
Amasya begitu terlihat cantik dengan dress merah jambu pendek yang dikenakan olehnya. Dengan sebuah bandana berwarna senada dengan dresnya. Amasya tak sabar untuk mengecek kondisi kandungannya yang baru memasuki usia lima minggu.
Hari ini Juan berjanji untuk tidak mengambil lembur di kantor. Hingga Juan hari ini bisa pulang cepat. Terlebih Juan sudah berjanji pada Amasya untuk mengantar Amasya memeriksa kandungannya di sebuah klinik.
Begitu jam pulang tiba, Juan langsung bergegas ke parkiran mobil. Dia tak sabar untuk mengantar istri tercintanya untuk mengecek kandungan. Mungkin ini akan jadi kali pertama bagi Juan mengantar Amasya periksa kandungan ke klinik.
Juan terus membayangkan betapa indahnya saat dia memasuki ruang pemeriksaan bersama Amasya. Mungkin dia akan melihat jenis kelamin dari buah hatinya. Tapi apa dengan usia kandungan Amasya yang masih muda, bisa dilihat hasil USG? Tentu itu tidak bisa. Tapi tetap saja, Juan akan merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang suami yang mengantar istrinya check kandungan di klinik. Pengalaman yang paling berharga tentunya.
Sampai di rumah, Juan langsung mencari Amasya. Dia begitu terpesona dengan penampilan Amasya sore ini. Dengan dress merah jambu yang dikenakan oleh Amasya, membuat Amasya terlihat begitu mempesona. Semakin cantik dengan dress merah jambu itu.
Juan mencium kening Amasya. Sebelum akhirnya Amasya melepaskan semua pakaian kerja dari Juan. Dia begitu bahagia akan Juan yang menempati janjinya untuk mengantar Amasya ke rumah sakit. Sebuah kado sederhana, tapi cukup berarti untuk Amasya.
Menunggu Juan selesai mandi. Amasya dengan teliti memilih pakaian yang hendak dikenakan oleh Juan. Mungkin sebuah kaos serta celana training panjang. Bisa jadi opsi yang cukup baik untuk dikenakan oleh Juan. Mengingat ini bukan acara formal yang harus mengenakan pakaian casual. Jadi pakaian santai mungkin bisa jadi opsi seorang Juan untuk tetap stylish dalam mengantar Amasya melakukan pemeriksaan kandungan.
Juan langsung berterima kasih pada Amasya yang begitu peka akan kebutuhannya. Dia sangat senang dengan Amasya yang begitu perhatian kepadanya. Sebuah perhatian kecil yang tentu berarti untuk seorang Juan.
__ADS_1
"Istri aku ini emang juara. Belum di minta saja, sudah tahu kalau suaminya ingin pakai kaos hari ini." Ucap Juan sambil terus mengeringkan rambutnya dengan handuk.
"Aku pikir banyak suami yang ketika mengantar istri ke klinik kandungan. Mereka menggunakan setelan seperti ini. Mungkin aku juga bisa merekomendasikan setelan tersebut untuk kamu juga Sayang." Jelas Amasya dengan begitu manisnya.
Begitu badan Juan telah kering. Juan langsung mengenakan baju yang di pilih Amasya untuknya tersebut. Tak ingin membuat Amasya menunggu terlalu lama, Juan memasang baju itu dengan cepatnya. Hingga tak sampai satu menit, Juan telah mengenakan pakaian yang di pilih oleh Amasya untuk dirinya.
SRita menatap wajah ibunya. Kesedihan seakan sulit untuk terlepas darinya. Matanya tak henti meneteskan air mata. Tanpa sepatah kata yang diucapkan oleh mulut kecilnya. Rita langsung memeluk ibunya dengan begitu erat.
Dipelukan ibunya itu, Rita kembali menangis hebat. Dia mengucapkan banyak terima kasih pada ibunya yang masih mau menerima Rita. Sekalipun Rita telah mencoreng nama keluarganya.
Juan terus menunjukkan sikap romantis dirinya pada seorang Amasya. Dia mencium berulang kali kepala Amasya. Menunjukkan bagaimana dirinya begitu mencintai Amasya. Tak lupa juga dia mengelus perut Amasya. Juan begitu bahagia menjalankan perannya sebagai seorang suami. Begitu juga perannya sebagai seorang ayah dalam tempo dekat ini.
"Aku sudah punya nama buat anak kita kelak. Jika anak kita laki-laki. Maka akan aku berikan nama Raffa Alexander. Rafael Nadal adalah petenis favorit aku. Sementara Alexander adalah tokoh Romawi yang aku sukai. Alexander yang agung. Sementara kalau dia perempuan, akan aku berikan nama Cleopatra Aminah. Kamu tentu tahu Cleopatra itu siapa. Sementara Aminah adalah nama belakang dari bi Imah. Sosok penting dalam hidup aku." Ucap Juan dengan begitu panjangnya.
"Nama yang indah. Aku setuju dengan dua nama itu. Aku harap itu akan jadi doa yang bagus untuk calon anak kita kelak." Doa Amasya memegang tangan Juan yang berada di perutnya.
__ADS_1
Tiba di klinik, Juan terus menunjukkan sikap romantis dirinya pada Amasya. Dia merangkul tubuh Amasya, begitu masuk kedalam ruangan klinik. Juan tak henti melemparkan senyum pada Amasya. Keduanya begitu bahagia tiba di klinik dengan selamat. Hingga keduanya tak henti tersenyum bahagia.
Dokter Viona yang telah Juan booking khusus untuk melakukan check up pada kandungan Amasya. Telah berada di ruangannya. Dia terlihat cukup antusias begitu Amasya dan Juan memasuki ruangannya. Terlihat senyuman langsung diberikan oleh dirinya, saat Amasya dan Juan masuk kedalam ruang kerjanya.
Dokter Viona langsung mempersilakan Juan dan Amasya duduk di hadapannya. Dia mendengarkan semua keluhan dari Amasya selama proses kehamilan itu. Dimana Amasya tidak mengalami proses ngidam seperti ibu hamil pada umumnya. Hingga itu sempat menjadi pertanyaan besar bagi seorang Amasya.
"Saya tidak pernah ngidam dok selama proses kehamilan ini. Muntah-muntah pun saya jarang juga." Ucap Amasya.
"Berarti anak kita pintar sayang. Tahu kalau ayahnya lagi sibuk-sibuknya. Jadi dia tidak ngidam sesuatu yang harus banget dituruti oleh ayahnya." Jawab Juan dengan begitu yakinnya.
Semuanya tertawa dengan jawaban spontan dari Juan tersebut. Termasuk dokter Viona. Dia tak bisa menahan tawanya, saat Juan mengatakan hal tersebut. Pasalnya Juan terlihat begitu polos dalam mengatakan hal tersebut.
Kencangnya suara tawa dari Amasya, Juan dan dokter Viona didalam ruangan. Terdengar pula ke telinga Devi, yang melintas di ruangan dokter Viona. Keberadaan Devi di tempat itu atas undangan dari salah satu temannya yang juga bekerja di klinik tersebut.
Devi yang mendengar tawa khas dari Amasya. Langsung mengintip dari celah-celah pintu ruangan dokter Viona. Dia penasaran dengan kedatangan Amasya klinik tersebut.
__ADS_1
Saat melihat nama dokter Viona, sudah tentu kedatangan Amasya ke tempat itu untuk mengecek kondisi kandungannya. Disaat itu, keinginan Devi untuk mejahati Amasya timbul. Amasya tidak boleh hamil, dia harus tidak hamil seperti dirinya. Jadi Devi harus bisa menggugurkan kandungan Amasya tersebut.