
Amasya membuka lemari baju yang dipenuhi oleh puluhan baju mewah pemberian ayahnya. Satu persatu baju itu dikeluarkan oleh Amasya dari lemari. Ditempelkan ke badan, saat dirasa kurang cocok. Nania langsung melempar baju keatas kasur.
Satu persatu baju-baju itu mulai memenuhi kasur Amasya. Baju-baju yang tak menjadi pilihan Amasya untuk menonton film bersama Juan.
Turtleneck Blouse dan Jeans akhirnya menjadi pilihan Amasya untuk menonton film bersama Juan. Dipadukan dengan sebuah sneaker berwarna putih terang. Semakin menambah kecantikan Amasya. Dia yakin penampilannya akan menghipnotis Juan malam ini.
Baju telah di pilih. Amasya kembali memasukkan semua baju yang tak menjadi pilihannya kedalam lemari. Selepas itu dia langsung menarik handuk untuk mandi.
Hanya Menyisakan setengah jam lagi. Make up flawles yang di pilih Amasya, cukup untuk menambah penampilannya. Amasya kembali bercermin, tersenyum sedikit. Cukup, dia pikir penampilannya cukup baik untuk menonton film bersama Juan.
Amasya meminta izin terlebih dahulu kepada kedua orangtuanya. Termasuk kepada Devi yang saat itu asyik memainkan ponselnya. Melihat Amasya begitu bahagia, Devi menjadi penasaran dengan Juan yang telah menjadi pacar Amasya saat ini.
Devi mengintip dibalik gorden rumahnya, matanya fokus melihat Amasya yang sudah siap menunggu Juan di depan gerbang rumah. Tak berselang lama sebuah mobil mewah berhenti tepat di depan Amasya. Pria itu keluar dari mobil dengan posisi membelakangi Devi. Hingga Devi tidak nampak wajah pria yang menjadi kekasih kakak tirinya tersebut. Devi pun hanya mendapatkan rasa penasaran, tanpa mengetahui siapa yang menjadi pacar Amasya tersebut.
Didalam mobil, Juan tak henti memuji penampilan Amasya yang tampil cantik. Sesekali Juan melirik kearah Amasya yang berada di samping kanannya. Tersenyum manis yang membuat Amasya menjadi salah tingkah. Tangan kanannya pun tak henti menggenggam tangan Amasya yang berada disampingnya.
Mengunjungi terlebih dahulu sebuah restoran Jepang ternama. Juan mengajak Amasya untuk makan malam romantis. Tak lepas memegang tangan Amasya. Juan begitu ketakutan Amasya tak ada disampingnya.
Seorang pelayan restoran menghampiri Juan dan Amasya.
"Maaf Kakak untuk berapa orang?" Tanya si pelayan dengan senyum ramahnya.
"Pastinya cukup dua kursi untuk saya dan pacar saya tercinta ini." Jawab Juan menatap mesra Amasya.
"Mari saya antar kakak menuju meja." Ajak si pelayan.
Pelayan perempuan itu membawa Amasya dan Juan menuju meja yang akan menjadi tempat keduanya makan. Sambil menuju meja tersebut, si pelayan mengucapkan kalimat selamat datang untuk menyambut kedatangan dari Amasya dan Juan. Kemudian disambut oleh para staf restoran lainnya.
Dua kursi dengan satu meja, sesuai dengan permintaan dari Juan. Dimana keduanya duduk saling berhadapan.
"Kakak jika ingin melihat menu kami secara online. Bisa scan barcode yang tersedia diatas meja. Jika tidak, kami ada buku menu juga." Tawar si pelayan.
"Kita scan saja mbak." Ucap Juan mengeluarkan handphone dari saku celananya.
"Baik. Jika ingin memesan tinggal tekan tombol merah saja. Nanti saya atau teman saya yang lain akan mencatat pesanan kakak." Ucap si pelayan.
__ADS_1
"Baik mbak." Jawab Juan.
Si pelayan kembali pergi meninggalkan Juan dan Nania. Sementara Juan langsung melakukan scan atau pindai melalui handphone miliknya.
"Kamu mau makan apa sayang?" Tanya Juan sambil melihat-lihat menu yang tersedia.
"Aku ingin makan salad sama sushi saja. Kamu sendiri?" Ucap Amasya.
"Aku makan chicken karage saja." Jawab Juan.
'Itu saja?" Tanya Amasya.
"Iya. Minuman kamu mau apa?" Tanya Juan.
"Cold ocha saja. Kamu sendiri mau minum apa?"
"Sama saja seperti kamu. Cold ocha. Biar semakin sejuk malam ini." Jawab Juan.
Juan memanggil pelayan untuk menuliskan menu pesanan yang ingin dia pesan. Kemudian seorang pelayan pria menghampiri meja makan Juan dan Amasya.
"Selamat malam kakak, bisa saya catat pesanan kakak berdua?" Tanya si pelayan.
"Baik kakak. Saya tuliskan pesanan kakak. Kakak tunggu dalam kurun waktu 10 sampai 15 menit untuk makanan dan minumannya." Terang si pelayan.
"Baik." Jawab Juan singkat.
