Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Ismi Meluapkan kekesalannya Pada Rehan


__ADS_3

Melihat akrabnya Rehan dengan Amasya saat di rumah sakit. Secara tak langsung menimbulkan rasa cemburu yang ada di hati Isma. Bagaimana juga Rehan adalah suaminya, sehingga wajar jika Isma merasa cemburu dengan kedekatan Rehan dengan Amasya.


Turun dari mobil, Isma dengan wajah cemberutnya langsung bergegas menuju kedalam rumahnya. Sementara Rehan yang masih ada pekerjaan di sekolah. Segera kembali ke sekolah untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang masih belum dia selesaikan.


Melihat mobil Rehan yang akan kembali ke sekolah. Isma memanggil nama Rehan. Dia meminta Rehan untuk kembali kepada dirinya. Isma ingin mengobrolkan banyak hal pada Rehan. Juga mengobrolkan kejadian yang membuat seorang Isma cemburu berat pada seorang Amasya.


Rehan akhirnya memberhentikan mobil. Dia kembali turun dari dalam mobil. Menghampiri Isma yang tetap dengan wajah cemberut dan kedua tangannya di lipat di atas perutnya. Isma sudah tidak sabar untuk meluapkan semua kekesalannya pada Rehan.


Rehan yang tak menyadari kecemburuan daripada Isma pada dirinya. Terlihat begitu santai saat menghampiri Isma. Tidak ada raut wajah bersalah, apalagi takut pada seorang Isma. Dia begitu santai saat akan menghampiri Isma yang terlihat sudah begitu marah pada dirinya.


"Ada apa sayang?" tanya Rehan dengan begitu santainya.


"Ada apa ada apa, kamu mau kemana?" tanya Isma dengan membentak Rehan.


"Bisa gak kalau kamu ngomong sama aku, tidak usah membentak seperti itu. Aku ini suami kamu. Seharusnya kamu bisa menghargai aku sebagai seorang suami kamu. Bukan dengan membentak seperti itu." balas Rehan yang mulai kesal.


"Kamu itu memang pantas mendapatkan bentakan seperti itu. Laki-laki genit, ganjen dan petentengan. Dasar suami tukang selingkuh." Tuduh Isma pada Rehan.

__ADS_1


Mendengar ucapan dari Isma. Sontak Rehan semakin kesal pada Isma. Bagaimana tidak, Isma mengatakan dengan begitu lantangnya jika Rehan adalah seorang pria yang tukang selingkuh. Padahal Rehan tidak pernah berselingkuh dengan siapapun. Isma telah melakukan fitnah yang cukup besar pada seorang Rehan.


"Apa maksud kamu bilang aku tukang selingkuh! Aku tidak pernah selingkuh seperti yang kamu bilang. Aku selingkuh dengan siapa Isma?" Bentak Rehan dengan begitu kerasnya.


"Kalau semua orang mengakui perselingkuhan yang ada. Mungkin tidak akan pernah ada suami yang mau untuk mengakui dirinya telah selingkuh, termasuk kamu." balas Isma tak kalah ngotot.


"Siapa yang selingkuh Isma, aku tidak pernah selingkuh. Lagi pula aku selingkuh sama siapa?" tanyanya kembali.


"Kamu tadi di rumah sakit sama perempuan gatal itu ngapain saja. Sebelum aku masuk, kamu senyum-senyum sendiri sama dia. Kalau bukan selingkuh, itu apa namanya Rehan." jawab Isma menunjuk Rehan dengan jari telunjuknya.


"Kamu sudah gila Isma. Kamu benar-benar gila, aku pikir kamu harus pergi ke psikiater. Mungkin itu cara terbaik buat kamu bisa sembuh." ucap Rehan.


Rehan nampaknya sudah begitu lelah menghadapi sikap Isma yang begitu tengil. Mungkin tidak akan ada habisnya, jika Rehan terus meladeni kata-kata yang dilontarkan oleh Isma. Apalagi Isma di kenal memiliki masalah dengan psikisnya. Hingga Rehan yang seharusnya memilih untuk mengalah. Menyudahi perseteruan yang tiada akhir dengan Isma.


