
Sarah yang merupakan teman dekat Rini mengajak Rini untuk ke perpustakaan. Ada beberapa buku bagus yang bisa menjadi referensi dalam tugas kuliah mereka. Ajakan dari Sarah langsung di setujui oleh Rini. Keduanya segera mendatangi perpustakaan kampus yang berada tak jauh dari kelas mereka.
Perpustakaan yang luasnya hampir 3 kali lipat dari luas rumah Rini di kampung itu. Seketika membuat Rini berdejak kagum melihat ruangan seluas itu. Terlebih dengan ribuan buku yang tersusun rapi yang berada di perpustakaan. Semakin membuat Rini terkesima dengan ruangan perpustakaan itu.
"Perasaan Sar, pas aku kesini kemarin. Ruangannya tidak sebesar ini. Tapi kenapa sekarang besar banget yah." Ucap Rini yang terus memandangi setiap sudut perpustakaan itu.
"Mungkin kamu kemarin bukan ke perpustakaan ini. Tapi mini book. Di kampus ini ada dua perpustakaan. Satu perpustakaan besar ini, satu lagi mini book. Dimana di mini book itu, tempat beberapa buku hasil alumni yang di pajang di ruangan itu." Jelas Sarah dengan terang benderang.
"Mungkin juga yah. Soalnya ruangannya tidak seluas ini. Tidak banyak buku juga. Jadi memang benar, kemarin aku ke mini book. Bukan ke perpustakaan, sepertinya." Ucap Rini.
Rini dan Sarah lalu mulai mencari buku yang hendak dijadikan referensi untuk tugas mereka. Setiap sudut ruangan masih Rini kagumi. Hingga dia tidak fokus untuk mencari buku yang di cari oleh Sarah.
Begitu kembali berjumpa dengan Sarah, Rini justru bingung dengan pertanyaan dari Sarah. Pasalnya dari tadi, Rini tidak mencari buku yang Sarah cari. Hingga ketika Sarah menanyakan apakah dia sudah menemukan buku itu, Rini begitu bingung untuk menjawab pertanyaan dari Sarah itu. Rini seketika kikuk di buatnya.
Sarah memaklumi akan Rini yang baru pertama kali melihat perpustakaan yang sebesar ini. Tentu di kampung Rini, tidak ada perpustakaan sebesar ini. Hingga begitu melihat perpustakaan sebesar ini, Rini tak henti mengagumi kemegahan dari perpustakaan tersebut.
Rini pun siap mencari buku yang sedang dicari Sarah untuk di jadikan referensi dari tugas mereka. Tidak akan tidak fokus lagi, Rini berjanji akan mencari buku itu di setiap rak yang ada.
Beberapa rak sudah Sarah periksa, ia tak menemukan buku yang diinginkan olehnya. Mungkin di barisan rak yang berada di selatan perpustakaan, buku itu masih ada. Hingga Sarah meminta Rini untuk mencari di bagian tersebut. Sementara Sarah sendiri, meminta izin pada Rini untuk pergi ke toilet sebentar.
Rini berjalan ke rak yang berada di selatan perpustakaan. Mungkin di barisan ini. Buku itu ada, satu persatu buku itu diambil oleh Rini. Tapi dia belum menemukan buku yang dicari oleh Sarah. Untung Rini cukup bersabar untuk mencari buku tersebut.
Hampir 5 menit berputar mencari buku itu, namun Rini tak urung menemukan buku tersebut. Sampai akhirnya Rini melihat seseorang yang sedang memegang buku itu di tangannya, melintas di hadapan Rini. Dengan segera, Rini menghampiri pria itu.
"Tunggu." Ucap Rini sambil menepuk pundak si pria pemegang buku itu.
Dengan segera, pria yang di tepuk punggungnya oleh Rini. Langsung berbalik badan. Begitu pria itu berbalik badan, wajah pria itu sudah tidak asing lagi dalam ingatan seorang Rini. Tapi Rini lupa, siapa pria pria. Hingga Rini harus mengingat wajah pria tampan itu. Yang ternyata pria itu adalah Prince. Pria baik yang menolong Rini dari bulian beberapa mahasiswi tempo hari
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Prince.
"Tunggu dulu. Sepertinya kita pernah bertemu." Rini mendekat kearah Prince sambil mengingat wajah Prince.
Prince juga mengingat momen pertemuan dengan Rini.
"Oh iya, kamu perempuan yang hampir di buli waktu itukan?" Tanya Prince sambil mengingat ulang.
