Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Minggu Pagi di Rumah Tangga Amasya dan Juan


__ADS_3

Kumandang adzan seketika membangunkan Juan dari tidur lelapnya. Juan menyalakan lampu yang berada di sampingnya. Seketika kegelapan yang menyelimuti kamar, sirna oleh cahaya lampu yang terang benderang mengisi kamarnya.


Amasya yang nampak lelah dengan kegiatan yang seharian dijalani olehnya. Masih terlelap tidur dengan kebisingan yang mulai terdengar dari segala penjuru rumahnya.


Melihat Amasya yang tertidur lelap menghadap kearahnya. Juan tak melewatkan kesempatan emas untuk memandang wajah cantik dari seorang Amasya. Ia tersenyum ketika melihat betapa manisnya Amasya saat terlelap tidur. Tangan Juan tak ingin melewatkan untuk menyentuh wajah mulus Amasya yang sedikit tersapu oleh helaian rambutnya.


Sentuhan lembut dari tangan Juan, seketika membuat Amasya terbangun. Amasya terkejut melihat Juan yang sudah berada dihadapannya dengan dengan wajah penuh kebahagiaan menatap dirinya.


"Tidur lagi sayang, kalau kamu masih ngantuk." Juan dengan penuh kelembutan.


"Kamu dari tadi sudah bangun sayang? Kenapa gak bangunin aku."


Juan tersenyum.


"Kenapa gak bangunin aku?" Amasya mulai manja pada Juan.


Seketika Juan memeluk erat tubuh Amasya.


"Aku tidak tega melihat kamu tidur lelap seperti itu. Aku pikir kamu butuh banyak tidur. Sehingga aku tidak harus membangunkan kamu. Sampai kamu bangun sendiri sayang." Ujar Juan.


"Tapi ini belum adzan shubuh?" Tanya Amasya penasaran.


"Udah atau belum yah..." Jawab Juan menggantung.


Amasya melirik kearah jam dinding. Tentu adzan shubuh telah terlewat. Mengingat adzan shubuh dimulai pukul lima kurang. Sedangkan saat ini, sudah menunjukkan pukul 5 pas.


Amasya mengajak Juan untuk shalat berjamaah. Dimana Juan menjadi imamnya, sementara dirinya dan Rini menjadi makmum. Ide yang bagus, mengingat diluar juga cuaca sedang tidak bagus. Dimana gerimis yang disertai percikan petir menghantam langit.


Juan terlebih dahulu masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Sementara Amasya mendatangi kamar Rini untuk mengajaknya shalat berjamaah bersama dengan Juan.

__ADS_1


Baru akan membaca iqomah, Rini langsung membatalkan shalatnya. Rini langsung membuka pintu kamar, ketika Amasya mengetuk pintu. Untuk mengetahui maksud dan tujuan dari Amasya mengetuk pintu kamarnya.


"Eh mbak Amasya, ada apa yah mbak?" Tanya Rini dengan logat daerahnya yang masih cukup kental.


"Kamu sudah mau shalat shubuh Rin. Tadinya aku mau ngajak kamu buat shalat berjamaah bersama Juan." Jawab Amasya.


"Boleh mbak. Lagi pula aku belum shalat juga kok." Ucap Rini antusias.


"Ya sudah, kalau seperti itu nanti kamu tunggu di ruang keluarga yah. Kamu pasang sajadah terlebih dahulu. Nanti aku dan Juan nyusul kamu." Titah Amasya pada Rini.


"Siap mbak Amasya. Laksanakan!" Tegas Rini semakin antusias.


Rini menarik kembali sajadah yang sempat ia pasang disamping tempat tidurnya. Dia membawa sajadah itu menuju ruang keluarga yang disulap menjadi tempat shalat berjamaah Juan dan Amasya. Selain menggelar sajadah untuk dirinya, Rini juga menggelar sajadah untuk Juan dan Amasya.


Sajadah sudah siap. Juan yang bertindak sebagai imam sudah siap juga dengan sebuah gamis putih serta peci berwarna hitam. Mata Rini tak bisa berkedip saat memandang paras tampan wajah Juan. Rini terpana akan ketampanan Juan kala mengenakan gamis dan peci tersebut.


Tak lama Amasya datang juga ke tempat shalat. Dengan sebuah mukena putih yang memiliki renda bunga. Amasya terlihat begitu cantik. Terlebih saat Juan menggoda Amasya, yang membuat Amasya tersenyum. Semakin menambah kecantikan alami dari seorang Amasya.


Disepanjang shalat itu, Amasya tak henti meneteskan air mata. Dimana suara indah yang keluar dari bacaan shalat Juan, membuat Amasya terenyuh. Indah, penuh penghayatan dan bacaan yang sesuai pada kaidah yang ada. Membuat apa yang dibaca oleh Juan terasa sempurna.


Tak hanya Amasya yang kagum akan suara indah saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an. Rini juga turut terharu dengan kepiawaian Juan membaca ayat suci Al-Quran. Suaranya begitu menyejukkan hati. Sehingga seseorang akan jatuh cinta dengan suara dari Juan tersebut.


Pujian yang datang pada Juan, tak membuat Juan tinggi hati. Baginya, semua orang akan memiliki suara yang indah ketika membaca Al-Qur'an sesuai dengan tajwid yang benar. Sebab setiap bacaan memiliki tajwid serta mahroj yang berbeda. Itu yang akan membuat suara kita terdengar indah saat membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.


