Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Devi Mengundurkan Diri Lagi


__ADS_3

Melihat sikap kurang ajar dari Devi kepadanya. Willy mencoba mengirim gambar bugil Devi untuk sekedar menakuti Devi. Willy membuka galeri ponselnya. Membuka sebuah file tersembunyi tempat dimana ia menyimpan puluhan photo bugil seorang Devi.


Willy terkejut hebat, begitu melihat file kosong yang ada di galerinya tersebut. Kemana semua photo yang telah ia simpan dengan rapi tersebut. Tidak mungkin terhapus dengan sendirinya.


Willy coba mengingat kembali peristiwa yang mungkin bisa membuat semua photo bugil dari Amasya itu hilang. Tapi dia tidak menemukan peristiwa yang kemungkinan membuat semua photo itu hilang. Sampai akhirnya Willy mengingat jika dia sempat meletakkan handphone miliknya diatas meja kerjanya. Dimana di meja kerja itu, Devi berada disana. Sudah pasti, kecerobohan yang Willy buat pada akhirnya membuat ia harus kehilangan semua photo bugil tersebut.


Willy yang berada di meja kerjanya. Langsung melempar semua benda yang ada dihadapannya. Ruangan kerjanya yang awalnya rapi, seketika berubah berantakan oleh ulahnya sendiri.


Satu-satunya yang bisa membuat Devi tetap dalam pelukannya, akhirnya sudah tidak ada. Kini Willy harus menerima kenyataan, jika Devi sudah tidak bisa lagi di kontrol bebas olehnya. Mengingat sudah tidak ada lagi suatu hal yang akan membuat Devi takut padanya.


Semua akses Willy pada Devi, sudah diputus oleh Devi. Termasuk dua media sosial yang sering digunakan oleh Willy dan Devi dalam berkomunikasi. Satu-satunya cara yang bisa digunakan oleh Willy untuk menghubungi Devi adalah dengan telepon rumah. Cara terakhir itu pun langsung dilakukan oleh Willy untuk tetap berkomunikasi dengan Devi.


Mengetahui panggilan telepon rumah itu dari rumah sakit. Devi yang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Menolak panggilan telepon itu. Dia lalu menonaktifkan handphonenya. Hingga Willy tidak akan lagi menghubungi Devi dengan telepon rumah tersebut.


Willy kembali marah dengan keputusan dari Devi yang enggan mengangkat panggilan telepon darinya. Dia melempar telepon itu keatas lantai. Kalimat sumpah serapah langsung keluar dari mulut Willy untuk melampiaskan kemarahannya pada Devi. Entah dengan cara apalagi, Willy dapat menghubungi Devi.


Untuk sedikit meredakan stres yang mulai melanda pikiran seorang Willy. Akhirnya Willy pergi ke kantin untuk sekedar menghisap rokok serta menyantap sarapan pagi. Meskipun Willy seorang dokter, tapi Willy adalah perokok aktif. Rokok digunakan Willy untuk meredakan rasa stres yang sewaktu-waktu mulai menyerangnya.


Dua batang rokok dihisap Willy dengan begitu cepatnya. Hanya dalam tempo 5 menit, Willy langsung menghabiskan dua batang rokok tersebut. Otaknya mulai tak tenang dengan Devi yang semakin liar. Willy yang teramat mencintai Devi, tak ingin kehilangan perempuan yang telah berpacaran dengannya dari bangku sekolah menengah atas itu.


Habis dua batang, Willy tiba-tiba menangis. Dia menundukkan kepalanya diatas meja. Kemudian perlahan mulai menangis, dengan begitu hebatnya. Beberapa orang yang mengenal Willy, merasa heran dengan tangisan seorang Willy. Apa yang membuatnya bersedih? Kehidupan nyaris sempurna telah dimiliki oleh Willy. Lalu apalagi yang kurang. Pikir banyak orang yang ada di kantin saat itu.


Seorang dokter senior yang melihat betapa payahnya Willy yang berada di bangku kantin. Mencoba sedikit menenangkannya, ia mencoba mencari tahu apa yang membuat Willy terlihat payah seperti itu. Hingga menjadi tontonan banyak orang di kantin.


