
Kabar keguguran dari Amasya layaknya sebuah aliran listrik yang bertemu dengan besi. Sebuah listrik yang bertemu dengan besi yang langsung merembet dengan begitu cepatnya. Begitu juga dengan kabar keguguran Amasya yang menyebar dengan cepat.
Di awali dari Bu Imas, akhirnya seluruh guru di tempat Amasya mengajar. Mengetahui kabar dari Amasya yang keguguran. Mereka pun cukup sedih dengan kabar tersebut. Mengingat ini adalah kabar buruk yang layak untuk di jadikan sebuah kesedihan bersama. Sebagai teman dari Amasya, mereka begitu merasa bersedih dengan keguguran yang di alami oleh Amasya.
Rehan yang mengetahui kabar itu, begitu bersedih mendengar kabar Amasya keguguran tersebut. Dia pun merencanakan untuk menjenguk Amasya bersama-sama di rumah sakit. Tentu dengan begitu mereka bisa menunjukkan solidaritas mereka terhadap Amasya. Sebuah dukungan moril yang akan sedikit meredakan kesedihan yang ada di dalam hati Amasya.
__ADS_1
Usulan dari Rehan langsung di sambut baik oleh seluruh guru. Ide yang cukup bagus itu memang layak di dukung. Sehingga banyak guru yang setuju dengan ide dari Rehan tersebut.
Tak hanya mengajak untuk menjenguk Amasya. Rehan juga meminta setiap guru untuk menyumbangkan sedikit dana untuk membeli sesuatu untuk Amasya. Mungkin Amasya akan semakin senang dengan hadiah yang akan diberikan oleh teman-temannya. Amasya menyukai brownies. Mungkin brownies akan menjadi hadiah yang akan di bawa oleh guru-guru tersebut pada Amasya.
Hanya 20 ribu rupiah saja setiap guru. 4 loyang brownies sudah dapat di pesan oleh Rehan. Keempat brownies itu akan di bawa Rehan bersama guru lain saat menjenguk Amasya nanti. Mungkin di jam pulang sekolah akan di gunakan oleh para guru untuk menjenguk Amasya. Jam yang paling cocok untuk semuanya menjenguk Amasya.
__ADS_1
Rehan sebenarnya tidak enak untuk pergi sendiri ke rumah sakit. Rehan meminta salah seorang guru untuk menemaninya. Namun tidak ada yang bisa, mereka meminta Rehan untuk menjenguk Amasya bersama dengan istrinya. Ide yang bagus sebenarnya, tapi apakah istri Rehan mau? Itu tentu menjadi pertanyaan besar dalam benak Rehan. Mengingat Ismi kerap menolak jika Rehan mengajaknya untuk pergi menjenguk seseorang. Untuk pergi ke tempat undangan pernikahan saja, Ismi kerap menolak. Apalagi melihat Amasya di rumah sakit. Tentu tidak akan semudah itu bagi Ismi untuk dapat menerima ajakan dari Rehan.
Rehan menelpon Ismi. Panggilan telepon dari Rehan langsung di angkat oleh Ismi. Dia yang mengira Rehan akan meminta sesuatu pada Ismi. Tanpa pikir panjang, Ismi langsung mengangkat panggilan telepon dari Rehan tersebut.
Entah petir apa yang menyambar seorang Ismi. Namun Ismi kali ini menerima tawaran dari Rehan untuk menjenguk Amasya. Rehan menghela nafas, mengucapkan rasa syukur atas Ismi yang mau untuk menjenguk Amasya di rumah sakit.
__ADS_1
Rehan meminta Ismi untuk bersiap. Sebab dalam hitungan menit ke depan Rehan akan segera tiba di rumah. Mengingat hari ini Rehan mengunakan motor untuk pergi ke rumah sakit. Sehingga Rehan tidak akan terjebak macet.