
Paksaan dari Willy untuk kembali bekerja di rumah sakit miliknya. Akhirnya Devi pun menuruti permintaan dari Willy. Terlebih ancaman dari Willy yang akan menyebarkan photo bugil dari Devi, semakin membuat Devi ketakutan. Sehingga dia dengan sangat terpaksa menerima permintaan dari Willy tersebut.
Masih bersedih dengan penyakit yang diderita olehnya. Devi berusaha tegar menerima takdir yang harus dia terima. Dimana Devi harus menerima dirinya tak akan memiliki anak.
Sarapan super lezat yang telah terhidang diatas meja makan. Hanya jadi pajangan saja untuk Devi. nafsu makan Devi hilang dengan semua takdir yang harus dia terima. Beberapa tawaran makan dari Alvin dan Ratna dilewatkan Devi begitu saja. Sampai tiba waktunya untuk berangkat bekerja, Devi pun harus segera berangkat menuju rumah sakit.
Raut wajah murung tak bisa Devi sembunyikan kala berpamitan pada kedua orangtuanya. Ratna memeluk Devi untuk menguatkan putri kandungnya tersebut. Dia ingin memberikan sedikit kekuatan pada Devi untuk menerima semua kenyataan pahit yang harus dia alami.
Alvin sebagai ayah angkat Devi juga memberikan sebuah kekuatan kecil untuk Devi bisa lebih tabah lagi. Alvin mengelus lembut rambut putri tirinya tersebut. Dia pun mengucapkan beberapa kalimat semangat yang bisa membakar semangat Devi untuk tetap tenang dalam menghadapi ujian yang dihadapi.
Tak membawa mobil seperti biasanya. Devi lebih memilih untuk menggunakan jasa taksi online menuju rumah sakit. Dia tak ingin pikiran kacaunya dapat membuat Devi tidak fokus berkendara. Sehingga bisa membahayakan keselamatannya.
Tak butuh waktu lama bagi Devi untuk mendapatkan taksi online yang diharapkan. Taksi online yang dipesan oleh Devi pun akhirnya tiba.
Sepanjang perjalanan, Devi tetap tak bisa melepaskan pikirannya dari penyakit yang diderita olehnya. Bagaimana jika penyakit itu diketahui oleh Willy. Mungkin Willy akan mencampakkan dirinya. Begitu juga pria lain, sebab Devi bukan perempuan sempurna yang bisa hamil.
__ADS_1
Panggilan telepon dari Willy bisa membuat Devi sedikit bisa terlepas dari bayang-bayang penyakit yang menderanya. Entah apa yang merasuki Willy pagi ini. Dia begitu manis pada Devi.
"Hallo Wil." Sapa Devi.
"Hallo sayang. Kamu masih dimana?" Tanya Willy.
"Emmm aku masih di jalan." Jawab Devi dengan suara pelan.
"Tapi kamu udah sarapankan pagi ini, kalau belum aku beliin kamu sarapan." Tawar Willy.
"Ya udah kalau gitu hati-hati yah sayang. See you." Tutup Willy.
"Iya Wil." Tutup Devi.
Willy bukan tipikal pria romantis. Dia tak suka membuat kata-kata manis yang membuat baper. Sehingga aneh jika Willy melakukan itu pada Devi. Apa mungkin Willy sedang sakit, sehingga dia berubah drastis. Entah, tapi sifat romantis Willy bisa meredakan rasa sedih yang masih ada di hati Devi akan penyakit yang menderanya.
__ADS_1
Sampai di depan rumah sakit. Devi langsung disambut oleh Willy yang telah menentang dua buah paper bag berisi bubur untuk sarapan. Will ingin memberikan satu bubur itu untuk Devi. Sehingga keduanya bisa makan bersama.
Willy mengajak Devi untuk bergegas ke ruangannya. Dia ingin Devi sarapan bersamanya, sekalipun Devi sudah mengatakan jika dia telah sarapan. Namun Willy tetap berusaha mengajak Devi sarapan bersamanya.
Demi menghargai Willy, akhirnya Devi menurut pada Willy. Dia ikut bersama Willy ke ruangannya. Kemudian makan bubur bersama Willy.
"Aku senang banget kamu bisa kerja disini lagi." Terang Willy.
"Aku harap begitu." Jawab Devi memakan kerupuk.
"Dengan ada kamu disini, aku bisa lihat kecantikan kamu setiap hari." Gombal Willy.
Devi tersenyum mendengar gombalan yang diberikan oleh Willy. Dia tak bisa menahan tawa dengan gombalan yang diberikan oleh Willy tersebut.
Willy berusaha kembali melancarkan jurus gombalan maut pad Devi. Tetapi segerombolan dokter dan suster yang membawa kue untuk menyambut kembalinya Devi ke rumah sakit. Menggagalkan usaha dari Willy tersebut. Hingga dia gagal kembali menggombali Devi.
__ADS_1
Kejutan yang diberikan rekan satu profesi Devi, telah membuat Devi begitu bahagia. Dia menangis haru dengan kejutan sederhana yang diberikan oleh teman-temannya tersebut. Sehingga Devi tak bisa berkata-kata lagi.