Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Kepanikan Seorang Willy


__ADS_3

Berulang kali Willy mengubungi nomor telepon dari Boim. Tetapi Boim tak kunjung mengangkat telepon dari Willy. Sewaktu penggerebekan berlangsung, tanpa sengaja Boim menjatuhkan ponsel miliknya. Hingga ponsel itu jatuh keatas tanah, tak bertuan. Panggilan dari seorang Willy pun menguap begitu saja.


Panggilan telepon dari Willy yang tak urung diangkat oleh Boim. Kurang lebih membuat Willy sedikit panik. Pasalnya dia mencium sesuatu yang janggal. Perasaannya juga tidak enak. Hingga pikirannya berlari kesana-kemari dengan begitu tak tenang. Mungkin sesuatu buruk telah terjadi pada Boim. Hingga ia tidak kunjung mengangkat panggilan telepon darinya.


Willy beranjak dari posisi duduknya di kursinya. Dia menyenderkan tubuhnya di meja kerjanya. Willy semakin tak tenang dengan apa yang mungkin terjadi pada Boim. Terlebih Boim yang hingga kini belum bisa dihubungi oleh Willy.


"Kenapa orang itu, dari tadi gak bisa dihubungi terus?" Tanya Willy pada dirinya sendiri.


Perasaannya semakin tidak nyaman. Dia terus berpikir jauh yang mungkin menjadi suatu hal yang buruk akan terjadi pada Boim. Willy tak bisa menghindari pikiran kotornya itu. Hingga Willy harus merasakan sebuah dilema yang teramat berat.

__ADS_1


Untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Willy akhirnya mendatangi kontrakan milik Boim. Dengan begitu, mungkin Willy bisa langsung menemui Boim. Sekedar mencari tahu keadaan Boim saat ini.


Wajah panik dari seorang Willy tak urung hilang begitu saja. Dia masih tak tenang dengan keberadaan dari seorang Boim. Ponselnya sulit di hubungi, sehingga Willy harus mendatanginya secara langsung.


Tiba di depan kontrakan Boim. Willy menemukan ponsel Boim yang tergeletak jatuh. Dia mengambil ponsel tersebut. Pantas Willy tak urung mengangkat panggilan telepon darinya. Ternyata ponsel dari seorang Boim terjatuh keatas tanah. Tapi dimana keberadaan seorang Boim. Itu menjadi sebuah pertanyaan besar dari dalam diri seorang Willy.


Seorang perempuan baru keluar dari Kontrakan yang masih satu lingkungan dengan Boim. Perempuan itu kebetulan berjalan kearah seorang Willy. Hingga Willy bisa dengan mudah menanyakan keberadaan dari seorang Boim pada perempuan tersebut.


"Tanya apa yah mas?" Tanya balik si perempuan tersebut.

__ADS_1


"Kalau boleh tahu, kemana yah penghuni kontrakan itu. Sepertinya saya lihat, kontrakan itu kosong? Tanya Willy menunjuk kearah kontrakan seorang Boim.


"Oh itu kontrakan bang Boim. Tadi siang, bang Boim di ringkus polisi di kontrakan temannya." Jawab si perempuan.


"Apa mbak! Boim di ringkus oleh polisi?" Tanya Willy begitu terkejut.


"Setahu saya sih seperti itu. Cuman saya tidak tahu kenapa dia di ringkus oleh polisi. Mungkin dia gebukin orang atau apa, saya tidak tahu. Dia mantan residivis. Jadi untuk urusan kriminal dia sudah khatam." Jelas si perempuan dengan terang benderang.


Dunia Willy seketika runtuh. Mungkin dia hanya perlu menghitung dalam hitungan jam. Pasalnya bukan tidak mungkin Boim akan buka mulut akan dalang pembakaran klinik dari Devi.

__ADS_1


Sudah pasti nama seorang Willy akan menjadi yang pertama dan satu-satunya yang disebut Boim sebagai dalang kebakaran itu. Mengingat memang dirinya yang memerintahkan Boim untuk membakar klinik dari Devi.


Perempuan yang dihentikan oleh Willy untuk menanyakan keberadaan Boim. Terheran dengan sikap Willy yang berubah diam. Mengapa Willy terdiam seperti itu. Padahal dia hanya mengatakan kebenaran akan Boim. Apa mungkin Willy adalah keluarga dari Boim. Sehingga dia begitu terpukul akan kondisi dari Boim. Pikir si perempuan itu, sambil pergi meninggalkan Willy.


__ADS_2