
Dominasi Willy dalam hubungan asmaranya dengan Devi. Telah membuat batin Devi tersiksa dengan hebatnya. Willy yang selalu ingin menjadi seorang yang dominan. Semakin membuat Devi lelah dengan hubungannya.
Sarapan pagi kali ini seakan tak ada selera untuk Devi. Terlebih hari ini dia harus pergi ke rumah sakit tempatnya bekerja. Dimana disana juga Willy bekerja sebagai seorang dokter.
Sikap murung yang ditunjukkan oleh Devi sedari tadi. mengusik hati Amasya untuk bertanya dengan keadaan Devi. Apakah dia sakit, sehingga tak nafsu untuk sarapan. apa mungkin dia tak selera makan saja. Sehingga dia hanya mengaduk makanan lezat yang ada dihadapannya.
"Dev kamu kenapa, dari tadi aku lihat kamu cuman mengaduk sarapan kamu saja?" Tanya Amasya.
"Enggak! Aku baik-baik saja kok. Cuman lagi gak selera makan saja." Jawab Devi terkejut.
"Iya Dev. Ayah juga lihat kamu seperti banyak masalah. Apa yang terjadi sama kamu?" Tandas ayah tirinya.
"Enggak ayah. Aku baik-baik saja. Jadi ayah gak usah khawatir." Elak Devi.
"Iya kalian kenapa sih. Devi baik-baik saja gitu. Malah kalian tuduh macam-macam." Ucap Ratna.
Tak ingin semakin menunjukkan kesedihan yang tengah dirasakan. Devi memilih untuk bergegas menuju kamar untuk bersiap-siap pergi ke rumah sakit.
Devi langsung menangis saat masuk kedalam kamarnya. Dia tak mampu lagi menyembunyikan kesedihan yang dialaminya. Dimana Devi harus menerima semua kenyataan pahit yang dia alami akan hubungannya dengan Willy.
Amasya yang melihat sesuatu yang aneh pada Devi. Mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Devi. Amasya mengikuti Devi yang masuk kedalam kamarnya. Dia mencoba mendengarkan tangisan Devi didalam kamarnya.
Devi yang perlahan menangis dengan kuat. Semakin membuat Amasya panik. Amasya memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Devi. Dia begitu khawatir dengan Devi.
Devi mengelap dengan beberapa lembar tisue air mata yang mulai membasahi wajahnya. Begitu terlihat kering, Devi perlahan membuka pintu kamarnya.
Prak... Pintu kamar di buka. Devi seketika marah saat mengetahui orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Amasya.
"Mau ngapain lagi kamu kesini?" Tanya Devi dengan amarah.
__ADS_1
"Aku masih khawatir sama kamu Dev. Kamu baik-baik sajakan." Jawab Amasya memegang kedua pundak Devi.
"Lapas! Aku baik-baik saja." Devi berontak sambil membanting kedua tangan Amasya.
"Kenapa kamu menangis?" Tanya Amasya.
"Aku gak nangis!" Jawab Devi melipat kedua tangannya diatas perut.
"Kamu jangan bohong. Itu masih ada sisa air mata. Jelas-jelas kamu menangis." Ucap Nania.
Devi yang tak ingin Amasya semakin rewel dengan kondisinya. Langsung mengusir Amasya disekitar kamarnya. Dia meminta Amasya untuk segera berangkat menuju sekolah. Dengan sangat terpaksa, Amasya pun bergegas pergi menuju mobilnya untuk berangkat bekerja.
Usai mengusir Amasya dari hadapannya. Sebuah panggilan telepon di dapat Devi dari Willy. Devi yang malas mengangkat telepon dari Willy, membiarkan ponselnya berbunyi begitu saja beberapa saat. Hingga perasaan malasnya benar-benar hilang.
Suara panggilan telepon yang semakin berdering dengan kerasnya. Akhirnya Devi pun mengangkat telepon dari Willy tersebut.
"Lama banget sih ngangkat telepon gitu aja. Belum makan, sampai gak bisa angkat telepon yang cuman 300 gram doang. Lemah banget sih. Atau jangan-jangan kamu lagi sama seseorang, sehingga harus lama mengangkat telepon dari aku." Ocehan dari Willy.
Devi yang semakin tertekan, memilih langsung mematikan telepon dari Willy tersebut. Tak hanya itu saja. Devi juga menonaktifkan ponselnya. Sehingga Willy tak bisa lagi meneleponnya.
