Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Juan Datang Ke Seorang Psikiater


__ADS_3

Saran bagus yang di berikan oleh seorang pelayan kepada dirinya. Langsung segera Juan laksanakan dengan secepat mungkin. Juan mulai mendatangi seorang psikiater hasil rekomendasi dari salah seorang temannya. Sebenarnya Juan tidak asing dengan nama psikiater tersebut. Namun Juan lupa-lupa ingat akan nama psikiater yang tidak asing di ingatan seorang Juan.


Juan mencoba mengingat kembali nama seorang Delfira Auriyanti. Nama yang tidak cukup asing bagi seorang Juan. Namun Juan lupa siapa orang di balik nama tersebut. Hingga Juan cukup stress memikirkan nama yang sebenarnya tidak asing dalam ingatannya tersebut.


Tak jauh dari tempat praktek psikiater tersebut. Akhirnya Juan mulai ingat dengan nama orang itu. Delfira. Itu adalah nama salah satu teman SMP Juan terdahulu. Dia salah seorang perempuan cantik yang banyak menarik perhatian para teman pria di sekolah dahulu. Salah seorang yang tertarik pada Delfira tentunya Juan sendiri.


Juan menjadi bernostalgia saat mengingat kembali nama Delfira. Juan mengingat saat dirinya di tolak Delfira secara mentah-mentah oleh Delfira. Padahal Juan menyatakan cintanya pada Delfira di depan kelas, di hadapan teman sekelas serta gurunya. Momen paling memalukan bagi Juan di waktu SMP terdahulu.


Momen itu semakin membuat Juan malu-malu, saat dia mengingat kembali gaya rambut Juan yang begitu terlihat cupu saat itu. Dia tak akan lupa dengan potongan rambut belah dua yang dahulu begitu di gandrungi oleh kalangan remaja saat itu. Juga Juan pastinya yang mewarnai rambut hitamnya dengan sedikit pirang.


Tak ingin semakin dalam menyelami masa SMP yang di lalui Juan dengan berbagai momen lucu serta memalukan. Juan yang ingin segera berkonsultasi dengan Delfira, segera memarkir mobil miliknya di depan tempat praktek Delfira. Seorang sekuriti yang berjaga di depan praktek Delfira menyambut kedatangan Juan dengan begitu ramahnya.


Mamandu Juan Parkir di tempat yang tepat. Hingga membukakan pintu mobil Juan dengan begitu ramahnya. Namun saat Juan akan memberikan sedikit uang tips pada sekuriti tersebut. Sekuriti itu menolak uang pemberian dari Juan. Baginya gaji yang di terima sebagai sekuriti saja jauh sudah cukup. Apalagi gajinya sebagai seorang sekuriti cukup besar. Jadi tidak menerima uang tips yang di berikan oleh para pengunjung ke tempat praktek Delfira. Sebuah pemandangan yang tentu asing bagi seorang Juan. Ketika banyak orang yang dengan memaksa meminta uang tips dan sebagainya. Berbeda dengan sekuriti itu yang menolak uang tips yang di berikan oleh Juan pada dirinya.

__ADS_1


Sekuriti itu meminta Juan untuk mengambil nomor antrian. Sebab nomor antrian hanya tersisa beberapa lembar saja. Hari ini cukup banyak orang yang datang ke tempat Delfira untuk berkonsultasi. Hingga nomor antrian konsultasi cepat habis. Mungkin banyak orang yang sedang mengalami problematika hidup yang berat. Hingga harus berkonsultasi pada seorang psikiater dalam memecahkan masalah yang sedang di hadapi.


Berada di ruang tunggu, Juan bertemu dengan beberapa orang pasien dari Delfira yang terlihat begitu payah. wajah mereka terlihat begitu depresi. Tidak ada senyum yang terlihat di wajah mereka. Hanya keputusasaan yang nampak jelas terlihat di setiap mata para pasien tersebut. Mereka tidak memiliki harapan seperti seharusnya manusia normal pada umumnya. Tetap optimis dalam menggapai sebuah cita-cita dan harapan. Bukan menyerah dengan menunjukkan wajah penuh kesedihan. Sebab sejatinya hidup akan selalu di barengi dengan sebuah masalah.


Juan duduk di dekat seorang perempuan muda yang terlihat murung. Ibunya terus menenangkan perempuan remaja tersebut. Ibunya bercerita jika beberapa minggu yang lalu, pacarnya memutuskan dia. Padahal remaja perempuan tersebut begitu mencintai mantan pasangannya tersebut. Namun realita berkata lain, hingga perempuan remaja itu mengalami depresi seperti sekarang.


