
Seperti yang telah dijanjikan olehnya. Amasya siap mengantar Rini untuk mencari kampus yang dia inginkan. Sebuah kampus yang memiliki track record yang bagus. Serta memiliki lulusan yang siap bekerja.
Dengan kriteria yang Rini ucapkan, rasanya kampus tempat Amasya menimba ilmu sangat cocok untuk Rini. Amasya sebagai salah seorang lulusan dari kampus tersebut, langsung mendapatkan tempat kerja sesuai jurusan yang di pilih.
Amasya yang belum ada kelas di pagi ini, memiliki kesempatan besar untuk mengantar Rini ke kampus. Rini sendiri juga sudah siap untuk melihat kampus tempat Amasya dulu menimba ilmu. Rasanya kampus itu akan cocok untuk Rini.
Dimeja makan, Juan kembali mengingatkan Amasya akan rencana Amasya yang akan mengantar Rini ke kampus. Juan tak ingin membuat Rini terlalu lama berdiam diri di rumah. Dia ingin Rini segera masuk kuliah. Mengingat tahun ajaran baru yang akan segera dimulai.
Amasya tak lupa dengan hari ini. Bahkan Amasya sudah menghubungi salah seorang dosen akan kedatangannya ke kampus. Hingga Rini bisa langsung bertanya langsung pada dosen tersebut, akan perkembangan kampus di era ini.
Rini begitu bersyukur akan bantuan yang diberikan oleh Juan dan Amasya. Rini sangat terbantu dengan kebaikan yang diberikan oleh keduanya. Ucapan terima kasih tak cukup untuk membalas kebaikan dari keduanya. Hingga Rini hanya bisa membalasnya dengan belajar sebaik mungkin.
Jam kerja Juan akan segera tiba. Hingga Juan harus segera meninggalkan rumah. Amasya dengan penuh perhatian membawakan tas kerja Juan. Amasya begitu lengket pada Juan. Hingga dia tak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa bersama suaminya tersebut.
Rini begitu bahagia melihat keromantisan yang ditunjukkan oleh Amasya dan Juan. Keduanya saling mencinta satu sama lain. Hingga keromantisan yang ditunjukkan tidak berlebihan, pada porsi yang pas. Hingga Rini yang melihatnya dibuat baper.
Rini tak ingin melewatkan keromantisan apa yang akan dilakukan oleh Juan dan Amasya sebelum berangkat bekerja. Mengintip dibalik pintu rumah, Rini melihat dengan jelas bagaimana ciuman mesra diberikan Juan dikening Amasya. Sebuah sentuhan lembut juga diberikan Juan diperut Amasya. Tempat dimana buah hati Juan dan Amasya berada.
Tanpa disadari oleh Rini, Juan ternyata memperhatikan dirinya yang sedang mengintip dibalik pintu. Juan tersenyum kearah Rini, sementara Rini langsung bersembunyi.
Amasya yang bingung dengan senyuman yang Juan berikan kearah pintu. Dia langsung bertanya mengapa Juan tersenyum seperti itu kearah pintu. Dengan segera Juan menunjuk kearah balik pintu, dimana Rini berada.
Amasya pun akhirnya turut tertawa juga dengan aksi kepo dari seorang Rini. Mungkin Rini ingin melihat keromantisan dari pasangan muda yang sedang dimabuk cinta seperti dirinya dan Juan. Hingga Rini begitu penasaran dengan apa yang hendak dilakukan oleh Amasya dan Juan.
Tak terlalu memikirkan hal tersebut. Jam kerja Juan yang sudah semakin dekat, membuatnya terburu-buru untuk segera beranjak. Kembali mencium kening Amasya, sebelum akhirnya Juan masuk kedalam mobil.
Begitu mobil Juan telah meninggalkan halaman rumah. Amasya kembali masuk kedalam rumah. Dia kembali ke meja makan, dimana disana Rini terlihat malu-malu usai tertangkap basah melihat keromantisan dari Amasya dan Juan.
"Kamu pernah pacaran Rin di kampung?" Tanya Amasya pada Rini sembaring melanjutkan sarapannya.
"Belum pernah mbak. Saya belum pernah pacaran." Jawab Rini dengan begitu polosnya.
"Kalau bisa sih Rin, mending jangan pacaran. Langsung nikah saja. Jadi pacarannya pas udah nikah. Itu lebih enak, gak ada batasan yang harus dihindari." Saran Amasya kembali menyuap sarapannya.