"Iya, dan kamu yang menolong aku. Kemudian pergi begitu saja." Jawab Rini tersenyum.
"Sorry, saat itu aku buru-buru. Jadi tidak sempat mengobrol panjang lebar dengan kamu." Ucap Prince.
"By the way, terima kasih banyak yah. Aku tidak tahu akan seperti apa, jika saat itu tidak ada kamu. Mungkin aku akan di habisi oleh mahasiswi itu." Jelas Rini mulai gugup.
"Sama-sama. Jika tidak ada aku saat itu. Mungkin akan ada orang lain yang akan menolong kamu. Hari itu, memang jadi hari keberuntungan buat kamu." Jelas Prince merendah.
Prince sempat menatap wajah Rini. Ini pertama kalinya ada seorang perempuan yang berani berkenalan dengan dirinya. Sementara Rini nampak semakin gugup oleh Prince. Pasalnya pria itu tidak langsung menjabat tangan Rini untuk berkenalan dengan dirinya.
"Aku Prince. Mahasiswa semester 5. Jurusan hukum." Prince menjabat tangan Rini dengan begitu eratnya.
Hampir 30 detik saling menggenggam tangan masing-masing. Akhirnya Prince dan Rini melepaskan pegangannya masing-masing.
"Ada apa kamu tadi menahan aku?" Tanya Prince menatap wajah Rini.
"Tadi aku lihat kamu memegang buku tentang manajemen fiskal. Aku dan temanku, sedang mencari buku itu. Ada beberapa tugas yang harus kami kerjakan. Beberapa jawaban mungkin akan kami temukan di buku itu." Terang Rini menunjuk ke arah buku yang dibawa Prince.
Tanpa ragu, Prince langsung memberikan buku yang cukup tebal itu pada Rini. Terlebih dia juga baru selesai membaca seluruh isi buku tersebut. Sehingga Prince sudah memahami keseluruhan dari isi buku tersebut.
__ADS_1
Rini yang masih gugup dengan tatapan tajam yang diberikan oleh Prince padanya. Menerima buku itu dengan tangan yang gemetar. Mungkin ini kali pertama bagi Rini, bertemu dengan seorang pria tampan yang membuat dirinya begitu gugup.
"Buku itu sangat bagus. Memang sangat cocok untuk di jadikan referensi. Penjelasan yang ada di buku itu cukup sederhana, jadi aku pikir kamu akan cepat memahami konsep manajemen fiskal." Jelas Prince pada Rini.
"Aku harap begitu. Mengingat buku ini begitu penting. Aku dan temanku, berharap bisa mendapatkan referensi yang banyak dari buku ini." Balas Rini.
"Kalau begitu, aku pergi dulu yah. Semoga kamu bisa menyelesaikan semua tugas kamu dengan baik. Jangan lupa dibaca isi keseluruhan dari buku itu." Titah Prince sebelum pergi meninggalkan Rini.
Rini tersenyum mendengar ucapan dari Prince. Dia begitu rendah hati, serta sedikit humoris. Di balik sikap dingin yang terlihat dari penampilannya. Ternyata pria itu bisa bercanda juga.
Tak lama setelah Prince meninggalkan Rini. Sarah yang baru kembali dari kamar mandi, menghampiri Rini. Sarah langsung bahagia, begitu melihat Rini telah menemukan buku yang akan menjadi referensi untuknya mengerjakan tugas.
"Jadi bukunya sudah ketemu?" Tanya Sarah.
"Buku inikan." Rini menunjukkan buku tersebut.
"Dimana kamu mendapatkan buku itu?" Tanya Sarah kembali.
"Seorang pria baik bernama Prince memberikan buku ini padaku. Dia juga memintaku untuk membaca seluruh isi buku ini." Jawab Rini dengan begitu polosnya.
"Apa! Prince. Maksud kamu Prince Hadiwijaya?" Tanya Sarah terkejut.
"Tidak tahu. Pria itu tampan, dingin tapi ramah." Jawab Rini singkat.
"Iya Rin, itu Prince Hadiwijaya. Dia adalah anak dari pemilik kampus ini." Terang Sarah antusias.
Rini hanya terdiam biasa saja. Sementara Sarah berubah menjadi sedikit centil mendengar nama seorang Prince. Memang Prince menjadi seorang raja yang diperebutkan oleh banyak mahasiswi di kampus tersebut, termasuk Sarah.
__ADS_1