
Begitu Darmi masuk kedalam ruang perawatan, Alvin langsung menghubungi Amasya. Dia ingin memberitahu Amasya, jika Darmi jatuh dari anak tangga. Sekaligus Alvin ingin membicarakan kejadian janggal itu pada Amasya. Alvin mencium sebuah keanehan dari kejadian yang menimpa Darmi hari ini. Dimana banyak hal janggal yang terjadi.
Lewat panggilan telepon, Alvin menghubungi Amasya. Cukup satu kali panggilan, Amasya langsung menjawab panggilan telepon dari Alvin. Amasya yang sebenarnya masih mengajar, terpaksa menepi sejenak. Untuk mengangkat panggilan telepon dari ayahnya tersebut.
"Hallo ayah." Amasya memulai pembicaraan.
"Hallo sayang. Kamu masih di sekolah sekarang?" Tanya Alvin dengan nada pelan.
Alvin yang menelpon Amasya dengan menghindari seorang Ratna. Sedikit membuat Ratna curiga. Terlebih Alvin bertelepon dengan suara yang cukup pelan. Semakin timbul pertanyaan besar dalam dirinya. Ratna terus memperhatikan Alvin yang semakin menjauhi Ratna.
"Iya ayah. Aku masih di sekolah. Memang ada apa?" Tanya Amasya kembali.
"Jadi hari ini, pembantu baru kita. Darmi jatuh dari anak tangga. Tapi ayah menemukan sedikit kejanggalan." Jelas Alvin tetap dengan nada yang rendah.
"Maksud ayah bagaimana? Terus bagaimana kondisi mbok Darmi?" Amasya sedikit panik.
"Darmi masih dirawat intensif. Tapi kejanggalan itu cukup membuat ayah bingung. Pasalnya kenapa ada minyak berserakan di tangga. Padahal tidak ada yang membawa jirigen minyak melewati anak tangga rumah kita. Terus siapa yang menyebar minyak itu." Terang Alvin dengan begitu jelasnya.
__ADS_1
"Siapa yang telah menyebar minyak itu? Jahat banget." Amasya semakin panik.
"Tidak tahu sayang. Ayah juga kurang tahu akan hal itu. Tapi ayah curiga terhadap satu orang." Ucap Alvin menggantung.
Ratna tiba-tiba datang. Dengan nada marah, Ratna langsung memotong ucapan dari Alvin.
"Curiga pada siapa?" Tanya Ratna mendekat kearah Alvin.
Alvi. yang terkejut dengan kedatangan seorang Ratna. Seketika mengakhiri panggilan telepon dengan Amasya.
"Apa maksud kamu?" Tanya balik Alvin.
"Aku pikir kamu gila. Kamu sudah gila, begitu mudahnya kamu tersulut emosi seperti ini. Aku tidak mengerti sama kamu." Balas Alvin.
"Kamu yang sudah gila. Bisa-bisanya kamu menuduh istri kamu sendiri. Aku ini istri kamu. Tapi kenapa kamu tuduh aku seperti itu." Ratna kembali mengamuk.
"Siapa yang menuduh kamu. Kenapa kamu seperti seorang pelaku. Aku tidak pernah menuduh kamu sedikit pun. Tapi kamu terlihat seperti seorang pelaku yang melakukan aksi kejahatan tersebut." Ucap Alvin yang semakin membuat Ratna murka.
__ADS_1
"Apa kamu bilang, aku pelaku. Ucapkan sekali lagi. Ucapkan." Amuk Ratna terus memukuli tubuh Alvin.
Melihat tubuh lemah Alvin yang menjadi sasaran amukan dari Ratna. Rio mencoba menenangkan Ratna. Dia berusaha membuat Ratna sedikit lebih tenang lagi. Mengingat Ratna terlihat begitu mengamuk dengan segala yang terjadi.
"Sudah bu. Sudah. Ibu tidak malu dilihat banyak orang. Apa kata orang yang melihat ibu marah-marah seperti ini." Ucap Rio terus menenangkan Ratna.
Ratna yang sadar akan dirinya menjadi tontonan para pengunjung rumah sakit. Akhirnya langsung menghentikan aksi tak terpujinya tersebut. Ratna kembali ke kursi miliknya. Sementara Alvin berdiri tak jauh dari kursi tempat Ratna duduk. Terlihat masih ada rasa amarah dalam diri Ratna pada Alvin.
Tak lama seorang dokter yang menangani Darmi keluar dari ruang perawatan Darmi. Dia membawa kabar yang cukup buruk. Darmi mengalami pendarahan yang hebat di kepalanya. Hingga perlu dilakukan tindakan operasi. Dokter pun melakukan operasi kecil untuk mengobati Darmi.
Operasi dari Darmi berjalan lancar. Hingga nyawa dari seorang Darmi dapat tertolong. Dokter itu tidak bisa memperkirakan jika Darmi telat dibawa ke rumah sakit. Mungkin nyawa seorang Darmi tidak akan tertolong. Mengingat pendarahan yang dialami oleh Darmi cukup parah. Hingga dia harus kehilangan banyak darah.
Mungkin beberapa saat lagi, Darmi akan siuman. Mengingat sudah ada tanda-tanda dari Darmi untuk siuman. Untuk saat ini Darmi belum siap untuk dijenguk oleh siapa pun. Mengingat Darmi masih harus banyak istirahat.
Mendengar semua pemaparan dari dokter yang menangani Darmi. Ratna rasa, tugasnya di rumah sakit telah usai. Tidak ada lagi yang harus Ratna lakukan disini. Sehingga Ratna memutuskan untuk pulang dari rumah sakit. Tak ada permintaan izin pada Alvin. Ratna pulang dengan begitu saja. Dia seolah melupakan Alvin sebagai sosok dari suaminya. Suami yang seharusnya dihormati oleh Ratna.
Alvin sendiri memilih untuk menunggu Darmi sampai siuman. Mengingat Darmi adalah tanggung jawab bagi Alvin juga. Terlebih Devi jatuh di rumah Alvin ketika sedang menjalankan pekerjaannya. Sehingga sudah sepantasnya Alvin untuk menunggu Devi di rumah sakit hingga siuman.
__ADS_1
Begitu Ratna sudah pergi bersama Rio. Alvin langsung kembali menghubungi Amasya. Tidak dengan panggilan video maupun panggilan telepon. Alvin hanya mengirimkan beberapa pesan singkat via aplikasi saja pada Amasya. Alvin meminta Amasya untuk menjenguk Darmi. Selain itu ada sesuatu hal yang ingin Alvin bicarakan pada Amasya. Suatu hal yang cukup penting dalam hidupnya kedepan.
Selepas pulang sekolah, Amasya berjanji akan datang ke rumah sakit untuk menjenguk Darmi. Amasya juga penasaran dengan suatu hal yang ingin Alvin bicarakan padanya. Sepertinya Alvin ingin membicarakan sesuatu yang penting. Hingga dia meminta Amasya datang langsung. Satu pertanyaan besar dalam diri Amasya.