"Gitu yah mbak. Tapi apa itu sudah tidak zaman yah mbak. Perjodohan semacam itu tidak zaman saya pikir." Tanya Rini sedikit ragu-ragu.
"Saya sama Juan tidak dijodohkan Rin. Tapi keluarga kita saling mengenalkan satu sama lain. Saya dan Juan saling tertarik satu sama lain. Kita pacaran dalam tempo singkat. Sebelum akhirnya kita memutuskan untuk menikah. Jadi kita pacarannya sesudah menikah. Makanya kadang terlihat lebay kalau kata anak muda zaman sekarang itu." Terang Amasya sambil sedikit tersenyum.
"Tapi sepertinya itu enak juga yah mbak. Jadi kita pacaran pas sudah nikah. Kita gak harus takut melakukan sesuatu hal yang dosa. Justru hal yang dosa dilakukan ketika berpacaran, akan menjadi suatu pahala yang melimpah untuk kita." Jelas Rini dengan penuh keyakinan.
"Benar Banget! Jadi kita gak takut dosa apapun." Tutup Amasya.
Baik Amasya maupun Rini yang sudah kenyang dengan sarapan pagi ini. Bahu membahu merapikan kembali meja makan yang digunakan untuk sarapan. Semua piring kotor dibawa ke dapur. Begitu juga kotoran yang berceceran diatas meja makan. Tak luput dari pantauan Amasya dan Rini. Keduanya langsung membersihkan setiap noda yang menempel pada meja tersebut.
Rini bertugas mencuci semua piring sisa sarapan. Sementara Amasya yang sedang hamil muda, hanya kebagian menata piring yang telah di cuci oleh Rini. Sebenarnya Rini meminta Amasya untuk istirahat saja. Semua pekerjaan itu biarkan Rini yang mengerjakan. Tetapi Amasya yang tak ingin terlalu mengandalkan Rini. Turut ambil bagian dalam membersihkan piring kotor sisa sarapan tadi.
Begitu pekerjaan rumah sudah selesai. Baik Amasya maupun Rini, kini tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus. Dimana Amasya akan mengantar Rini untuk melihat suasana kampus yang hendak dijadikan tempat untuk dirinya menuntut ilmu.
__ADS_1
Tanpa membawa sopir, Amasya yang masih kuat menyetir. Membawa mobil kesayangannya menuju kampus. Sambil menunjukkan ikon-ikon dari kota Jakarta pada Rini. Amasya menyetir, sekaligus menjadi seorang tour guide untuk Rini.
Rini begitu terpukau melihat kemegahan kota Jakarta yang dipenuhi gedung bertingkat nan tinggi. Dikampung Rini tak ada gedung setinggi itu. Bahkan pusat perbelanjaan pun tidak menyediakan bioskop tempat menonton film. Hanya pusat perbelanjaan biasa yang berisi stand F&B, pakaian, peralatan dapur dan kosmetik. Tidak ada tempat permainan anak yang biasanya mengisi mal-mal yang ada di Jakarta.
"Dulu saya pikir Jakarta itu hanya ada pemukiman kumuh serta banjir. Bayangan saya itu seperti apa yang sering saya lihat di berita ketika nonton televisi." Ucap Rini sambil terus melihat gedung-gedung yang berjajar.
"Wajar sih. Sebab tidak semua kawasan di Jakarta sebersih dan serapi yang kamu lihat ini. Ini adalah pusat perkantoran dan bisnis, jadi wajar jika kamu melihat sisi indah dari Jakarta. Tapi masih ada kawasan kumuh yang mungkin akan membuat kamu percaya akan apa yang ditunjukkan oleh berita-berita itu." Terang Amasya.
Perjalanan yang dipenuhi dengan pemandangan gedung pencakar langit itu. Perlahan usai, dimana Amasya sudah hampir tiba di kampus.
Kekaguman dari seorang Rini tak usai akan Jakarta. Rini kembali dibuat takjub dengan gedung kampus yang disarankan oleh Amasya untuknya. Gedung kampus yang bertingkat, dengan halaman yang cukup luas. Terasa begitu mewah untuk Rini yang pertama kali melihat bangunan kampus semegah ini.