Devi berpamitan pada kedua orangtuanya untuk berangkat menuju rumah sakit. Nampak raut wajah murung Devi yang jelas terlukis di wajahnya. Tapi Devi menyembunyikan semua perasaan sedih didalam hatinya. Sehingga dia selalu mengatakan baik-baik saja dengan apa yang terjadi.
Devi membawa mobilnya dengan perasaan yang masih cukup kacau. Dia masih memikirkan apa yang diucapkan oleh Willy padanya. Ingatan yang membuat Devi tidak bisa konsentrasi untuk menyetir. Sialnya dia hampir menabrak seorang pedagang bubur yang berada di area samping jalan.
Lolos menabrak gerobak bubur. Tetapi Devi harus berurusan dengan dua orang pria usai motor yang mereka tumpangi oleng terserempet mobil Devi. Dengan kaki sedikit pincang, seorang pria itu menghampiri mobil Devi dengan penuh amarah. Dia mengetuk kaca motor Devi, meminta Devi turun.
Devi yang ketakutan, sempat tak mau turun dari mobil mewah pemberian Willy tersebut. Tetapi saat seorang lagi membawa batu mengancam memecahkan kaca jendela mobil Devi. Dengan sangat terpaksa, Devi keluar dari mobilnya.
"Kamu harus bertanggungjawab atas apa yang terjadi." Pinta salah seorang pria itu.
__ADS_1
"Berapa yang harus saya bayar untuk ganti rugi?" Tanya Devi sedikit ketakutan.
"100 juta." Jawab pria lainnya.
Devi yang terkejut dengan nominal yang diminta oleh kedua orang itu. Langsung menolak permintaan dari orang tersebut. Devi menawarkan 10 juta untuk biaya pengobatan keduanya yang hanya memar saja.
Kedua orang itu menurunkan permintaan harga yang mereka lakukan. 90 juta atau lapor polisi. Devi tetap menolak keduanya. Dia hanya mau mengeluarkan uang sekitar 10 juta untuk mengganti rugi keduanya. Menolak tawaran dari keduanya.
Devi yang sama keras kepalanya dengan kedua orang tersebut. Akhirnya kedua orang tersebut melakukan tindak kekerasan kepada Devi. Keduanya mencoba masuk kedalam mobil Devi untuk merebut mobil Devi. Tetapi Devi yang enggan memberikan mobil tersebut, mencoba menghalangi kedua orang itu mengambil mobilnya.
Jalanan yang sunyi membuat kedua penjahat itu leluasa untuk memeras Devi. Hingga aksi keduanya begitu brutal dan sadis.
Untung ada orang baik yang mau menolong Devi. Iya pria itu adalah Juan. Dia menghentikan laju mobilnya, lalu menghampiri Devi yang nampak ketakutan dengan dua orang yang coba memerasnya.
Awalnya Juan bertanya secara baik-baik. Tetapi respon buruk dari kedua orang tersebut, akhirnya membuat Juan terlibat perkelahian dengan keduanya. Dua lawan satu yang nampak tak berimbang. Tapi ilmu taekwondo yang pernah dipelajari oleh Juan selama kuliah, mampu dia implementasikan kala berhadapan dengan dua orang tersebut.
Meskipun ada beberapa luka lebam yang menghias wajahnya. Tetapi secara keseluruhan Juan berhasil mengatasi perlawanan dua orang tersebut. Dia berhasil membuat dua orang itu lari ketakutan dengan jurus-jurus yang dia berikan.
Melihat keberanian Juan yang begitu besar. Devi seketika jatuh hati pada Juan. Wajah tampan Juan, juga semakin membuat Devi terkesima. Dia nampak malu-malu kala mengucapkan terima kasih pada Juan.
Devi juga berniat mengobati luka lebam yang ada dibeberapa bagian wajah Juan. Tetapi Juan yang harus segera pergi ke kantor. Akhirnya Devi pun batal mengobati luka lebam tersebut.
Untungnya Devi sempat berkenalan terlebih dahulu dengan Juan. Sehingga rasa penasaran Devi tidak begitu besar.
"Nama saya Devi." Ucap Devi menyodorkan tangannya.
"Juan." Menjabat tangan Devi.
Juan kembali melihat waktu di jam tangannya. Kemudian dia segera bergegas kembali masuk kedalam mobil. Sementara Devi yang takut akan kembalinya komplotan penjahat itu. Juga langsung kembali masuk kedalam mobilnya untuk segera berangkat menuju rumah sakit.
__ADS_1