
Aksi tak terpuji yang dilakukan oleh Willy pada Devi. Semakin membuat batin Devi tersiksa. Devi seolah boneka yang bebas dimainkan oleh Willy sesuka hati. Jika Devi berontak, Willy dengan mudah melakukan tindakan yang sudah tentu besar resikonya untuk Devi.
Devi tak berdaya menghadapi sikap Willy yang semakin hari, semakin kurang ajar padanya. Selain tidak menghormati Devi sebagai pacarnya, Willy juga tidak memperlakukan Devi dengan baik. Padahal Devi tidak pernah melakukan hal yang membuat Willy marah. Tapi Willy yang temperamental, sering marah sendiri pada Devi.
Didalam kamarnya, Devi hanya bisa menangis mengingat perlakuan Willy yang semakin tidak terkontrol. Terlebih dengan photo bugil yang dimiliki Willy. Semakin membuat Willy mudah menekan Devi.
Pagi ini Devi harus berangkat ke rumah sakit. Ia mendapat shift pagi di hari ini. Tapi perasaannya yang sedang kalang kabut, membuat dia meminta izin pada pihak rumah sakit, tak masuk hari ini. Beralasan kurang enak badan. Devi harap itu cukup untuk membuat dirinya tak masuk di pagi ini.
Kepala rumah sakit memahami kondisi Devi yang kurang enak badan. Tapi tidak dengan Willy. Ia tetap meminta Devi masuk di pagi ini. Sebab Willy tahu, Devi tidak sedang sakit apapun.
Willy mengirim ratusan pesan pada Devi. Pesan yang meminta Devi untuk masuk kerja hari ini Dengan sedikit ancaman yang diberikan oleh Willy pada Devi.
Sekeras apapun usaha Devi untuk menolak permintaan dari Willy. Tetap saja ia tidak bisa mengelak dari Willy. Terlebih ancaman dari Willy, seketika membuat mental Devi langsung menciut begitu saja. Photo yang akan menghancurkan dunia Devi dalam sekejap.
Akhirnya Devi menurut pada permintaan seorang Willy. Dengan berat hati, Devi akhirnya Devi tetap bekerja di hari ini. Meskipun hatinya sedang kacau balau oleh Willy.
Devi merias wajahnya terlebih dahulu. Lalu ia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sedikit lebih formal. Sebelum menyantap sedikit sereal sebagai menu sarapan di pagi ini.
Ditengah kurang semangatnya Devi menyantap seporsi sereal. Ratna yang hendak mengambil handphonenya yang tertinggal di meja makan. Sontak terkejut dengan penampilan rapi dari Devi. Mengingat Devi yang awalnya sudah niat untuk tidak bekerja di hari ini.
"Bukannya haru ini kamu tidak masuk kerja sayang?" Ratna penasaran pada Devi.
"Enggak. Hari ini aku tetap masuk." Devi menjawab dengan begitu malasnya.
Ratna menempelkan tangannya di dahi Devi. Ia ingin tahu, apakah Devi masih sakit atau sudah sedikit membaik. Tak ada rasa hangat atau panas yang mengalir dari tubuh Devi. Semuanya berada pada suhu normal.
__ADS_1
"Jadi kamu memang tidak sakit hari ini?" Ratna semakin penasaran.
"Tidak mah. Aku cuman malas bekerja saja, makanya aku mengatakan tidak enak badan." Devi membentak Ratna.
Mendapatkan bentakan dari Devi. Ratna langsung terdiam. Ia tidak bisa berkata-kata lagi dengan ucapan yang telah diucapkan oleh Devi padanya. Setelah handphone miliknya ada digenggam tangannya. Ratna segera meninggalkan Devi sendiri di meja makan.
Rasa malas yang hari ini mendekap tubuh Devi, semakin membuat Devi tidak bersemangat pergi bekerja. Devi terus membuang waktu dengan mengaduk sereal miliknya. Sementara kedua matanya menatap kearah layar handphone yang sedang membuka sebuah aplikasi media sosial.
Beberapa kali Devi menolak panggilan telepon dari Willy. Hingga dipanggilan kelima, akhirnya Devi mengangkat telepon dari Willy.
"Hallo." Sapa Devi tak bersemangat.
"Kamu masih dimana?"
"Aku masih sarapan."
"Udah ngomelnya. Aku capek tahu, setiap hari kamu selalu ngomel seperti ini. Apa kamu gak capek ngomel seperti itu. Kamu sudah seperti ibu-ibu komplek yang marahin anaknya. Persis seperti itu." Tegas Devi.
