
Sedikit gerimis dengan hembusan angin yang menusuk kulit. Rehan membuka dokumen berisi identitas para guru yang mengajar di sekolah. Dokumen itu cukup penting untuk Rehan, sebab dengan begitu. Rehan bisa mengenal lebih dekat lagi para guru di sekolahnya.
Satu persatu dokumen itu Rehan buka. Dari yang paling senior ada di sekolah itu. Hingga guru-guru yang terbilang masih baru mengajar di sekolah tersebut.
Nama terakhir cukup membuatnya terkejut, pasalnya nama itu cukup familiar dengan ingatannya. Amasya Amalia yang merupakan teman semasa SMP terdahulu. Rehan melihat tanggal lahir dari Amasya. Tanggal dan tahunnya cocok dengan tanggal lahir Amasya. Sehingga benar dia adalah Amasya yang merupakan teman semasa SMP terdahulu.
Rehan yang semakin penasaran, akhirnya meminta salah satu staf tata usaha untuk memanggil Amasya ke hadapannya. Mengingat Rehan belum memiliki nomor telepon dari Amasya.
Senang, tetapi masih ada rasa canggung sedikit. Pasalnya Rehan sudah tidak bertemu Amasya belasan tahun. Dimana banyak terjadi perubahan diantara keduanya.
Amasya yang ditunggu akhirnya datang. Dengan wajah bingung Amasya menghampiri meja kerja Rehan. Meminta izin untuk duduk, sebelum akhirnya Rehan mengizinkannya untuk duduk dihadapannya.
"Ada apa bapak memanggil saya kesini?" Tanya Amasya sedikit bingung.
Rehan tak menjawab pertanyaan Amasya. Dirinya justru fokus memperhatikan wajah Amasya secara mendetail. Hingga Amasya dibuat bingung dengan tingkah dari Rehan tersebut.
"Pak Rehan kenapa?" Tanya Amasya heran.
__ADS_1
Rehan akhirnya bersuara dengan begitu gugupnya.
"Saya baik-baik saja. Tapi saya ada satu pertanyaan pada kamu." Jawab Rehan mulai fokus.
"Kamu Amasya teman baik saya dulu di SMP Pelita Kasih bukan?" Tanya Rehan meyakinkan.
Mendengar nama sekolah SMP tempatnya bersekolah dulu. Amasya terkejut, ternyata dugaan dirinya akan Rehan adalah teman semasa SMP dulu benar. Rehan ternyata adalah teman SMP yang dulu sempat membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama.
"I-I-Iya." Jawab Amasya gugup.
"Maaf sebentar lagi saya menikah!" Tolak Amasya tegas.
Rehan begitu kaget mendengar ucapan dari Amasya. Dirinya tak menyangka Amasya yang dia cari, kini akan segera menikah. Walaupun dirinya sendiri telah menikah dengan perempuan lain.
"Jadi kamu akan segera menikah?" Tanya Rehan.
"Benar. Sekitar 2 minggu lagi, saya akan menikah. Jadi saya harus menjaga perasaan calon suami saya. Kebetulan saya dengar, kamu juga telah menikah. Jadi berpelukan itu satu hal yang tidak pantas kita lakukan." Tegas Amasya.
__ADS_1
"Iya... Aku akuin aku telah menikah Amasya. Tetapi jujur saja aku tidak pernah bahagia dengan Pernikahan yang aku jalanin sekarang. Hanya penyesalan yang ada di hatiku." Terang Rehan dengan nada sendu.
"Kenapa tidak bahagia. Bukannya pernikahan justru membawa kebahagiaan?" Tanya Amasya.
"Seyogyanya pernikahan itu memang seperti itu. Tetapi yang ku rasakan berbeda. Tidak ada kebahagiaan, sebab aku menikah dengan dasar ketidakcocokan dengannya. Tetapi aku paksakan. Sebab itu adalah permintaan terakhir ibuku." Cerita sedih Rehan sembari menunduk.
Amasya terdiam menatap heran wajah Rehan yang justru bisa mengatakan seperti itu pada istrinya sendiri.
"Kamu pasti bahagia banget dengan pria itu. Pria yang beruntung bisa miliki perempuan cantik dan cerdas seperti kamu." Puji Rehan.
"Aku tidak menyangka kamu bisa berkata itu pada istri kamu. Seharusnya kamu bisa menghargai dia. Cinta itu bukan dicari, tetapi ditumbuhkan. Jika kamu sudah membuat mindset seperti itu. Bagaimana akan tumbuh cinta di hati kamu." Tegas Amasya.
"Itu logikanya, tapi realitanya tak seindah yang kamu ucap. Semuanya berubah, tidak ada cinta. Hanya pertengkaran yang terjadi dalam rumah tangga kami. Aku bertahan demi wasiat ibu aku. Tidak lebih." Jelas Rehan.
"Kamu itu kepala rumah tangga Rehan. Jika kamu ingin menjalankan wasiat ibu kamu. Seharusnya kamu bisa menumbuhkan cinta dalam rumah tangga kamu. Bukan malah seperti ini." Pinta Amasya.
Rehan terdiam lesuh mendengar ucapan dari Amasya. Sementara Amasya berlahan beranjak dari kursinya. Sebelum meninggalkan kursinya. Amasya meminta pada Rehan untuk melupakan masa lalu mereka yang pernah tumbuh rasa cinta. Amasya meminta pada Rehan untuk mulai mencintai istrinya sepenuh hati, tanpa alasan apapun.
__ADS_1