
Beberapa jam tak sadarkan diri, akhirnya di pemeriksaan yang ketiga. Alvin pun akhirnya sadar. Dia belum terlihat sadar betul, hanya matanya saja yang mulai sedikit terbuka. Sementara sekujur tubuhnya terlihat tak memperlihatkan progres apapun.
Dokter langsung memeriksa tubuh Alvin. Beberapa bagian tubuh Alvin di lakukan pemeriksaan, termasuk bagian mata Alvin yang sudah terbuka lebar. Hasil diagnosa pertama dari dokter, Alvin di diagnosa mengalami stroke berat. Sehingga tubuh Alvin tidak bisa digerakkan sepenuhnya. Hanya matanya saja yang bisa digerakkan oleh Alvin. Tubuh Alvin yang lain tak dapat digerakkan sama sekali oleh Alvin.
Usai melakukan pemeriksaan tersebut. Tim dokter yang di wakili oleh dokter Geri, menyampaikan kabar siuman dari Alvin pada Amasya dan Juan yang tak sabar menunggu perkembangan dari Alvin.
Baru keluar dari ruangan Alvin, dokter Geri langsung di hampiri oleh Juan dan Amasya yang terus berdekatan.
"Bagaimana kondisi mertua saya dok?" Tanya Juan dengan begitu penasarannya.
"Sekarang kondisi pak Alvin sudah siuman. Tapi saya ada sedikit kabar buruk untuk pak Alvin." Jawab dokter Geri dengan wajah lesuhnya.
"Apa dok?" Tanya Amasya yang masih tak henti menangis.
__ADS_1
"Pak Alvin terkena stroke berat." Jawab dokter Geri mengiba.
Tangis Amasya semakin pecah mendengar pernyataan dari dokter Geri. Dia tak percaya ayahnya terkena stroke berat. Mungkin ini adalah berita paling buruk kedua yang Amasya harus terima. Setelah berita kematian ibunya puluhan tahun yang lalu.
Amasya yang tak kuat untuk berjalan ke ruang perawatan dari Alvin. Akhirnya terpaksa harus dipapah oleh Juan. Dia terlihat begitu payah, dengan wajahnya yang tak henti dari kesedihan.
Kesedihan dari seorang Amasya semakin menjadi, setelah dia melihat tubuh Alvin yang terlihat begitu kaku. Hanya kedua matanya yang bisa digerakkan oleh Alvin. Tubuhnya terlihat kaku, sulit untuk digerakkan.
Amasya berlutut di tubuh ayahnya tersebut. Dia meminta maaf pada ayahnya yang tak bisa menjaga ayahnya dari kejadian yang cukup kelam itu. Juan terus meminta Amasya tak menyalahkan dirinya sendiri. Mengingat apa yang terjadi pada ayahnya, sudah menjadi jalan hidup yang memang harus di jalani oleh ayahnya.
Juan yang berhasil menangkap tubuh Amasya yang jatuh pingsan. Seketika membopong tubuh istrinya itu ke ruangan lain. Juan memanggil seorang perawat untuk membawa istrinya ke ruangan khusus. Mungkin Amasya butuh perawatan juga, mengingat dia begitu terkejut dengan kondisi ayahnya sekarang.
Amasya dibawa ke sebuah ruangan. Dimana seorang dokter langsung melakukan pemeriksaan terhadap Amasya. Juan yang terus memegangi tangan Amasya, berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya tersebut. Dia tak bisa membayangkan apa yang mungkin terjadi pada Amasya, jika Amasya jatuh sakit seperti Alvin.
__ADS_1
Tak lama setelah di lakukan pemeriksaan, akhirnya Amasya kembali siuman. Mungkin dia hanya pingsan biasa. Hingga tak harus di lakukan perawatan intensif. Mengingat Amasya hanya terkejut saja. Namun kesedihan dari Amasya tetap tak enyah dari wajahnya, dia tetap terlihat bersedih dengan apa yang terjadi pada Alvin. Amasya tetap tak bisa membayangkan penyakit yang harus di derita oleh ayahnya. Hingga Amasya sangat mengasihi Alvin.
"Aku tidak bisa membayangkan, berapa tersiksanya ayah dengan penyakit yang di deritanya." Ucap Amasya yang kembali menangis.
"Iya Sayang, aku paham akan itu. Tapi aku minta kamu jangan bersedih seperti itu. Kamu harus yakin, ayah kamu bisa sembuh sayang." Balas Juan mencium tangan kanan Amasya.
"Tapi kamu tidak masalah, jika aku akan mengurus ayah di rumah kita?" Pinta Amasya pada Juan.
"Why not... Dia ayah kamu, itu artinya dia ayah aku juga sayang. Jadi boleh saja." Jelas Juan.
"Terima kasih sayang. Aku tidak tahu harus mengucapkan apa lagi sama kamu." Ucap Amasya.
"Sekarang aku minta kamu jangan bersedih lagi. Lupakan semua kesedihan yang ada. Biarkan semuanya mengalir begitu saja. Sekarang kamu harus percaya dengan apapun yang terjadi sama kamu. Kamu janji sayang." Pinta Juan.
__ADS_1
"Iya sayang." Janji Amasya.