
Grand opening klinik milik Devi telah usai. Tentu sebuah kebanggaan ada dalam diri seorang Devi. Tapi Devi tidak sepenuhnya bahagia, sebab ucapan keras Alvin terasa cukup mengganggu Devi. Ucapan itu tak hanya terdengar oleh dirinya saja. Tapi terdengar juga oleh beberapa kerabat serta teman Devi yang hadir dalam grand opening klinik barunya tersebut.
Kembali dari klinik, Devi terus memasang wajah cemberut. Kesal bukan main pada Alvin. Devi merasa Alvin telah mempermalukan dirinya didepan semua orang. Hingga Devi kebahagiaan dari Devi sedikit berkurang dengan ucapan dari Alvin tersebut.
Ratna menyadari kekesalan dari seorang Devi pada suaminya tersebut. Bukannya memberikan penjelasan pada Devi akan ucapan dari Alvin. Ratna justru malah mendukung sifat egois dari Devi tersebut. Ratna menganggap ini adalah kesempatan bagus untuk dirinya bisa membuat Devi turut dalam mencelakai Alvin. Ratna rasa tidak ada yang bisa diambil dari seorang Alvin. Pria berumur itu sudah tidak lagi menarik dari sisi biologis seorang Ratna. Hingga dia sudah bosan akan Alvin.
Devi melempar tas mahalnya keatas kasur. Dia duduk dengan kedua tangan di lipat diatas perutnya. Wajahnya tak henti cemberut kembali mengingat ucapan dari ayah tirinya tersebut. Devi masih cukup kesal dengan ucapan yang Alvin lontarkan.
Ratna mendekati tubuh Devi. Ia merangkul pundak anaknya tersebut. Ibarat sebuah minyak tanah yang membuat kobaran api semakin membesar, Ratna saat itu benar-benar menjadi minyak tanah untuk Devi. Ratna menciptakan nyala api yang semakin besar didalam hati Devi.
"Mama juga kesal banget sama ayah tiri kamu itu. Si tua yang tidak berguna itu, ingin mama habisi. Tapi mama masih belum tahu cara yang tepat untuk membuat si tua itu lenyap dari dunia ini." Ucap Ratna dengan penuh kekesalan.
__ADS_1
"Apalagi aku ma. Bayangkan tadi dia ngomong begitu keras. Apa aku tidak malu dengan ucapan dia. Sementara disana banyak teman-teman dan saudara kita. Rasanya runtuh duniaku ma." Lanjut Devi tak kalah kesal.
"Bagaimana kalau kamu bantu mama untuk melenyapkan si tua Bangka itu. Mama ingin membuat si tua Bangka itu tidak ada lagi di dunia ini." Tawar Ratna dengan wajah antagonisnya.
"Tapi caranya bagaimana ma?" Tanya Devi dengan begitu penasaran.
"Bagaimana kalau kita racun saja dia." Usul Ratna penuh keyakinan.
"Terus kamu ada ide lain?" Tanya balik Ratna.
"Bagaimana jika kita dorong saja dia dari atas tangga. Aku pikir itu bisa lebih aman buat kita." Usul Devi.
__ADS_1
"Tidak. Mama tidak setuju dengan usul dari kamu tersebut." Tolak Ratna.
"Terus mama ada ide lain lagi?" Tanya Devi kembali.
Ratna mulai memikirkan cara lain untuk membuat Alvin lenyap didunia ini. Ratna berpikir dengan dalam, semakin dalam dan terus dalam. Ratna berusaha mencari cara yang pas untuk melenyapkan Alvin. Cara yang tentunya aman untuk dirinya.
Akhirnya sebuah ide didapat oleh Ratna. Menurutnya melumuri anak tangga dengan dengan minyak akan membuat Alvin terpeleset dari tangga. Terlebih tubuh Alvin tidak setegap dulu. Badannya yang mulai tak seimbang, akan mudah membuat tubuh Alvin terpeleset jatuh saat dari anak tangga.
Ide dari Ratna langsung diterima oleh Devi. Menurutnya ide tersebut cukup baik. Terlebih resiko yang akan didapat oleh Devi dan Ratna tidak terlalu besar. Hingga Devi dan Ratna bisa terbebas dari hukuman jika melakukan tindakan tersebut.
Ratna pun mulai menyusun rencana untuk mengeksekusi Alvin. Mungkin esok hari atau lusa, bisa dilakukan oleh Ratna untuk melakukan eksekusi pada Alvin. Baginya semakin cepat Alvin lenyap didunia ini. Maka itu semakin baik. Mengingat Alvin selalu ikut campur dalam urusan Ratna dan Devi.
__ADS_1