
Begitu mendapatkan kabar akan Alvin yang dilarikan ke rumah sakit. Amasya dengan segera membatalkan rencananya untuk mengajar di pagi ini. Seketika tubuh Amasya lemas, begitu mendapat kabar ayahnya dibawa ke rumah sakit. Terlebih ayahnya tak sadarkan diri hingga sekarang.
Juan yang mendengar kabar itu, juga membatalkan rencana dirinya untuk pergi ke kantor. Dirinya yang seharusnya pagi ini menjalani meeting bersama kliennya. Memilih membatalkan meeting tersebut. Dia ingin menemani Amasya yang mulai bersedih dengan kondisi ayahnya.
Dengan masih mengenakan pakaian kantor miliknya. Juan membawa mobil pribadinya ke rumah sakit. Di dalam mobil, Juan berusaha terus menenangkan Amasya yang tak bisa tenang akan kondisi ayahnya. Mengingat ayahnya tak sadarkan diri saat dibawa ke rumah sakit oleh Ryan.
"Kamu harus tenang. Serahkan semuanya pada Allah. Semua aku yakin akan baik-baik sayang sayang." Pinta Juan menenangkan Amasya.
Amasya masih saja terlihat panik. Dia seolah tak bisa tenang dengan kondisi ayahnya. Masih banyak pikiran negatif yang melintasi pikirannya tersebut. Hingga dia tetap tak bisa tenang. Sekalipun Juan sudah meminta dia untuk tenang.
Mobil Juan telah terparkir rapi di parkiran rumah sakit. Dengan segera Amasya turun dari dalam mobil. Dia segera berlari kearah ruang perawatan ayahnya. Dengan wajah yang masih panik, Amasya menanyakan keberadaan ruang UGD yang merupakan ruangan perawatan seorang Alvin.
__ADS_1
"Mbak boleh saya tanya ruang UGD sebelah mana?" Tanya Amasya pada resepsionis rumah sakit.
"Ruangan UGD berada di sebelah kanan ruang melati Bu. Nanti ibu tinggal lurus saja, lalu setelah itu baru ibu belok kiri. Nah disana ruang UGD berada." Terang resepsionis.
Tanpa mengucap terima kasih, Amasya langsung berlari untuk mencari ruangan UGD berada. Amasya terus mengingat arahan dari resepsionis tadi. Sehingga dia bisa segera menemukan ruang UGD berada.
Amasya melihat Ryan yang terlihat sedang duduk bangku. Sudah pasti, tempat duduk Ryan tersebut adalah ruangan UGD yang di cari oleh Amasya. Dengan segera Amasya mendatangi Ryan yang nampak panik juga dengan kondisi Alvin.
"Bapak masih dalam pemeriksaan mbak Amasya." Jawab Ryan.
"Bagaimana ayah bisa dilarikan ke rumah sakit seperti ini?" Tanya Amasya yang mulai menangis.
__ADS_1
"Saya tidak tahu mbak Amasya. Tadi pada saat mbak Devi meminta saya untuk membawa pak Alvin ke rumah sakit. Kondisi pak Alvin sudah tergeletak jatuh diatas lantai. Kepalanya berdarah." Terang Ryan dengan begitu jelasnya.
Amasya seketika lemas mendengar penjelasan dari Ryan. Dia hampir terjatuh pingsan, sebelum Juan dengan sigap menangkap tubuh Amasya yang mulai goyah.
"Kamu baik-baik sajakan Sayang?" Tanya Juan mencoba menenangkan Amasya.
Amasya tak dapat menjawab pertanyaan dari Juan. Tubuhnya terasa begitu lemas. Dia seakan tak percaya dengan yang terjadi pada ayahnya. Semuanya menjadi bias begitu saja.
Juan yang melihat tubuh Amasya yang sudah tidak berdaya, langsung membawa Amasya untuk duduk di bangku. Sementara Ryan yang awalnya duduk di bangku, langsung menyingkir. Bangku itu hanya muat untuk dua orang saja. Sehingga Ryan tidak dapat tempat lagi, begitu Amasya dan Juan duduk di bangku tersebut.
"Aku benar-benar khawatir dengan keadaan ayah Juan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada ayah. Aku tidak ingin itu terjadi Juan." Tangis Amasya yang semakin pecah.
__ADS_1
Juan mencoba menenangkan sejenak Amasya. Dia menyandarkan kepalanya istrinya itu di bahu kekarnya. Sambil mengelus lembut rambut Amasya. Juan mencoba membuat Amasya lebih tenang lagi. Mengingat saat ini Amasya butuh sebuah ketenangan dalam dirinya.