"Mulai berani kamu sama aku. Ok, aku gak bakal marah. Kalau kamu bisa diatur. Tapi kamu selalu membantah apa yang aku perintah. Jadi apa aku gak marah sama kamu." Willy semakin marah.
Tanpa mengucapkan sepatah kata apapun lagi. Devi langsung mematikan panggilan telepon dari Willy tersebut. Ia merapikan sisa sarapannya, sebelum segera bergegas berangkat kerja.
Devi kembali merenungi nasibnya. Dia merasa hidupnya seperti tidak berguna lagi. Sebagai seorang perempuan, Devi sudah tidak sempurna dengan penyakit yang dideritanya. Begitu juga sebagai seorang manusia, Devi tidak mendapatkan hak-hak yang seharusnya dia dapat. Willy telah merebut semua hak Devi sebagai seorang manusia.
Begitu sampai di ruangan kerjanya. Tangan Devi langsung ditarik kuat oleh Willy. Ekspresi marah tak dapat disembunyikan lagi oleh Willy. Ia terlihat kecewa akan Devi yang selalu mematikan panggilan telepon darinya, padahal Willy belum selesai berbicara dengan Devi.
__ADS_1
Di ruang kerja Willy, Devi habis dimaki-maki oleh Willy. Matanya tak menangis, tapi hatinya terasa begitu teriris oleh ucapan yang dilontarkan Willy kepadanya. Sebuah silet mungkin masih bisa ditahan ketika menyayat tubuh. Tapi ucapan dari seorang Willy, tak bisa lagi ditahan oleh hatinya. Ucapan yang menghancurkan berkeping-keping hatinya.
Puas memaki Devi dengan ucapan kotor dan jahatnya. Willy meninggalkan Devi sendiri di ruang kerjanya. Sebuah bantingan keras, dilakukan Willy saat menutup pintu ruang kerjanya. Ia begitu marah pada Devi.
Seandainya saat itu Devi tidak mabuk berat. Mungkin Devi tidak akan terjebak dalam situasi yang buruk saat ini. Ini akibat kebodohannya dulu, yang akhirnya membuat Devi harus menanggung resiko di hari ini.
Puluhan photo bugil dari Devi disimpan Willy di handphonenya. Handphone pintar yang selalu tersembunyi di saku celana kanannya. Sebuah benda yang tak terpisahkan dari seorang Willy.
Namun, entah Willy lupa atau memang sengaja meninggalkan handphone miliknya diatas meja kerjanya. Handphone yang biasa berada digenggaman erat tangan Willy, serta saku celananya tersebut. Kini tergeletak begitu saja diatas meja.
Tak ada tanda-tanda Willy akan kembali. Hingga Devi bisa memainkan handphone Willy sepuasnya.
Devi langsung mengambil handphone tersebut. Menyalakan handphone itu, sebelum Devi harus membuka kunci layar yang berisi 6 angka.
Devi mengingat kembali akan ucapan dari Willy akan password di handphonenya. Tanggal jadian dirinya dengan Willy menjadi password handphonenya. Devi segera mencocokkan password tanggal jadian dirinya dengan Willy.
Beruntung bagi Devi, ternyata password itu benar. Handphone Willy yang menjadi tempat Willy menyimpan puluhan photo bugil Devi, akhirnya terbuka. Kini Devi bisa dengan bebas menghapus seluruh photo bugil dirinya. Hingga Devi akan bebas sepenuhnya dari cengkraman Willy.
Satu persatu photo bugil itu dihapus oleh Devi dari ponsel Willy. Devi sempat dibuat jantungan, ketika dokter Mike yang merupakan kepala rumah sakit. Membuka pintu ruangan Willy. Devi langsung menyembunyikan handphone Willy, saat dokter Mike membuka pintu.
"Dokter Devi? Bukannya dokter hari ini izin tidak masuk?" Tanya Dokter Mike menghampiri Devi.
"Iya dok. Tadi sempat sedikit pusing, tapi setelah minum obat. Pusing itu hilang begitu saja. Daripada bosan di rumah, mending masuk saja." Jawab Devi penuh kebohongan.
"Kalau boleh tahu, kemana dokter Willy?" Tanya dokter Mike kembali.
__ADS_1
"Emmm dokter Willy lagi ke toilet sebentar. Mungkin beberapa saat lagi dia akan kembali dari toilet." Jawab Devi kembali berbohong.
"Ya sudah kalau begitu, jika dokter Willy sudah ada. Tolong menghadap ke ruangan saya. Ada beberapa file yang harus ditandatangani oleh dokter Willy." Pinta dokter Mike.