Hari-hari remaja itu hanya di habiskan untuk merenung di dalam kamar. Tidak ada komunikasi dengan anggota keluarga lainnya. Selain melakukan scrolling pada sosial media mantan pacarnya. Sesekali perempuan itu menangis saat melihat mantan pacarnya berphoto dengan perempuan lain. Tentu masih ada rasa cemburu dalam hatinya. Apalagi dia begitu mencintai mantan pacarnya tersebut. Tak heran dia merasakan perasaan cemburu tersebut.


Juan merasa beruntung dalam hidupnya. Juan sering mengalami hal yang sama dalam percintaan. Namun Juan masih bisa berdamai dengan hatinya. Sehingga Juan tidak mengalami depresi seperti yang di alami oleh remaja perempuan tersebut.


Menunggu cukup lama, akhirnya waktu untuk Juan masuk kedalam ruang praktek Delfira pun tiba. Juan sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Delfira. Dia menginginkan solusi serta sedikit teman bercerita yang akan mendengarkan seluruh keluh kesah dari dirinya yang begitu banyak.


Juan membuka pintu ruang praktek dari Delfira. Dia terlihat begitu malu-malu untuk dapat bertemu dengan Delfira. Juan menutup pintu ruang praktek tersebut dengan begitu berhati-hati. Kemudian Juan mulai berjalan menuju kursi di hadapan seorang Delfira.

__ADS_1


"Selamat sore." Sapa Juan sambil duduk.


Delfira yang tak asing dengan wajah Juan. Mulai mengingat wajah Juan di memori otaknya. Wajah Juan nampak tidak asing. Namun Delfira lupa dengan sosok Juan sendiri. Begitu Juan menyebutkan nama lengkapnya. Delfira pun akhirnya ingat siapa Juan. Hingga Delfira langsung mengingat kembali masa-masa SMP terdahulu yang pernah di lalui bersama dengan Juan. Termasuk saat Delfira menolak cinta Juan. Delfira masih ingat kenangan yang terasa seperti kopi tanpa gula. Atau juga jamu tanpa aren. Mungkin sepahit itu perasaan Juan saat mendapat penolakan dari seorang Delfira terdahulu.


Tidak ingin terus berada dalam kenangan yang menyakitkan bagi seorang Juan. Delfira mulai memfokuskan diri untuk menangani permasalahan yang sedang Juan alami. Dengan begitu, Delfira bisa tahu apa yang Juan butuhkan. Sebuah bantuan psikologis yang saat ini Juan sangat butuhkan.


Juan menceritakan semua keluh kesahnya pada seorang Delfira. Bagaimana dia masih cukup berat untuk menerima kenyataan keguguran yang di alami oleh Amasya. Sebuah kesedihan tersendiri bagi seorang Juan sebagai seorang suami.


Melihat Amasya yang terbaring kaku, rasanya begitu berat untuk Juan. Di tambah kehilangan calon buah hatinya. Semakin menambah penderitaan Juan. Dia ingin sekali berteriak untuk melampiaskan segala kesedihan yang di alami olehnya saat ini. Namun tentu itu suatu hal yang tidak etis. Juan ingin bercerita pada seseorang, tapi dia takut untuk menceritakan kesedihan yang di alaminya. Kesedihan yang mungkin saja di anggap sebagai titik paling lemah dari Juan. Hingga orang lain akan menganggap Juan begitu lemah tak berdaya.


Mungkin dengan datang ke tempat psikiater seperti Delfira. Juan bisa lebih tenang lagi. Dia akan lebih tenang lagi dalam bercerita. Sebab Juan tidak akan takut dihakimi seperti yang ada di pikirannya saat ini.


Begitu juga dalam hal solusi yang Juan dapatkan. Mungkin dengan berkonsultasi pada Delfira, Juan akan mendapatkan sebuah solusi yang baik dalam hidupnya. Tidak sekedar solusi biasa yang lewat begitu saja. Juan akan mendapatkan solusi terbaik yang akan dia terima.

__ADS_1


Delfira begitu menyimak dengan seksama cerita dari seorang Juan. Dia begitu terlihat antusias mendengarkan semua keluh kesah Juan. Hingga Juan bercerita dengan begitu terbuka pada seorang Delfira.


Juan sudah mengeluarkan semua unek-unek yang ada di hatinya. Saatnya bagi Delfira untuk memberikan solusi atau masukan pada seorang Juan. Delfira tidak banyak memberikan masukan pada Juan. Dia hanya meminta Juan untuk tetap optimis. Sebab hidup Juan dan Amasya tidak hanya berakhir di hari ini. Masih ada hari-hari mendatang yang akan mereka hadapi. Mungkin di hari-hari mendatang itu Juan dan Amasya akan mendapatkan keberuntungan kembali. Juan harus lebih optimis, hingga energi positif dari Juan bisa di salurkan pada Amasya.


__ADS_2