
Dengan pakaian yang sederhana, Rini sudah siap untuk berangkat menuju kampus. Ini hari pertama untuk Rini datang ke kampus. Sehingga dia begitu antusias untuk mengikuti pelajaran pertama yang bakal diikuti olehnya.
Rini bangun lebih awal dibanding Juan dan Amasya. Dia memasak sarapan yang hendak disantap oleh Juan dan Amasya, tentunya untuk dirinya sendiri. Pagi ini menu yang dibuat Rini begitu sederhana. Hanya roti bakar dengan selai strawberry sebagai topping.
3 gelas susu juga telah Rini persiapkan untuk Juan dan Amasya. Susu untuk Amasya tentu berbeda, dari dua gelas susu yang Rini dan Juan konsumsi. Amasya mengkonsumsi susu ibu hamil yang tentu baik untuk perkembangan janin yang ada di perutnya.
Waktu sarapan itu tiba. Rini yang lebih dulu berada di meja makan, sudah tak sabar untuk menyantap roti bakar buatannya sendiri. Dia terlihat cukup antusias untuk menyantap roti bakar itu.
Amasya dan Juan yang bak perangko. Berjalan menuju meja makan secara berdampingan. Keduanya saling menempel satu sama lain. Hingga Rini yang ada di meja makan, merasa iri dengan pasangan itu.
"Rini rasanya iri banget kalau lihat kemesraan mas Juan dan mbak Amasya. Rasanya Rini kalau nanti menikah, ingin seperti mbak Amasya dan mas Juan." Ucap Rini begitu Juan dan Amasya sampai di meja makan.
__ADS_1
"Cepat nyusul dong Rin. Supaya tahu nikmatnya berumah tangga itu seperti apa. Pokoknya nikmat dan tidak bisa diungkapkan lagi dengan kata-kata." Ucap Juan dengan sedikit lebay.
"Bohong Rin, jangan nikah dulu. Kejar dulu cita-cita kamu. Setelah cita-cita yang kamu inginkan tercapai. Baru kamu bisa memikirkan untuk mulai menikah." Sanggah Amasya sambil duduk disamping kanan Juan.
"Iya Rin. Mas Juan cuman bercanda. Rini harus bisa kejar cita-cita Rini dulu. Setelah itu baru Rini mulai memikirkan pernikahan." Jelas Juan meralat ucapannya.
"Iya mas, mbak. Rini bakal fokus dulu sama kuliah Rini. Setelah Rini sudah bekerja, baru Rini bakal mulai menata hati Rini untuk mencari pasangan yang sesuai." Terang Rini.
Juan yang makan dengan begitu lahapnya. Menyisakan sedikit kotoran yang tersisa di samping bibirnya. Amasya yang sigap, langsung membersihkan kotor dari sisa selai yang menempel itu dengan sebuah tisu. Dia begitu perhatian pada suaminya. Hingga rasa iri seorang Rini semakin besar lagi. Rini membayangkan betapa bahagianya saat dia membersihkan sisa kotoran yang menempel itu. Mungkin adegannya tak jauh romantis seperti Amasya membersihkan sisa kotoran dari Juan.
Sarapan pagi itu pun selesai, tanpa sedikitpun menyisakan roti diatas piring. Semuanya habis dilahap oleh Amasya dan Juan. Keduanya memuji roti bakar buatan Rini. Hingga Amasya meminta Rini untuk mengajarkan dirinya membuat roti bakar seenak itu. Mungkin Rini akan membuatnya setiap hari untuk Juan. Mengingat Juan begitu suka dengan roti bakar itu.
__ADS_1
Hari ini Amasya kembali membawa mobilnya untuk bekerja. Rini yang baru pertama kali masuk ke kampus, masih harus dianter oleh Amasya menuju kampus. Itu cara yang lebih baik, dibanding harus menyewa taksi online atau ojek yang tentu menguras ongkos dari Rini.
Dalam perjalanan menuju kampus, Amasya kembali menceritakan perihal dirinya semasa kuliah dulu. Ada beberapa momen menarik yang Amasya rasakan di masa kuliah tersebut. Ada momen suka dan duka yang masih Amasya ingat hingga sekarang. Kenangan itu membawa perpisahan Amasya dengan Rehan. Walaupun Amasya dan Rehan berpisah ketika memasuki masa SMA. Tetapi keduanya kembali bertemu di kampus Amasya.
Rini penasaran dengan sosok Rehan yang tiba-tiba Amasya ceritakan kepadanya. Sosok yang dalam penggambaran Amasya begitu sempurna. Terlebih Amasya menggunakan banyak kata kiasan yang menggambarkan betapa sempurnanya Rehan di mata Amasya.
Namun Amasya tak mau terlalu jauh mengulas sosok Rehan yang membuat Rini penasaran. Baginya Rehan adalah masa lalu yang harus segera Amasya tinggalkan. Mengingat sudah ada Juan yang kini Amasya miliki dengan segala kelebihan yang ada. Rehan cukup untuk Amasya jadikan masa lalu dan pelajaran dalam hidupnya. Pelajaran dalam menata hidup baru bersama Juan.
Sekalipun Amasya tidak mengulas secara rinci akan sosok Rehan. Tapi Rini dapat menyimpulkan sosok Rehan yang menurutnya tentu pernah mengisi hati Amasya. Tak heran jika Amasya masih mengingat sosok pria tersebut. Mengingat sosok Rehan yang digambarkan oleh Amasya dengan begitu sempurnanya.
Saking asyiknya mengobrol di perjalanan itu. Kampus tempat Rini berkuliah, hampir terlewat oleh Amasya. Untung Rini dengan refleks, langsung meminta Amasya untuk segera menghentikan laju mobilnya. Hingga mobil Amasya tidak terlalu jauh melewati kampus dari Rini.
__ADS_1
Sebelum turun dari mobil, Rini berpamitan terlebih dahulu pada Amasya. Dia menyalami tangan Amasya dengan begitu lembut. Rini juga meminta doa pada Amasya akan hari pertamanya masuk kuliah.