"Hey anak muda, kenapa anda murung seperti itu?" Tanya dokter senior tersebut.


Willy yang sempat menunduk dengan begitu payahnya. Langsung mengangkat tegak kepalanya menatap wajah dokter senior tersebut.


"Ini bukan urusan dokter. Ini urusan anak muda. Jadi dokter tidak akan paham dengan masalah yang sedang saya alami." Jawab Willy sedikit congkak.


"Saya pernah muda juga. Saya pernah galau sama seperti kamu sekarang. Jadi jangan pikir saya tidak tahu apa yang sedang melanda hati kamu." Terang dokter senior itu sambil membuka plastik roti dihadapan Willy.


"Masalah saya pelik. Mungkin dokter tidak akan bisa memahami apa yang saya rasakan. Jadi saya harap dokter tidak terlalu ikut campur dalam masalah yang sedang saya alami." Pinta Willy dengan meyakinkan.


"Baiklah jika memang kamu tidak ingin berbagi kesedihan yang kamu alami pagi ini. Tapi saya harap kamu tidak menunjukkan kepayahan seperti ini. Tunjukkan sikap optimistis pada semua orang yang anda temui disini. Jangan sampai kepayahan dari kamu membuat sanak saudara mereka yang sedang sakit tidak memiliki rasa optimisme seperti yang kamu tunjukkan hari ini." Pinta dokter senior tersebut.


Ucapan dari dokter senior itu seketika membuat Willy marah. Dia tak terima dengan ucapan dari dokter itu. Willy dengan raut wajah marahnya, langsung menarik kerah baju dari dokter itu.


"Jangan ajarkan saya tentang optimis. Saya lebih paham dari anda. Saya kuliah di luar negeri dengan cakupan materi yang lebih banyak dari anda. Jadi jangan sampai anda mengajari saya tentang optimistis." Amuk Willy melempar kerah baju dari dokter senior tersebut.

__ADS_1


Tak ingin amarahnya semakin memuncak berdebat dengan dokter senior tersebut. Willy akhirnya memilih pergi meninggalkan dokter senior itu sendiri. Sementara dokter senior itu tetap tenang dengan tingkah kurang ajar yang Willy tunjukkan kepadanya. Tingkah yang tidak sopan dan angkuh.


Willy yang masih diselimuti dengan amarah, sedikit mulai bisa tenang. Devi yang datang untuk mengirimkan surat pengunduran dirinya. Sedikit bisa membuat Willy tersenyum akan kedatangannya ke rumah sakit.


Willy mencoba mendekati Devi. Bahkan Willy langsung memeluk Devi dari belakang, saat perempuan yang Willy cintai itu berjalan didepannya.


Tak terima dengan aksi Willy itu, Devi yang sudah muak dengan Willy. Mendorong keras Willy hingga terjatuh. Dengan kata-kata super kasar, Devi mengingatkan Willy agar tidak menyentuh tubuhnya lagi.


Willy yang masih berharap pada Devi, hanya terdiam dengan sikap kasar Devi itu. Sesekali Willy mencoba kembali memeluk tubuh Devi yang terlepas dari pelukannya.


"Dev... Aku mohon sama kamu. Jangan putus dari aku. Aku masih cinta sama kamu sayang." Pinta Willy pada Devi dengan memohon.


"Najis! Dengar cowok psikopat, gue gak bakal mau lagi balikan sama loe. Loe adalah cowok aneh yang tidak seharusnya pernah jadi bagian hidup gue." Tegas Devi dengan penuh amarah.


Willy mencoba mendekat pada Devi. Namun Devi langsung mengancam akan berteriak jika Willy berani menyentuh dirinya lagi. Devi sudah tidak Sudi untuk disentuh oleh Willy lagi.


Tak ingin membuat keributan di rumah sakitnya sendiri. Willy akhirnya menuruti permintaan dari Devi. Ia tak menyentuh Devi kembali. Bahkan Willy membiarkan Devi pergi dari hadapannya.


