Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Kekecewaan Rehan


__ADS_3

Keputusan Amasya untuk keluar dari sekolah, nampaknya masih cukup di sesali oleh seorang Rehan. Sahabat semasa kecil Amasya itu, cukup menyayangkan keputusan Amasya itu. Terlebih Amasya adalah salah satu guru yang cukup potensial yang di miliki oleh sekolah tersebut.


Kehilangan seorang Amasya tentu memiliki luka yang cukup mendalam. Perpisahan selama belasan tahun diantara dirinya dengan Amasya. Sempat memiliki harapan, dengan keberadaan Rehan sebagai kepala sekolah. Namun dengan keputusan keluar yang di pilih Amasya. Tentu Rehan akan memiliki jarak yang cukup jauh kembali dengan Amasya.


Juan menyenderkan tubuhnya di kursi kerjanya. Dia mengusap wajahnya yang nampak begitu kecewa dengan keputusan Amasya. Berulang kali dia mengatakan kalimat yang sama. Kalimat yang mempertanyakan keputusan Amasya yang keluar dari sekolah.


Saking sedihnya dengan keputusan dari seorang Amasya. Rehan sempat melupakan, jika hari ini ada meeting yang harus di ikuti oleh dirinya. Meeting bersama dengan seorang petinggi yayasan, tempat dirinya bekerja.


Pak Diki yang merupakan wakil kepala sekolah di sekolah tersebut. Mengingatkan kembali akan meeting yang akan berlangsung itu. Hingga Rehan langsung menyiapkan materi yang akan di sampaikan dalam meeting itu.


"Pak Rehan belum siap?" Tanya Diki duduk di meja kerjanya.

__ADS_1


"Siap untuk?" Tanya balik Rehan.


"Hari ini ada meeting dengan petinggi yayasan. Semua kepala sekolah di undang hadir." Jawab Diki menyalakan laptop miliknya.


"Hari ini! Kamu yakini?" Tanya Rehan kembali, meyakinkan.


"Kalau bukan hari ini, lantas kapan lagi pak.. Meeting itu akan berlangsung hari ini pak." Jelas Diki.


Rehan dengan segera melihat jadwal dari meeting yang akan di jalani. Benar apa yang di katakan oleh Diki. Hari ini Rehan harus mengikuti meeting bersama petinggi yayasan.


"Iya pak sama-sama." Balas pak Diki.

__ADS_1


Rehan segera membuka laptopnya. Dia segera menyiapkan materi yang akan dia bawakan dalam meeting bersama petinggi yayasan. Beberapa program yang tengah di jalankan oleh Rehan cukup berhasil di implementasikan di sekolah. Sehingga ada sedikit peningkatan dari sekolah yang kini di pimpin oleh Rehan tersebut.


Di tengah keseriusan dari seorang Rehan yang sedang membuat materi yang akan di bawa dalam meeting bersama petinggi yayasan. Pak Diki tiba-tiba mengajak Rehan mengobrol akan hal Amasya. Hal yang membuat Rehan langsung tak fokus. Terlebih saat Diki menyebutkan bahwa Amasya dulu itu begitu setia menunggu teman semasa kecilnya dalam mencari jodoh.


"Saya tidak menyangka banget pak. Kalau Amasya akan keluar dari sekolah ini." Diki memulai pembicaraan.


"Begitu juga dengan saya." Jawab Rehan dengan begitu singkat.


"Iya, saya ingat banget dulu. Sebelum Amasya menikah dengan suami dia yang sekarang. Dia begitu setia menunggu teman semasa kecilnya. Hingga setiap ada pinangan dari laki-laki lain, selalu Amasya tolak. Dulu ada satu guru yang begitu frontal menyatakan cintanya pada Amasya. Tapi Amasya menolaknya dengan alasan teman masa kecilnya dulu." Ucap Diki nostalgia.


"Tapi kamu tahu siapa teman masa kecil Amasya itu?" Tanya Rehan menghentikan aktivitasnya.

__ADS_1


"Tidak pak. Amasya tidak pernah mengatakan siapa pria itu. Saya pikir pria itu cukup berarti dalam hidupnya. Hingga dia begitu setia menunggu pria itu. Sebelum akhirnya ada seorang pria yang meyakinkan Amasya." Jawab Diki.


Rehan ingin sekali mengucapkan nama dirinya. Tapi mana mungkin Diki percaya orang itu adalah Rehan. Selama ini Rehan tidak pernah membicarakan masa lalu pada semua orang. Begitu juga dengan Amasya, sebab keduanya memutuskan untuk menutup masa lalu dari keduanya. Hingga tidak ada orang yang tahu jika Amasya dan Rehan pernah saling menyayangi satu sama lain.


__ADS_2