
Ruang guru sedari pagi telah diramaikan dengan kedatangan seorang kepala sekolah baru menggantikan Bu Imelda yang dimutasi ke Surabaya. Sosoknya yang muda, pintar dan ganteng. Semakin membuat rahim para guru wanita terasa tergoncang. Walaupun kepala sekolah baru tersebut telah menikah, tetapi ketampanan dari wajahnya. Bisa menjadi obat cuci muka dari para guru.
Semakin heboh dan menjadi sorotan. Akhirnya Amasya yang awalnya tak peduli dengan sosok kepala sekolah baru tersebut. Dibuat penasaran dengan gelagat para guru lain yang begitu kecentilan kala menceritakan sosok kepala sekolah tampan tersebut.
Amasya mendekati bangku milik Reni yang merupakan guru bahasa Inggris. Selain bahasanya yang sering dicampur antara Inggris dan Indonesia. Penampilan Reni yang full make up, juga sering disebut sebagai boneka hidup.
"Emm Ren aku mau tanya sesuatu sama kamu." Amasya malu-malu.
Reni mengeluarkan peralatan make up dari dalam tas kecilnya. Dia mengambil pensil alis untuk membuat alisnya semakin terlihat seperti sirkuit balap motor.
"Tanya apa Amasya? Go ahead.." Ucap Reni mulai menghias alisnya.
"Memang kalian sedang membicarakan siapa. Dari tadi aku dengar akan ada kepala sekolah baru yang bakal datang. Memang dia datang hari ini?" Tanya Amasya tetap malu-malu.
"Oh..... Jadi kamu gak tahu Amasya. Jadi hari ini bakal datang seorang kepala sekolah baru kita yang bakal gantikan Bu Imelda. Kamu tahu orangnya itu ganteng banget. Makanya aku gak sabar buat ketemu sama dia. Aku harus tampil cantik, biar nanti dia terpesona sama aku." Papar Reni kecentilan.
"Emang siapa namanya?" Tanya Amasya kembali.
Reni menghentikan aktivitas menggambar alisnya. Perlahan dia mulai memikirkan nama arsitek yang bakal membangun gedung sekolah baru tersebut. Setelah berpikir cukup dalam, akhirnya Reni menemukan nama arsitek tampan tersebut.
__ADS_1
"Ya... Aku baru ingat. Namanya adalah pak Rehan. Iya namanya pak Rehan. Tapi nama panjangnya aku gak tahu. Tapi nama kepala sekolah ganteng itu pak Rehan sih kalau gak salah." Ucap Reni.
Mendengar kata Rehan, Amasya langsung teringat pada teman semasa SMP terdahulu. Rehan yang begitu dekat dengannya, harus terpisah usai dia memutuskan pindah ke Belanda. Lost contack hingga hari ini. Walaupun perasaan rindu masih ada untuk bertemu.
Melihat Amasya bengong dengan wajah datar. Reni langsung memukul pelan pundak Amasya.
"Why are you dumbfounded?" Tanya Reni.
"Enggak kok Ren. By the way thank informasinya." Amasya terkejut
"Your welcome." Ucap Reni.
Rumor ketampanan dari Rehan sang kepala sekolah tampan tak hanya melanda ruang guru saja. Didalam kelas tempat Amasya mengajar. Anak-anak perempuan juga mulai heboh dengan kedatangan dari kepala sekolah baru tersebut. Mereka ingin menampilkan penampilan terbaik untuk sang kepala sekolah baru itu.
Beberapa siswi dandan secara berlebihan. Hingga teguran langsung diberikan kepada mereka dari mulut Amasya langsung. Amasya meminta para siswa yang menggunakan make up terlalu tebal untuk menghapus make up tersebut.
Beberapa siswa yang langsung meninggalkan kelas untuk pergi ke toilet. Tujuan mereka jelas, mereka ingin menghapus make up tebal yang menghapus make up tersebut. Sebab Amasya akan memberikan hukuman tegas jika para siswa tetap menggunakan make up tebal disepanjang pelajaran yang Amasya lakukan.
Pelajaran matematika yang seharusnya diberikan oleh Amasya pagi ini. Terpaksa harus terpotong sedikit kultum yang Amasya berikan. Dimana Amasya berpesan pada semua siswa, utamanya siswi untuk mengenakan make up secara natural dan tidak berlebihan. Sebab selain kulit para siswi yang masih sensitif. Penampilan mencolok juga bisa mengundang stigma buruk dari orang lain.
__ADS_1
Semuanya mendengarkan nasehat yang Amasya berikan. Tetapi belum tentu mereka implementasikan. Sebab rasa penasaran akan kepala sekolah tampan yang baru itu, membuat para siswi ingin tetap terlihat cantik dihadapannya.
Selesai jam pelajaran pertama. Speaker dari sekolah meminta seluruh siswa untuk berkumpul di lapangan sekolah. Betul saja, pengumuman tersebut berisi akan perkenalan baru yang dilakukan oleh kepala sekolah pengganti bu Imelda yang dimutasi ke Surabaya.
Satu persatu barisan para siswa mulai tersusun. Tidak seperti biasanya yang menolak untuk berada dibarisan paling depan. Kali ini para siswa justru berebut untuk berada di barisan paling depan. Rasa ingin tahu akan kepala sekolah baru membuat mereka berebut tempat untuk berdiri dibarisan depan.
Tak hanya para siswa yang berebut untuk barisan depan. Para guru yang penasaran juga dengan sosok Rehan yang tampan dan berkharisma, berlomba-lomba untuk berada di barisan depan. Mereka tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan pidato pertama yang akan disampaikan oleh sang kepala sekolah.
Semua siswa dan guru telah berbaris rapi di lapangan. Selangkah demi selangkah jejak kaki Rehan sebagai kepala sekolah baru mulai terdengar. Teriakan histeris mulai digaungkan oleh sebagian siswi. Mereka tak sabar untuk melihat ketampanan seorang Rehan.
Pagi itu benar-benar dibuat pecah. Rehan dengan kacamata hitam, serta sebuah batik berwarna coklat yang membungkus tubuh kekarnya muncul kehadapan para siswa dan guru semua. Berdiri berdampingan dengan Roy yang sang pemilik sekolah. Kedatangan Rehan langsung membuat histeris semua siswa dan guru yang ada di lapangan.
Berbeda dengan para guru perempuan lainnya. Amasya justru dibuat penasaran akan Rehan tersebut. Pasalnya Rehan itu mirip dengan Rehan teman SMP terdahulu. Dimana Amasya masih menyimpan perasaan sayang padanya.
Kehisterisan semakin menjadi kala Rehan melepas kacamata yang menutup kedua bola matanya. Lalu dengan suara gagah, dia memperkenalkan diri pada semuanya.
"Selamat pagi semua. Perkenalkan nama Saya Rehan Rizky, umur saya 25 tahun. Senang bisa bertemu kalian semuanya." Papar Rehan dengan begitu gagahnya.
Rehan Rizky, nama yang sama dengan teman masa remajanya. hampir berpisah belasan tahun, hingga sulit untuk Amasya bisa meyakinkan itu adalah Rehan teman semasa remajanya. Satu-satunya yang bisa meyakinkan Amasya itu adalah Rehan adalah tanda lahir ditangannya. Tetapi pagi ini dia tak bisa melihatnya. Sebab pak Rehan mengenakan seragam batik panjang.
__ADS_1