Kedatangan Devi sendiri untuk memberikan surat pengunduran dirinya untuk kedua kali di rumah sakit. Ini kali kedua Devi mengundurkan diri dari pekerjaan yang telah dijalani olehnya hampir 2 bulan tersebut. Devi merasa kurang nyaman saja bekerja di rumah sakit milik Willy. Terlebih sikap agresif Willy yang membuat Devi semakin tidak nyaman dibuat olehnya.


Devi mendatangi ruangan dokter Dave yang merupakan kepala rumah sakit tersebut. Kebetulan dokter Dave sedang berada di ruang kerjanya. Hingga tak perlu menunggu lama untuk Devi menemui dokter Dave.


"Selamat pagi dokter Dave." Sapa Devi dengan begitu ramahnya.


"Selamat pagi dokter Devi." Jawab Dokter Dave tak kalah ramah.


Dokter Dave memandangi wajah Devi yang nampak berseri. Mengingat selama bekerja di rumah sakit, Devi lebih sering menunjukkan wajah sedih. Mengingat tekanan yang harus dia dapat dari Willy. Entah mengapa, hari ini Devi tampil berbeda. Tak ada raut wajah bersedih yang kerap ditunjukkan Devi.


"Kenapa dokter Dave memperhatikan saya seperti itu. Apakah ada yang salah dengan saya?" Tanya Devi dengan begitu bingungnya.


"Tidak. Sama sekali tidak dokter Devi. Saya hanya senang saja dengan keceriaan yang ditunjukkan oleh dokter Devi. Selama bekerja disini, ini baru pertama kali saya melihat dokter Devi terlihat ceria seperti hari ini." Jelas dokter Dave.


Devi tersenyum kecil dengan ucapan dari dokter Dave. Ia menyadari, mungkin ia tidak bisa menyembunyikan bagaimana tekanan batin yang ada didalam hatinya dengan semua ekpektasi serta keinginan seorang Willy padanya. Hingga secara tidak langsung, wajahnya terlihat selalu murung berada di tempatnya bekerja.


"Bisa saja dokter Dave. Saya selalu bahagia kok dok." Dave mengelak.


"Kira-kira maksud dan tujuan dokter Dave menemui saya, ada apa yah?" Tanya dokter Dave.


"Jadi dokter Dave, saya ingin mencari tantangan baru. Saya ingin membuka praktek dokter di rumah saya sendiri. Dimana saya ingin lebih besar mengabdi untuk mereka yang membutuhkan. Oleh sebab itu saya putuskan untuk keluar dari rumah sakit ini." Terang Devi dengan begitu ceria.

__ADS_1


"Tapi saya pikir disini pun dokter Devi masih bisa memberikan pelayanan yang lebih besar untuk mereka yang membutuhkan. Jadi tanpa harus keluar dari rumah sakit ini. Dokter Devi tetap bisa mengabdi untuk mereka. Jadi dokter Devi tidak harus keluar dari rumah sakit ini." Pinta dokter Dave dengan sedikit rayuan.


"Mohon maaf dokter Dave. Keputusan saya sudah bulat. Saya ingin keluar dari rumah sakit ini. Saya ingin lebih banyak lagi memiliki waktu dengan keluarga saya." Tegas Devi kepada dokter Dave.


Devi pun mulai mengeluarkan sebuah amplop coklat berisi surat pengunduran dirinya dari tas yang ia tenteng. Tetap dengan keceriaannya, Devi memberikan amplop coklat itu pada dokter Dave. Dengan berat hati, dokter Dave pun menerima surat pengunduran diri dari Devi. Tak lupa sebuah doa diselipkan untuk Devi dari dokter Dave. Ia berharap praktek yang nantinya akan dibuka oleh Devi, benar-benar bisa bermanfaat untuk masyarakat yang membutuhkan. Terlebih untuk keluarga yang kurang mampu.


Selain sudah tidak nyaman dengan keberadaan Willy yang merupakan anak dari pemilik rumah sakit itu. Devi sendiri memang sudah berniat untuk membuka sebuah praktek yang mana nantinya praktek tersebut akan digunakan untuk para ibu hamil. Mengingat Devi merupakan salah satu dokter spesialis kandungan. Hingga persoalan kandungan dan bayi, Devi berada di garda terdepan secara pengetahuan.