"Ini adalah kampus Mason Gunung, kampus ini merupakan salah satu kampus favorit yang ada disini. Kampus ini dimiliki oleh seorang miliarder di kota ini yang bernama Dani Irawan." Terang Amasya pada Rini sebelum masuk kedalam kampus.
"Luas banget mbak Amasya. Bangunan kampusnya juga cukup mewah. Pasti kuliah disini harganya mahal." Ucap Rini.
"Mahal itu pasti, tapi Juan sudah mengalokasikan dana untuk kamu kuliah sampai lulus. Jadi kamu tidak usah khawatir Rin. Untuk urusan biaya, biar jadi urusan mbak sama mas Juan." Jelas Amasya meyakinkan Rini.
"Sekali lagi terima kasih banyak mbak Amasya. Saya tidak tahu harus berkata apalagi untuk membalas kebaikan mbak Amasya dan mas Juan." Rini bolak balik mencium tangan kanan Amasya.
Dengan menggandeng Rini, Amasya mulai mengajak Rini masuk kedalam kampus. Beberapa dosen yang masih familiar dengan wajah Amasya, menyapa Amasya. Mereka menyapa Amasya dengan begitu ramahnya.
Seorang dosen bernama Fira, yang dulu begitu dekat dengan Amasya. Mengajak Amasya mengobrol di salah satu sudut kampus. Dosen yang umurnya tak jauh dari Amasya, memang kerap menjadikan Amasya sebagai teman curhatnya.
Tak ingin Rini terganggu dengan curhatan yang akan dilakukan oleh Fira pada Amasya. Amasya pun menyarankan pada Rini untuk melihat setiap sudut kampus. Sebagai penjajakan yang dilakukan oleh Rini. Dengan senang hati, Rini menerima tawaran dari Amasya tersebut. Rini pun membiarkan Amasya mengobrol serius dengan dosennya terdahulu itu.
Tak hanya melihat setiap kelas yang ada saja. Rini juga ingin melihat kondisi toilet, perpustakaan serta kantin dari kampus itu. Semua itu penting untuk Rini survei. Mengingat Rini akan jadi bagian dari kampus itu.
Kebersihan toilet kampus itu cukup membuat Rini nyaman. Beberapa fasilitas canggih telah diterapkan di toilet itu. Hingga Rini bisa nyaman saat akan pergi ke toilet.
Usai dengan toilet, perjalanan Rini berlanjut ke kantin yang ada di kampus tersebut. Kantin yang memiliki luas 3 kali lipat dari kantin ketika dia bersekolah dulu. Terlihat begitu nyaman. Beberapa sudut kantin juga begitu estetik. Dengan tampilan gambar-gambar yang cukup unik. Rasanya ini akan jadi tempat photo yang bagus untuk Rini suatu hari nanti.
Rini tidak mengetahui letak perpustakaan di kampus itu. Hingga Rini bertanya pada 3 orang mahasiswa yang sedang menyantap sarapan di sebuah meja.
"Permisi..." Sapa Rini.
Ketiganya yang awalnya asyik mengobrol, seketika langsung menatap tajam wajah Rini.
"Ada apa loe nanya kita?" Tanya salah seorang mahasiswi itu.
"Saya mau tanya, kalau perpustakaan di kampus ini sebelah mana yah?" Tanya Rini dengan begitu sopannya.
"Loe lurus saja dari sini. Terus nanti loe ketemu gerbang besar berwarna hitam. Terus loe buka tuh gerbang. Loe keluar dari kampus ini." Jelas salah mahasiswi lainnya.
Kedua mahasiswi lainnya langsung tertawa mendengar penjelasan dari temannya tersebut. Pasalnya apa yang disebutkan oleh temannya itu adalah jalan menuju gerbang sekolah.
Rini yang kecewa dengan jawaban ketiga mahasiswi itu. Seketika mengatakan jika ketiga mahasiswi itu tidak pernah belajar sopan santun. Sehingga ketika orang bertanya serius, justru malah dianggap bercandaan.
__ADS_1
Tak terima dengan ucapan dari Rini, salah seorang mahasiswi itu langsung mendorong Rini. Untung Rini tidak tersungkur oleh dorongan dari mahasiswi jahat tersebut. Posisi kokoh Rini, tak membuatnya langsung tersungkur oleh dorongan salah seorang mahasiswi itu.
