Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Usaha Rendi Mendekati Seorang Rini


__ADS_3

Di samping kolam renang yang terlihat begitu jernih. Rini nampak asyik mengerjakan setiap tugas yang di berikan oleh dosennya. Rini begitu fokus menatap ke arah laptop yang berisi tugas-tugas kampusnya. Di temani segelas kopi serta beberapa toples camilan lezat. Rini nampak begitu asyik menyantap setiap cemilan yang ada.


Dari kejauhan, Rendi nampaknya sedang memperhatikannya seorang Rini. Membawa segelas cangkir teh tawar panas. Rendi menyaksikan bagaimana cantiknya Rini saat angin mulai menerbangkan rambut panjangnya. Rini benar-benar terlihat begitu cantik dan anggun.


Tidak hanya ingin melihat dari jauh saja, Rendi mulai berjalan mendekati Rini yang terlihat mulai pusing mengerjakan tugas yang ada. Beberapa kali Rini menggaruk kepalanya. Menandakan ada sedikit masalah yang sedang di hadapi oleh dirinya ketika mengerjakan tugas tersebut.


Rendi bak seorang pahlawan, datang menghampiri Rini dengan sebuah pertanyaan. Dia terkesan ingin menolong kesulitan yang di alami oleh Rini. Walaupun sebenarnya Rendi sendiri tidak mungkin mengerti dengan tugas kuliah yang sedang Rini kerja. Namun dengan basa-basi itu, setidaknya Rendi bisa membuka obrolan dengan Rini.


"Kamu kenapa Rin?" Tanya Rendi membungkukan setengah badannya melihat ke arah laptop Rini.


"Ada beberapa soal yang sulit banget. Rasanya aku ingin menyerah buat mengerjakan soal tersebut." Jawab Rini dengan wajah pusingnya.

__ADS_1


Melihat ke arah laptop seorang Rini. Rendi seketika di buat pusing dengan tulisan panjang yang ada di laptop tersebut. Dia begitu bingung untuk membaca setiap kalimat panjang tersebut. Otak Rendi benar-benar tidak sampai untuk sekedar membaca tulisan panjang tersebut saja.


"Rasanya aku ingin pingsan melihat tulisan itu. Panjang, kecil dan berdempetan. Itu benar-benar membuat otak kita pusing. Apalagi semua tulisan kecil-kecil. Semakin terlihat tidak nyaman untuk di lihat oleh mata telanjang." Ucap Rendi menyerah.


Rini tersenyum mendengar ucapan dari Rendi. Dari tulisannya saja, Rendi sudah menyerah untuk membaca tugas Rini tersebut. Bagaimana jika Rendi harus mengerjakan setiap soal yang ada di sana. Mungkin Rendi akan membuang laptop tersebut. Rini yakin hal tersebut.


Walaupun ada Rendi di samping dirinya. Rini yang ingin fokus mengerjakan tugas yang sedang di hadapi oleh dirinya. Memilih untuk memfokuskan seluruh pikiran dari dirinya pada tugas yang ada. Dia tak ingin membagi waktunya untuk siapapun, tentu pada Rendi juga. Rini benar-benar ingin fokus pada tugasnya saja.


"Rin kamu suka tidak bintang di langit?" Tanya Rendi menatap ke arah langit.


Rini yang fokus pada tugasnya tidak mendengarkan pertanyaan dari Rendi dengan jelas. Hingga Rini lebih memilih diam saja.

__ADS_1


"Rin." Ucap Rendi.


"Iya Ren." Rini menatap wajah Rendi dengan begitu bingungnya.


"Apa jawaban kamu?" Tanya Rendi kembali.


"Jawaban untuk apa?" Tanya balik Rini dengan begitu bingungnya.


Rendi yang sadar Rini tidak mendengarkan ucapannya dengan begitu jelas. Akhirnya memilih untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sama. Rendi lebih meminta Rini untuk kembali fokus mengerjakan tugasnya. Mengingat waktu yang semakin larut malam. Dimana Rini tidak harus begadang untuk menyelesaikan tugasnya yang begitu menumpuk tersebut. Rini harus bisa menyelesaikan tugas itu di bawah jam 12 malam. Waktu yang cukup ideal untuk Rini tidur.


Tidak ingin jadi nyamuk yang melihat Rini mengerjakan tugasnya. Rendi memilih untuk pergi ke dalam kamarnya. Mungkin di kamarnya, Rendi bisa rebahan. Sehingga ototnya bisa kembali normal seperti semula. Begitu juga dengan sarafnya yang sempat sedikit membengkok dengan aktivitas yang di lakukan oleh Rendi. Dengan beristirahat cukup, mungkin semuanya bisa kembali ke bentuk semula.

__ADS_1


__ADS_2