayah." Jelas Alvin secara detail.
"Tapi ayah harus berpikir ulang. Diumur ayah yang semakin tua ini. Ayah masih butuh teman untuk bercerita. Amasya memang masih ada, tapi waktu Amasya tentu akan terbatas untuk ayah." Terang Amasya.
"Ayah pun berpikir demikian Amasya. Tapi kejahatan dari Ratna dan Devi, sudah tidak bisa ayah tolerir lagi. Apalagi setelah ayah tahu Ratna yang melumuri minyak di anak tangga itu. Ayah semakin yakin untuk bercerai dari ibu tiri kamu itu." Jelas Alvin dengan penuh keyakinan.
"Darimana ayah tahu jika mama yang melakukan semua itu?" Tanya Amasya.
"Tadi ayah diam-diam mengirimkan pesan pada Rio. Ayah minta Rio check di kamar mama kamu. Ternyata benar, ada jirigen minyak di kamar mama kamu. Pertanyaannya, buat apa mama kamu menyimpan jirigen minyak disana?" Ucap Alvin penuh keyakinan.
Amasya terdiam mendengar semua penjelasan yang Alvin berikan. Dirinya benar-benar tidak menyangka ibu tirinya akan berbuat nekat seperti itu. Walaupun Amasya juga sering menjadi sasaran kejahatan dari ibu tirinya. Tapi untuk melakukan kejahatan yang begitu fatal. Amasya tidak terpikir kearah sana. Mengingat ada unsur kriminal disana.
"Jika keputusan ayah sudah bulat. Amasya akan mendukung saja. Amasya akan terus berdoa yang terbaik untuk Ayah. Semoga ayah bisa selalu dalam lindungan Allah SWT." Doa Amasya untuk Alvin sambil mengelus tangan Alvin.
"Terima kasih sayang untuk sarannya. Ayah rasa, ini sudah cukup untuk ayah mengambil keputusan. Ayah sudah tidak tahan dengan semua tingkah laku ibu tiri kamu itu. Sudah terlalu sering dia melakukan kejahatan. Jadi ini adalah saatnya ayah untuk melakukan tindakan yang tepat." Ujar Alvin dengan menggebu-gebu.
__ADS_1