Tak terima dengan dorongan yang dilakukan oleh mahasiswi tadi. Rini berusaha membalasnya, dia mendorong kembali mahasiswi yang mendorongnya tadi. Kerasnya dorongan yang Rini lakukan, seketika mahasiswa itu tersungkur. Untung kedua temannya sigap, hingga dapat meraih tubuh temannya yang didorong oleh Rini.
Ketiga ketiga mahasiswi itu akan mengeroyok Rini. Disaat bersamaan, seorang mahasiswa tampan menghentikan aksi ketiga mahasiswi tadi. Seperti mahasiswa siswa tampan itu cukup berpengaruh di kampus itu. Hanya dengan satu intruksi saja, ketiga mahasiswi jahil itu langsung menghentikan aksinya.
"Kalian tidak malu. Dia sendiri, sementara kalian bertiga?" Tanya mahasiswa tampan tersebut.
Ketiga mahasiswi itu tidak dapat menjawab pertanyaan dari pria itu. Ketiganya hanya bisa menunduk, sambil mendorong satu sama lain.
"Jangan pernah jadikan kampus ini sebagai tempat pembulian. Sebab jika itu terjadi, pelaku pembulian akan langsung diberhentikan dari kampus ini." Ancam si pria dengan tegasnya.
"Iya Prince, kita tahu itu tidak baik. Tapi kita tidak suka dengan mulut perempuan udik ini. Dia mengatakan kita tidak memiliki sopan santun. Sementara mulutnya sendiri tidak memiliki sopan santun." Ungkap salah seorang mahasiswi tadi.
"Saya hanya mengatakan sesuatu yang saya anggap fakta. Kalian benar-benar tidak memiliki sopan santun. Seseorang bertanya secara serius, tapi kalian anggap bercanda. Belum lagi, kalian membohongi saya. Apa itu tidak cukup bukti untuk membuat kalian tidak memiliki sopan santun." Jelas Rini secara terperinci.
Mahasiswa yang menolong Rini yang bernama Prince itu. Seketika menatap tajam wajah ketiga mahasiswi tadi. Tatapannya sudah sangat jelas meminta ketiga mahasiswi tadi untuk meminta maaf. Mengingat ketiganya dengan sengaja memberikan informasi bohong pada Rini.
Dengan berat hati, perwakilan dari ketiga mahasiswi itu meminta maaf pada Rini. Dengan wajah penuh keterpaksaan, perwakilan mahasiswi tadi. Mengucapkan maaf dengan nada yang kurang jelas. Hingga Prince memintanya untuk mengulang ucapan maaf pada Rini.
Dengan senyum yang sangat dipaksakan, perwakilan dari mahasiswi itu akhirnya kembali mengulang permintaan maaf pada Rini. Ekspresi wajahnya memang tersenyum ikhlas, tapi hatinya tetap merasa tidak ikhlas untuk meminta maaf pada Rini.
Akhirnya Rini memaafkan ketiga mahasiswi yang sempat membuatnya naik darah. Rini meminta ketiganya untuk tidak melakukan hal yang sama lagi. Mengingat tindakan seperti itu sangat tidak baik.
Tidak peduli dengan ucapan dari Rini, ketiga mahasiswi itu segera bergegas pergi meninggalkan kantin. Tentu meninggalkan Rini bersama dengan Prince berdua.
Melihat seorang pria tampan ada disampingnya. Rini sedikit merasa gugup. Terlebih kedua mata besar pria itu, tak henti menatap wajah Rini yang mulai memerah.
"Tadi kamu mau nyari apa?" Tanya Prince.
"Aku ingin mencari perpustakaan di kampus ini." Jawab Rini tetap gugup.
"Mau aku antar?" Tawar Prince dengan lembutnya.
Rini terdiam sejenak. Dia tak menyangka, pria baik itu hendak mengantar Rini ke perpustakaan.
"Apakah kita akan ke perpustakaan?" Tanya Prince kembali.
"Jadi-jadi. Ayo kita ke perpustakaan." Jawab Rini semakin gugup.
Sebelum berangkat bersama. Prince mengajak Rini untuk berkenalan terlebih dahulu.
"Nama aku Prince Irawan. Aku mahasiswa semester 4 dari fakultas hukum." Prince menyodorkan tangannya.
Rini sempat tak percaya ketika pria tampan itu mengajaknya berkenalan. Sebelum akhirnya Rini pun menjabat tangan si pria tampan tersebut.
"Saya Rini Hamid. Saya baru lulus sekolah, jadi ingin berkuliah disini."
__ADS_1