
Kabar launching dari klinik Devi, membuat Willy geram. Dengan pembukaan klinik itu, Devi mungkin saja akan semakin sombong. Dia tidak akan lagi meminta bantuan pada Willy. Hingga akan menjadi seorang perempuan mandiri yang tak bergantung pada Willy.
Willy tak tinggal diam. Dia ingin melakukan sesuatu untuk membuat klinik baru yang Devi buat itu tidak berjalan dengan baik. Willy yang memiliki sifat emosional tinggi. Tak pernah berpikir panjang dalam melakukan tindakan yang akan merugikan dirinya. Dia hanya berpikir saat itu saja. Tanpa memikirkan resiko yang mungkin akan terjadi padanya.
Kekesalan pada Devi akan pembukaan klinik barunya. Langsung membuat Willy terpikir sebuah ide jahat nan beresiko. Willy hanya berpikir, hari ini dia harus melakukan tindakan sesuatu yang tentu bisa membuat Devi hancur. Begitu juga dengan klinik yang baru dibukanya. Dia tak memikirkan apa yang mungkin akan terjadi selanjutnya.
Willy mendatangi seorang mantan narapidana yang dia kenal dari temannya. Dia pernah sekali tertangkap dalam kasus kekerasan. Tapi dia selalu lolos dari beberapa kasus pembakaran lawan bisnis dari temannya tersebut. Hingga Willy tak heran untuk menggunakan jasa dari mantan napi itu dalam membakar klinik baru dari Devi.
Menunggu hampir 15 menit di depan rumah kontrakan tempat narapidana itu tinggal. Akhirnya Boim, nama dari narapidana itu keluar dari dalam rumahnya. Dengan tubuh yang diselimuti tato, Boim nampak begitu seram. Tubuh kekar dengan perut yang agak buncit. Semakin membuat Boim terlihat menyeramkan. Tapi ini justru yang dicari oleh Willy. Seseorang yang tentunya memiliki perawakan yang menyeramkan dengan aksi nekatnya.
Boim sempat menawarkan minum untuk Willy. Namun Willy menolak tawaran minum dari Boim tersebut. Willy yang dikenal higienis, tentu tidak Sudi untuk minum di kontrakan Boim yang kumuh. Willy pun langsung meminta Boim untuk mengobrol dengannya.
__ADS_1
"Ada keperluan apa bapak datang ke kontrakan saya?" Tanya Boim.
" Perkenalkan, nama saya Willy. Saya hanya ingin mengajak bang Boim buat bekerjasama." Jawab Willy dengan begitu ramahnya.
"Bekerjasama dalam rangka apa?" Tanya Boim kembali dengan raut wajah penasaran.
"Saya ada tugas buat bang Boim. Tidak susah sih tugasnya, bang Boim hanya perlu membakar sebuah klinik yang baru buka milik mantan pacar saya." Jelas Willy.
"Tenang saja bang Boim. Ada imbalan yang setara, jika bang Boim berhasil menyelesaikan tugas ini. Bang Boim tidak perlu khawatir." Janji Willy pada Boim.
"Berapa yang bapak bisa kasih, jika saya berhasil menjalankan tugas tersebut dengan baik?" Tanya Boim menantang Willy.
__ADS_1
"Seratus juta!" Jawab Willy meyakinkan.
Boim terdiam sejenak. Dia memikirkan apakah dia akan menerima tawaran menggiurkan dari Willy tersebut. Apa mungkin sebaliknya. Boim dilema berat, mengingat ia baru saja bebas dari penjara. Tapi Boim juga butuh uang banyak untuk biaya hidup sehari-hari kedepannya.
"Baik pak saya terima tawaran dari bapak. Begitu saya sudah melakukan tugas itu dengan baik. Saya minta pak Willy langsung memberikan uang tersebut pada saya." Pinta Boim.
"Baik bang Boim, saya akan kasih uang itu dimuka." Janji dari Willy.
"Kapan saya harus melakukan itu?" Tanya Boim kembali.
"Malam ini. Saya minta malam ini kamu bakar klinik mantan saya tersebut." Titah Willy.
__ADS_1