Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Rencana Lamaran Juan Dan Amasya


__ADS_3

Usai pemakaman dari bi Eem. Juan langsung mengajak mengobrol serius kedua orangtuanya. Dengan suasana yang masih berkabung itu, Juan ingin mengobatinya dengan sebuah pernikahan yang diminta oleh bi Eem padanya.


Juan memulai obrolan itu dengan santainya. Juan hanya menanyakan apakah kedua orangtuanya setuju dengan acara lamaran yang akan Juan langsungkan. Mengingat restu dari kedua orangtuanya begitu penting dalam perjalanan cinta Juan dan Amasya.


Kedua orangtuanya seratus persen setuju dengan rencana Juan melamar Amasya. Bahkan kedua orangtua Juan berharap Juan akan segera menikah dengan Amasya pasca lamaran itu. Terlebih ibunya yang sudah tak sabar menantikan seorang cucu dari Juan.


Rasa bahagia dan syukur langsung nampak dari wajah Juan. Dia mengucapkan beribu terima kasih kepada ayah dan ibunya yang telah memberikan restu padanya untuk melamar Amasya sebagai istrinya. Kini Juan tinggal memberitahu Amasya akan rencana lamaran yang akan dibuatnya tersebut.


Bertemu di sebuah kafe di pinggir jalan. Juan nampak gugup menunggu Amasya yang tak kunjung datang. Memainkan kedua jari telunjuknya, Juan terus memantau jam di tangan kanannya.


Akhirnya Amasya yang di tunggu tiba. Dengan Cardigan berwarna merah muda yang berpadu dengan rok mengembang berwarna cream. Amasya nampak cantik. Hingga Juan tak mampu memalingkan pandangannya.


"Maaf aku telat." Ucap Amasya sambil duduk dihadapan Juan.


"Enggak kok. Aku cuman menunggu beberapa menit saja." Ujar Juan.


Melihat Amasya yang nampak kehausan usai berlari menemuinya. Juan langsung menawarkan minuman yang ingin Amasya pesan.


"Oh iya, kamu mau pesan minuman apa sayang?" Tanya Juan.


"Ice lemon tea boleh." Pinta Amasya.


"Makanannya?" Tawar Juan kembali.


"Aku sudah kenyang. Jadi minum aja." Tolak Amasya secara halus.

__ADS_1


Juan mengangkat tangannya untuk memanggil seorang pelayan. Pelayan yang diminta pun menghampiri meja makan Juan. Si pelayan langsung menanyakan pesanan yang ingin dipesan oleh Juan.


"Baik mas. Bisa saya catat pesanannya?" Tanya si pelayan bersiap mencatat pesanan Juan.


"Saya ingin tambahan Ice lemon tea." Jawab Juan.


"Ice lemon tea saja mas. Tidak ada tambahan lain?" Tanya si pelayan sambil mencatat pesanan dari Juan.


Juan hanya menggelengkan kepalanya, pertanda tidak ada makanan lain yang ingin dipesannya. Si pelayan bergegas pergi untuk mengambil segelas ice lemon tea yang di pesan oleh Juan.


Selepas perginya pelayan tersebut. Mata Juan benar-benar tak dapat berpaling dari wajah Amasya. Sesekali dia tersenyum melihat wajah Amasya yang cantik dan mempesona. Tatapan dari Juan membuat Amasya nampak sedikit gugup. Hingga dia terlihat malu-malu kala Juan menatapnya.


"Kamu super cantik hari ini." Puji Juan terus tersenyum.


Amasya hanya tersenyum malu sambil sedikit merapikan helaian rambutnya yang menutupi matanya.


Ketika Amasya akan menanyakan apa yang akan dikatakan Juan kepadanya. Tiba-tiba seorang pelayan pria mengantarkan pesanan ice lemon tea milik Amasya. Dia menaruhnya terlebih dahulu, sebelum dengan ramahnya mengucapkan selamat menikmati pada Juan dan Amasya.


Menyedot sedikit ice lemon tea yang dipesannya. Amasya baru mulai menanyakan maksud dari ucapan Juan yang tadi.


"Ngomong soal apa Juan?" Tanya Amasya penasaran.


"Aku.... Ingin melamar kamu sayang." Ucap Juan memegang tangan Amasya.


Amasya seketika terkejut bahagia mendengar ucapan dari Juan.

__ADS_1


"Kamu serius Juan?" Tanya Amasya mencoba meyakinkan dirinya.


"Iya. Aku serius. Aku ingin melamar kamu. kemudian menikah dengan kamu Amasya." Juan mencium lembut tangan Amasya.


Air mata bahagia seketika bercucuran dari kedua bola mata Amasya. Dia tak mampu menahan kebahagiaan kala Juan berniat melamarnya.


"Aku siapa Juan. Aku siap untuk menikah dengan kamu." Amasya dengan suara terisak-isak.


Juan langsung memeluk erat Amasya. Kemudian mencium kening Amasya dengan begitu mesranya. Selanjutnya Juan ingin menemui orangtua Amasya untuk membicarakan rencana lamaran keduanya.


Selepas bertemu dengan Juan, Amasya langsung pulang ke rumahnya. Dia menemui kedua orangtuanya yang nampak asyik mengobrol di halaman depan rumahnya. Dengan senyum malu-malu, Amasya mencoba menceritakan apa yang terjadi padanya saat menemui Juan.


"Kenapa kamu senyum-senyum seperti itu?" Tanya ayah Amasya.


"Kamu gila?" Ucap Ratna tetap ketus.


Amasya duduk disamping Alvin. Kemudian mulai menceritakan kronologi, Juan melamarnya.


"Jadi yah mah, aku punya kabar gembira untuk kalian. Tadi Juan bilang ke aku. Kalau dia ingin segera melamar aku." Ucap Juan dengan bahagianya.


"Selamat Amasya. Ayah senang banget dengar kabar gembira ini." Ucap Ayahnya dengan begitu gembira.


Devi yang mendengar dari kejauhan, nampak begitu cemburu mendengar Amasya yang akan segera dilamar oleh Juan. Dia kesal lagi-lagi kalah oleh Amasya. Devi yang awalnya akan menemui ibunya, memilih membatalkan rencananya tersebut.


"Terus kapan kamu akan melangsungkan acara lamaran dengan Juan?" Tanya Ratna.

__ADS_1


"Juan bilang ke aku sih minggu depan. Kita lihat saja nanti." Ucap Amasya.


__ADS_2