Sembari menunggu makanan yang mereka pesan tiba. Juan kembali meminta pendapat Amasya mengenai film yang akan mereka tonton.
"Oh iya sayang. Kira-kira kita nonton film apa malam ini?" Tanya Juan.
"Kamu bilang kita bakal nonton film romance?" Jawab Amasya.
"Iya, tapi aku belum tahu film apa yang bakal kita tonton." Ujar Juan.
"Kenapa kita gak nonton film yang sedang viral saja. Kata orang-orang filmnya seru." Tawar Amasya.
__ADS_1
"Enggak deh yang. Aku pikir itu bukan film yang bagus. Masa kuntilanak melahirkan di semak-semak. Enggak deh. Gak rasional." Jelas Juan.
"Gak rasional atau kamu takut?" Tanya Amasya menantang.
"Gak rasional. Aku pikir film tersebut gak rasional. Aku gak takut sama hantu." Juan meyakinkan.
"Kamu cuman dapat bocoran dari orang, tanpa melihat. Sama saja bohong. Gimana kalau kita tonton dulu. Baru kita bisa kasih penilaian." Tawaran Amasya.
"Ok. Siapa takut. Kita tonton film tersebut. Aku pikir film itu memang benar-benar gak rasional sih."
"Ok. Berarti kita nonton film horor itu yah." Amasya menyodorkan tangan.
"Ok. Aku setuju." Juan menjabat tangan Amasya.
Tak berselang lama. Satu persatu makanan yang mereka pesan datang. Seorang pelayan pria yang mengantarkan pesanan mereka mulai menata rapi piring dan mangkuk berisi makanan yang di pesan oleh Amasya dan Juan.
Juan memimpin doa. Kemudian keduanya langsung menyantap makanan mereka masing-masing. Keromantisan tetap ditunjukkan oleh keduanya. Dari saling menyuapi satu sama lain. Hingga dengan penuh perhatian Juan membersihkan sedikit kotoran yang menempel di samping mulut Nania. Hingga cinta semakin tumbuh dihati keduanya.
Usai kenyang makan malam. Kini saatnya untuk bergegas ke gedung paling atas untuk menonton film horor yang menjadi perbincangan. Film berjudul Kuntilanak Melahirkan, menjadi film yang banyak di gandrungi oleh semua kalangan. Tua muda menonton film tersebut. Hingga popularitas film itu semakin besar.
Mendapatkan kursi di baris ketiga dari depan. Juan dan Amasya sudah siap menyaksikan film tersebut. Ditangan Amasya juga telah terisi oleh dua buah cup besar berisi pop corn serta minuman.
Lima... Empat.... Tiga.... Dua... Satu... Film itu pun dimulai. Semua penonton mulai memfokuskan mata mereka untuk menyaksikan adegan dari film tersebut. Begitu juga dengan Amasya yang penasaran dengan film yang tengah viral tersebut.
Juan yang mencoba memberanikan diri untuk menonton film horor. Berusaha tidak menutup matanya saat film itu langsung disuguhi adegan super menyeramkan. Juan berusaha membuat dirinya tidak ketakutan untuk menonton film tersebut. Sehingga Amasya tak curiga, jika sebenarnya Juan bukan gak suka kualitas film tersebut. Melainkan ia yang takut untuk menonton film horor.
Adegan seram yang muncul belum membuat Juan ketakutan. Sekalipun beberapa penonton lain langsung menjerit dengan adegan super seram tersebut. Juan berusaha membuat keadaan menjadi normal. Tak nampak ada ketakutan sedikit pun dari wajahnya.
Perlahan adegan film semakin seru. Tak hanya menampilkan karakter setan yang membuat bulu kuduk berdiri. Tetapi adegan sadis yang menciptakan banyak darah juga muncul. Hingga beberapa penonton lain langsung mual muntah melihat adegan ekstrim tersebut.
Tangan Juan sedikit bergetar menyaksikan adegan yang penuh darah dan menegangkan tersebut. Amasya yang mulai merasakan tremor yang terjadi di tangan Juan. Hingga dia mulai menyaksikan wajah Juan yang nampak semakin ketakutan.
Puncak ketakutan dari Juan adalah saat adegan film yang menampilkan sebuah pembunuhan sadis. Dimana banyak darah yang memenuhi layar. Darah yang mengucur deras menciptakan momen menegangkan sekaligus menakutkan bagi seluruh penonton. Juan yang mulai tak kuat, akhirnya menutup mata dan wajahnya menyaksikan adegan film tersebut.
Akhirnya Juan mengakui dirinya memang benar-benar ketakutan menonton film horor tersebut. Hingga Juan mengajak Amasya untuk segera pergi dari bioskop tersebut.
__ADS_1
Amasya yang sengaja menggoda Juan, menolak permintaan Juan. Amasya justru meminta Juan untuk menyaksikan adegan lainnya yang masih seru. Tetapi Juan terus menutup wajah penuh ketakutan.
Tak ingin Juan semakin ketakutan. Akhirnya Amasya menuruti permintaan Amasya untuk menyudahi menonton film tersebut. Keduanya segera meninggalkan gedung bioskop untuk mengindari menonton film itu.