
Dengan penyelidikan intensif yang dilakukan pihak berwajib. Akhirnya pelaku pembakaran klinik milik Devi, yakni Boim. Tertangkap basah oleh polisi.
Tanpa perlawanan berarti, Boim ditangkap pihak berwajib di salah satu kontrakan temannya. Saat itu Boim dan teman-temannya sedang mabuk berat. Sehingga begitu ditangkap, Boim tidak melakukan perlawanan apapun. Dia hanya terdiam, dengan mulut yang berbicara secara melantur.
Boim segera diamankan kedalam mobil tahanan. Sementara beberapa teman Boim yang juga mabuk berat, terus menggerutu melihat temannya dibawa pihak berwajib. Mereka mencoba membuat polisi tidak membawa Boim kedalam penjara. Mengingat Boim adalah teman yang paling royal bagi mereka.
Polisi dengan segera menertibkan teman-teman Boim tersebut. Satu gertakan dari salah seorang polisi, seketika membuat suasana didalam kost menjadi hening kembali. Semuanya menjadi berjalan normal. Sesuai apa yang ada.
Didalam mobil tahanan Boim terus tertawa. Mungkin efek minuman keras yang di minum olehnya mulai berasa. Hingga Boim mulai merasa pikirannya dalam zona fantasi yang lain. Zona dimana dia merasa sesuatu yang menenangkan dalam pikirannya. Membuang semua masalah yang berkutat dalam hidupnya.
Penetapan Boim sebagai tersangka sendiri, didasari oleh sidik jari dari Boim yang terperangkap didalam baju milik pekerja bangunan. Boim yang memukul tepat dibawah punggung si pekerja bangunan. Tanpa disadari, ternyata meninggalkan jejak disana. Hingga dengan mudah, pihak kepolisian mengungkap pelaku pembakaran dari klinik milik Devi.
__ADS_1
Salah seorang polisi langsung memberitahu pada Devi, jika pelaku pembakaran itu sudah tertangkap. Devi di minta untuk mendatangi kantor polisi. Dengan segera Devi mendatangi kantor polisi untuk mengetahui motif pembakaran yang dilakukan oleh Boim tersebut.
Setiba di kantor polisi, Devi yang sudah berada di dalam ruangan penjara. Langsung menyambut kedatangan Boim dengan sebuah pukulan keras menggunakan tas mahal miliknya. Devi masih tak terima, klinik yang baru ia buka. Langsung mendapat serangan yang cukup frontal dari Boim. Hingga Devi langsung meluapkan amarahnya pada Boim, setibanya Boim di kantor polisi.
Aksi Devi itu langsung segera dihentikan oleh pihak kepolisian. Sebagaimana pun, Devi tentu tidak boleh melakukan aksi main hakim sendiri. Aksi yang tentu tidak dapat terpuji secara moral itu. Namun semuanya juga memahami amarah Devi yang memuncak, tidak dengan mudah bisa dibendung begitu saja. Mengingat Devi harus kehilangan klinik yang baru saja dia buka itu.
Boim dibawa kedalam kantor, dimana Boim siap dimintai keterangan lebih lanjut. Beberapa polisi yang sudah siap menggali informasi dari Boim. Siap menanyakan beberapa pertanyaan penting yang nantinya akan mengerucut pada motif Boim membakar klinik milik Devi.
Sebelum mendudukkan Boim dengan Devi secara empat mata dalam satu ruangan. Pihak kepolisian segera memborgol tangan Boim. Tentu itu penting untuk membuat Boim tidak melakukan tindakan yang tidak diinginkan pada Devi. Boim yang perlahan mulai sadar. Terlihat hanya bisa menunduk, begitu kedua tangannya di borgol oleh seorang polisi. Dia hanya bisa pasrah, dengan apa yang terjadi kepadanya. Mengingat aksinya dilakukan secara sadar.
Hanya menyisakan dua orang didalam ruangan itu. Boim dengan wajah putus asa. Berhadapan dengan Devi yang begitu terlihat kesal dengan Boim. Keduanya saling menatap satu sama lain. Devi terlihat begitu murka dengan apa yang telah Boim lakukan pada klinik miliknya.
__ADS_1
"Akhirnya loe tertangkap juga. Orang tak bertanggung jawab yang membakar klinik gue." Devi memulai pembicaraan dengan nada tinggi.
Boim sesekali menatap wajah Devi yang terlihat begitu marah.
"Loe laki-laki pengecut yang cuman bisa membakar usaha orang lain. Apalagi gak tega dengan aksi loe yang pengecut itu. Loe tahu berapa kerugian yang gue rasakan berkat ulah loe tersebut!" Bentak Devi.
Boim yang semakin sadar, terus terdiam. Bahkan saat Devi mulai memegang dagunya, Boim hanya bisa menatap sedikit wajah Devi. Dia terus mengalihkan pandangannya dari wajah Devi.
"Jawab pengecut!" Bentak Devi kembali melempar dagu Boim dengan begitu kasarnya.
Suara keras dari Devi yang terdengar hingga keluar ruangan itu. Langsung membuat polisi lain yang berada diluar ruangan panik. Mereka takut Devi kalap, tak mampu menahan emosinya. Hingga akhirnya melakukan tindakan kekerasan pada Boim.
__ADS_1
Seorang polisi kemudian membuka pintu ruangan itu. Dia melihat Devi yang nampaknya mulai menangis. Sementara Boim nampak menyesali perbuatannya tersebut. Dia akhirnya tersadar, apa yang telah dia perbuat. Sungguh tidak baik. Boim nampak menyesali, namun itu telah terlambat. Semua sudah tidak ada artinya lagi untuk menyesalinya. Semuanya sudah berakhir. Pintu penyesalan sudah tidak ada untuk Boim. Kini dia hanya perlu bertanggung jawab atas apa yang telah dibuatnya.