Rehan langsung pergi kedalam mobil. Isma yang masih ingin mengobrol dengan Rehan, mengejar Rehan. Dia berusaha menahan Rehan untuk tidak pergi dari hadapan dirinya. Sebab Isma ingin Rehan mengakui perselingkuhan yang telah di lakukan oleh dirinya dengan Amasya. Sekalipun perselingkuhan itu sebenarnya tidak ada sama sekali. Perselingkuhan yang hanya tercipta dari alam bawah sadar seorang Isma.


"Kamu harus ngaku dulu. Aku tidak akan biarkan kamu pergi, sebelum kamu benar-benar ngaku perselingkuhan kamu dengan perempuan tersebut." ucap Isma.

__ADS_1


Rehan tidak menjawab ucapan dari Isma. Dia hanya menatap wajah Isma yang penuh kecurigaan. Rehan telah lelah dengan sikap Isma yang begitu protektif dan berlebihan pada dirinya. Rehan sama sekali tidak selingkuh, tapi terus di cecar pertanyaan seputar perselingkuhan. Hingga membuat Rehan merasa marah pada Isma.


Melihat wajah Rehan yang begitu terlihat lelah dan capek. Isma mulai menyadari sikap berlebihan dari dirinya pada Rehan. Dia menyesali apa yang telah di lakukan oleh dirinya pada Rehan. Sebuah penyesalan yang tentu tidak akan pernah bisa di lupakan. Rehan benar-benar di buat capek oleh sikap Isma yang naik turun pada dirinya.


Isma yang mulai kembali pada kesadarannya, membuat Rehan tidak tega melihat Isma bersedih. Tapi Rehan juga lelah di buat oleh Isma saat dia benar-benar di luar kontrol. Isma memaki dirinya, memukuli tubuhnya. Hingga kerap mempermalukan dirinya sendiri. Rehan ingin jadi sosok suami yang sempurna bagi Isma. Tapi melihat psikologis dari seorang Isma. Rasanya untuk jadi sempurna hanyalah angan-angan saja. Apalagi Isma memiliki perubahan suasana hati yang begitu cepat. Hingga Rehan tidak mampu memprediksi apa yang akan terjadi pada Isma.


"Maafkan aku Rehan." ucap Isma sembari menangis.


"Aku lelah. Rasanya aku lelah banget. Aku ingin semua ini berakhir, tapi aku tidak mungkin meninggalkan kamu dalam keadaan seperti ini." balas Rehan dengan suara sendunya.


Isma kembali menatap wajah Rehan. Dia benar-benar tidak bisa membayangkan bagaimana Rehan begitu marah akan sikap Isma yang bisa berubah-ubah. Hanya lewat sebuah peristiwa kecil saja. Isma langsung memaki Rehan secara membabi buta.


"Aku tidak akan tahu sampai mana hubungan kita. Aku harap kamu mau untuk pergi ke psikolog untuk memeriksakan kesehatan mental kamu. Aku tahu kamu tidak gila. Tapi kamu punya masalah dengan kejiwaan kamu. Jangan pernah menyembunyikan fakta itu." ucap Rehan.


"Apa kamu akan meninggalkan aku, jika aku menolak untuk pergi ke psikolog?" tanya Isma penuh ketakutan.


"Mungkin saja. Aku bukan super hero, atau seseorang yang punya kesabaran di atas manusia biasa. Aku adalah manusia normal yang memiliki batas kesabarannya sendiri. Aku minta kamu untuk pergi psikolog untuk menyembuhkan kejiwaan kamu yang sedikit terganggu tersebut." jawab Rehan.

__ADS_1


Ingin membuat Isma memikirkan jawaban dari pertanyaan yang di ajukan oleh dirinya. Rehan memilih untuk kembali masuk kedalam mobil. Dia kembali memacu mobilnya menuju sekolah.


Isma sendiri mulai terpikir untuk pergi ke psikolog atau psikiater. Sebab itu satu-satunya cara yang bisa Isma tempuh dalam menyembuhkan perubahan suasana hatinya yang kerap berubah-ubah secara tiba-tiba. Mungkin Isma harus pergi ke psikolog, jika Isma masih ingin menyelamatkan pernikahan dirinya dengan Rehan. Jika tidak, bukan tidak mungkin Rehan akan pergi. Sebab Rehan tidak akan bisa selamanya untuk bersabar dalam menghadapi sikap Isma.


__ADS_2