Semua dokumen pengunduran diri dari seorang Devi, telah diterima oleh dokter Dave. Kini Devi telah resmi keluar dari rumah sakit Willy itu. Tempat penyiksaan yang selama dua bulan terakhir Devi rasakan. Bekerja bukan dengan tekanan pekerjaan yang tinggi, melainkan tekanan sebagai seorang pasangan toxic dari Willy.


Kebahagiaan dari Devi semakin terpancar, begitu ia meninggalkan ruangan dokter Dave. Bagaimana tidak bahagia, ia tidak akan lagi bertemu dengan seorang Willy. Tak ada lagi suasana rumah sakit serasa neraka lagi. Kini Devi bisa menjalani pekerjaan dokternya dengan nyaman. Membuka praktek sendiri, dengan peraturan sendiri darinya. Tanpa aturan yang harus dituruti olehnya yang berasal dari orang lain.


Salam perpisahan dari seorang Willy belum Devi dapatkan. Willy yang masih menaruh perasaan pada Devi, mencoba tetap mendapatkan hati Devi. Dia yang mengetahui Devi akan mengundurkan diri dari rumah sakit miliknya. Menunggu Devi tepat didalam mobil Devi. Dia ingin berbincang serius akan hubungannya dengan Devi.


Menunggu cukup lama didalam mobil Devi. Begitu Devi berjalan menuju mobilnya, Willy bersembunyi terlebih dahulu. Willy ingin mengejutkan Devi dengan keberadaan darinya di mobil Devi.


Devi yang tak menyadari keberadaan dari seorang Willy didalam mobil. Tampak biasa saja. Dia masuk kedalam kursi pengemudi, menaruh tas mahalnya disampingnya. Sebelum memasang sabuk pengaman melingkari tubuhnya.


Baru akan menginjak gas mobilnya. Devi langsung terkejut dengan keberadaan Willy yang tiba-tiba muncul dari belakang kursi pengemudi. Devi yang terkejut, langsung meminta Willy untuk keluar dari mobilnya. Dia sudah muak melihat Willy ada dihadapannya.


"Aku pikir kamu harus pergi dari mobilku sekarang juga!" Bentak Devi dengan begitu tegas.


"Aku mohon sayang, kamu dengarkan aku terlebih dahulu. Aku masih ingin kita bicara lebih serius tentang hubungan kita." Willy memohon pada Devi.


"Tidak ada yang harus dibicarakan lagi. Aku sudah ingin putus dari kamu." Ucapan tegas lainnya dari Devi.


"Tapi aku tidak kita putus. Aku janji akan merubah semua sikap dari aku." Pinta Willy semakin memohon.


Devi yang semakin tidak nyaman dengan Willy. Akhirnya melepaskan kembali sabuk pengaman yang telah melingkari tubuhnya. Kembali membawa tas miliknya. Devi keluar dari mobilnya sendiri untuk menghindari Willy.


Tak ingin kehilangan Devi, Willy pun turun dari mobil Devi tersebut. Dia terus mengejar Devi yang berjalan kearah kerumunan driver ojek online di depan rumah sakit.


Willy terus memohon pada Devi yang untuk berbicara pun Devi tak sudi. Sampai tiba didepan driver ojek online itu, Devi meminta driver ojek online itu mengantarnya pulang ke rumah.


Willy tak kehabisan akal. Dengan menumpang driver ojek lainnya. Willy meminta driver ojek itu untuk mengikuti motor yang ditumpangi oleh Devi. Hingga aksi kejar-kejaran terjadi antara driver ojek yang dipesan oleh Devi dan Willy.


Beruntung bagi Devi. Driver ojek yang dipesan olehnya lebih handal serta paham jalanan. Hingga driver itu berhasil menjauhkan Devi dari kejaran driver yang dipesan oleh Willy.


Lega rasanya untuk Devi yang bisa bebas dari kejaran seorang Willy. Untuk kedepannya mungkin Devi akan menyewa seorang bodyguard untuk melindungi dirinya dari kejaran seorang Willy. Mengingat Willy yang semakin agresif mengejar Devi, membuat Devi semakin tidak nyaman.

__ADS_1


__ADS_2