
Sembari menghisap sebatang rokok, Devi mencoba melepaskan segala beban yang ada dipikirannya. Ditemani segelas kopi hitam pahit yang dipesannya. Devi mencoba untuk berdamai dengan dunianya saat ini.
Kekecewaan, kehancuran dan nasib buruk seakan menjadi jalan cerita hidupnya yang pelik. Devi ingin perjalanan hidupnya lebih baik, atau mungkin sedikit bisa berubah di hari-hari mendatang.
Sebatang rokok telah Devi hisap habis. Menyisakan puntungnya yang masih berasap. Devi kembali mengambil korek gas miliknya, kembali menyulut rokok yang yang telah diberada di depan mulutnya. Satu hisapan pertama, cukup membuat rokok keduanya mengeluarkan bara. Devi kembali siap menghisap rokok itu.
Kembali Devi mengingat hal-hal yang membuat hidupnya terasa hancur. Percintaan dia dengan Willy yang super toxic, seakan membuatnya begitu terluka. Begitu juga dengan kebahagiaan yang didapat Amasya, seolah menjadi sebuah ketidakadilan. Devi berada disisi kelamnya hidup, sementara Amasya berada disisi indahnya hidup. Sehingga Devi merasa tidak adil dengan hidupnya saat ini.
Tak berselang lama seorang teman kuliah Devi datang. Mereka tak janjian, tapi secara kebetulan mereka bertemu di kafe tersebut. Teman Devi bernama Ratu tersebut, akhirnya duduk tepat dihadapan Devi. Dengan senyum sumringah, Ratu melepas rindu pada Devi yang telah setahun lebih tak jumpa.
"Loe kemana aja Dev?" Tanya Ratu.
__ADS_1
"Ada kok. Cuman gue lagi banyak di rumah saja." Jawab Devi kembali menghisap rokok.
"Gue juga penasaran dengan hubungan loe sama Willy. Loe masih pacaran sama diakan Dev?" Tanya Ratu penasaran.
Devi tersenyum sinis. Kembali menghisap rokok. Mengeluarkan asap secara perlahan, sebelum meminum kopi pahit yang dia pesan.
"Loe tahu rasa kopi ini? Iya pahit, sepahit hubungan gue sama Willy. Dia begitu toxic dengan apa yang dia miliki. Menghancurkan batin gue, juga menghancurkan semua perasaan gue padanya sendiri. Sehingga gue sudah gak kuat dengan semuanya. Akhirnya gue menyerah untuk putus dari dia." Tegas Devi sebelum kembali menghisap rokok miliknya.
"Jadi loe sekarang putus dari dia? Sayang banget Dev. Willy anak konglomerat padahal." Balas Ratu.
Ratu terdiam mendengar jawaban Devi. Dia tak bisa lagi membalas ucapan dari Devi. Terlebih kala Devi memintanya untuk berpacaran dengan Willy. Dengan wajah bingung, Ratu kesulitan untuk menjawab pertanyaan dari Devi tersebut. Hingga akhirnya Ratu memilih pergi dari meja tempat Devi berada.
__ADS_1
Dua batang rokok telah habis. Tapi ini tak berhasil, pikiran tetap kacau dengan hati yang semakin galau. Devi menunduk dengan kepala menopang meja. Memejamkan mata sejenak, sebelum akhirnya kembali terbangun oleh suara dering dari ponselnya.
Dengan segera Devi merogoh saku jeans miliknya untuk mengambil ponsel. Devi mengangkat ponselnya sedikit mendekat ke matanya. Dia langsung terkejut kala melihat panggilan telepon tersebut dari Willy. Devi seketika menolak panggilan telepon tersebut. Meletakkan ponselnya diatas meja. Kemudian dia kembali menunduk dengan posisi kepala ditopang oleh meja.
Tetapi telepon dari Willy kembali menggetarkan ponselnya. Sehingga dengan segera Devi menolak panggilan telepon dari Willy tersebut.
Hanya beberapa saat bagi Devi untuk bisa tenang. Pasalnya, setelah itu Willy mengirimkan puluhan gambar Devi yang tengah bugil. Devi langsung terkejut hebat dengan photo-photo tersebut. Sehingga dia langsung menghapus photo-photo tersebut dari layar ponselnya.
Devi menelpon balik Willy. Dengan tegas Devi meminta Willy untuk menghapus photo bugil darinya. Tetapi Willy menolak! Dia mengancam akan menyebarkan semua photo milik Devi yang tanpa busana tersebut, jika Devi menolak balikan dengan Willy.
Devi menolak untuk balikan dengan Willy. Pilihan Devi berpisah dengan Willy adalah pilihan yang sudah bulat. Sehingga tidak bisa diganggu gugat lagi. Devi tidak akan menuruti permintaan Willy untuk balikan kembali padanya.
__ADS_1
Willy semakin marah, ancaman darinya benar-benar nyata. Dia tidak akan main-main untuk mengirim photo bugil Devi itu ke khalayak publik, termasuk pada orangtuanya. Sehingga Devi akan hancur.
Devi akhirnya menyerah dengan ancaman dari Willy. Dia pun akhirnya menerima ajakan balikan dari Willy. Tetapi Devi meminta pada Willy untuk tidak terlalu mendominasi lagi dalam hubungan mereka. Sebab itu yang membuat Devi tidak nyaman dengan Willy. Dengan janji palsunya, Willy mencoba meyakinkan Devi tidak akan bersikap kasar dan sebagainya. Seorang pria lembut yang baik seperti pangeran dalam sebuah kartun.