Selesai dengan shalat shubuh berjamaah yang dihujani air mata dari Amasya. Kini saatnya untuk membuat sarapan. Sepertinya nasi goreng adalah menu yang cocok untuk sarapan pagi ini. Terlebih cuaca hujan diluar, semakin menambah kelezatan dari nasi goreng itu sendiri.


Rini yang piawai memasak, mengajarkan Amasya cara membuat nasi goreng yang lezat. Amasya yang memang belum terlalu pandai dalam urusan dapur, tak keberatan dengan tawaran dari Rini. Ia sangat terbantu dengan tawaran dari Rini akan nasi goreng spesial yang hendak disajikan pagi ini.


Pertama tentu celemek yang Amasya kenakan untuk membuat dirinya lebih nyaman ketika memasak. Setelah itu ia mulai mempersiapkan bahan-bahan yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng spesial bersama Rini.

__ADS_1


Semua bahan telah tersedia, tinggal langkah-langkah memasak yang akan diarahkan oleh Rini. Tak perlu pengarahan berarti, Amasya sudah cukup paham akan langkah-langkah ketika memasak nasi goreng. Hingga Rini hanya perlu mengintruksikan takaran yang harus Amasya gunakan.


Poin paling krusial dibuat oleh Rini. Dimana sebuah bumbu rahasia racikan dari Rini dituangkan kedalam nasi goreng tersebut. Seketika aroma nasi goreng itu menjadi semakin lezat. Hingga Juan yang sedang bersantai sambil memainkan handphonenya, terpesona akan aroma dari nasi goreng tersebut. Juan langsung bergegas ke dapur untuk sekedar mencicipi nasi goreng buatan Amasya pagi ini.


"Aromanya lezat banget sayang." Ucap Juan tiba-tiba.


"Iya sayang. Ini semua berkat bumbu rahasia dari Rini. Rini memang masterpiece dalam membuat nasi goreng." Ucap Amasya.


Juan mendekat kearah Amasya yang terus mengaduk nasi goreng buatannya. Tangan nakal Juan langsung menyomot sedikit nasi goreng yang masih panas tersebut. Seketika Juan merasakan sensasi panas yang teramat, ketika ia mengangkat nasi goreng yang ia comot tersebut.


Tak peduli seberapa panas yang dirasakan. Juan tetap memasukkan nasi yang ia comot kedalam mulutnya. Rasa enak yang dirasakan, mengalahkan panasnya nasi goreng yang Amasya buat. Hingga Juan sudah tak sabar untuk menyantap nasi goreng itu di meja makan.


Nasi goreng spesial pun telah matang. Lagi-lagi Rini membuat nasi goreng itu semakin menarik untuk disantap. Rini membuat sebuah garnis atau hiasan yang cukup menjanjikan di piring tempat nasi goreng itu dihidangkan. Dengan garnis tomat dan timun. Nasi goreng spesial pun semakin estetik.


Juan yang tak sabar untuk menyantap nasi goreng itu. Sudah menyiapkan piring besar untuk mendapatkan porsi yang cukup banyak. Begitu Amasya menaruh diatas meja. Juan langsung menyendok beberapa centong keatas piringnya. Ini akan jadi sarapan paling berkesan untuk Juan. Terlebih suasana hujan diluar.


Selesai Juan menyendokan nasi goreng keatas piringnya. Amasya dan Rini secara bergantian mulai menyendok nasi goreng itu keatas piring masing-masing. Tidak seperti Juan yang menyendok dengan porsi besar. Amasya dan Rini hanya menyendok dengan porsi biasa saja.


Juan yang tak sabar untuk menyantap nasi goreng tersebut. Langsung memimpin doa makan. Mengangkat kedua lengannya mendekat mulutnya. Juan mulai membaca doa makan dengan begitu khusyuk.


Setelah itu, Juan semuanya mulai menyantap nasi goreng itu. Disuapan pertama, Juan tak bisa berkata-kata akan rasa nasi goreng yang Amasya dan Rini buat pagi ini. Rasa nasi goreng ini begitu lezat. Hingga Juan berani memberikan nilai 10 sempurna untuk rasa nasi goreng itu.


Tak larut akan pujian, Amasya tetap mengatakan nasi goreng itu lezat. Tak lepas dari bumbu rahasia yang Rini tambahkan. Bumbu rahasia yang diberikan oleh orangtuanya di kampung.


Tak hanya membahas seputar rasa nasi goreng yang begitu lezat saja. Namun pagi itu juga, Juan membahas akan kampus yang hendak dipilih oleh Rini untuk berkuliah.


Rini belum memiliki kampus favorit yang hendak ia pilih. Sebab Rini tidak memiliki daftar kampus favorit tersebut. Rini masih kurang informasi akan kampus yang cukup baik di Jakarta.


Amasya akhirnya menyarankan Rini untuk kuliah di kampusnya the dahulu. Dimana lulusan kampus itu, memiliki track record yang cukup baik dalam bidang pekerjaan. Hingga untuk Rini yang ingin bekerja setelah kuliah, bisa memilih kampus tersebut.

__ADS_1


Ide dari Amasya langsung disetujui oleh Juan. Ia melihat kampus itu cukup baik. Mengingat itu merupakan kampus elite yang memiliki track record yang baik secara akademik.


Rini hanya menyerahkan semuanya pada Juan dan Amasya. Ia tak ingin terlalu muluk dalam memilih kampus. Dimana pun Rini berkuliah, ia akan tetap semangat untuk mengejar cita-citanya sebagai seorang arsitek.


__ADS_2