
Devi mengajak Parni untuk bertemu di taman tak jauh dari rumah Amasya. Pertemuan itu tak lain di lakukan oleh Devi untuk memberikan Parni obat yang akan di gunakan untuk melakukan eksekusi pada kandungan Amasya. Parni yang sebenarnya sedang memasak, akhirnya meninggalkan masakannya tersebut. Tanpa mematikan kompor yang terus membakar wajannya.
Dengan celemek yang masih terpasang di tubuh Parni. Dia segera bergegas menuju taman kota, tempat Devi mengajak Parni untuk bertemu. Beberapa orang bertanya pada Parni, namun Parni tidak menjawab dengan pasti. Kemana dia akan pergi.
Tiba di taman kota, Parni langsung mencari keberadaan dari seorang Devi. Matanya melirik kesana-kemari untuk mencari Devi berada.
Di tengah kebingungan dari Parni yang mencari Devi. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Parni dari belakang. Begitu Parni menoleh ke arah belakang. Ternyata orang yang menepuk pundak Parni itu adalah Devi. Parni sempat terkejut, tapi dia langsung kembali menunduk saat melihat wajah Devi berada di hadapannya. Devi lalu mengajak Parni untuk duduk di bangku taman.
Tanpa harus bertele-tele lagi, Devi langsung mengutarakan ajakan darinya bertemu. Devi ingin meminta Parni untuk segera mengeksekusi seorang Amasya di hari ini juga. Devi sudah tidak sabar melihat kehancuran daripada Amasya. Sudah banyak kebahagiaan yang di peroleh Amasya. Kini saatnya bagi Amasya untuk merasakan penderitaan yang teramat berat sama seperti Devi. Salah satunya adalah kehilangan bayi yang ada di dalam kandungannya tersebut.
Devi memberikan sebuah obat penggugur kandungan dalam bentuk puyer. Obat itu nantinya Devi minta Parni untuk mencampurkan ke dalam makanan atau minuman yang akan di konsumsi oleh Amasya. Sehingga begitu Amasya mengkonsumsi makanan dan minuman tersebut, dia akan langsung keguguran.
Devi meminta Parni untuk melakukan aksinya secara hati-hati. Sebab jika tidak, akan banyak hal yang mungkin saja terjadi pada Parni. Oleh sebab itu Parni di minta untuk berhati-hati dalam melancarkan aksinya.
Parni siap melakukan aksinya sesuai arahan dari Devi. Dia akan melakukan aksinya tersebut secara hati-hati. Mengingat jika Parni gegabah, bukan tidak mungkin Parni akan merasakan akibatnya sendiri. Hingga Parni harus penuh kehati-hatian dalam melakukan aksinya tersebut.
__ADS_1
Parni sudah mengerti dengan semua yang di perintah oleh Devi. Parni pun meminta izin pada Devi untuk segera kembali ke rumah Amasya. Mengingat Parni yang sedang memasak. Bodohnya dia juga lupa mematikan kompor. Parni harus segera mematikan kompor tersebut, sebelum masakan yang dia buat gosong.
Sial bagi Parni, masakan yang dia buat benar-benar gosong. Kumpulan asap yang mengepul di atas wajan. Langsung menciptakan kepanikan bagi seisi rumah Amasya. Rendi bahkan harus mengambil air satu ember penuh, sebab dia mengira terjadi kebakaran di dapur.
Untung ada Darmi yang sigap untuk mematikan kompor tersebut. Hingga tidak terjadi kebakaran yang mungkin saja terjadi saat itu. Parni yang baru saja datang, langsung terlihat panik. Dia sudah siap menerima sedikit amukan dari Amasya. Mengingat Parni begitu teledor ketika bekerja.
"Kamu habis dari mana?" tanya Amasya sedikit kesal.
"Saya tadi..." Parni bingung.
"Tadi habis ketemu sama debt kolektor Bu. Dia maksa masuk ke rumah Bu Amasya. Makanya saya segera temui." jawab Parni berkelit.
"Lain kali kalau kamu mau pergi sebentar. Kamu matikan dulu kompornya. Jangan sampai kamu lupa buat matikan kompor tersebut. Itu api, sesuatu yang bahaya." ucap Amasya dengan begitu tegas.
"Baik Bu. Maafkan saya." balas Parni sambil menunduk.
__ADS_1
Amasya kembali masuk ke dalam kamarnya. Sementara Parni kembali melanjutkan masaknya. Mungkin ini saat yang tepat bagi Parni untuk memasukkan obat penggugur kandungan itu ke dalam masakan yang tentunya akan di konsumsi oleh Amasya juga.
Parni memasukkan obat itu ke dalam sebuah sayur sop yang memang menjadi salah satu menu favorit Amasya ketika makan malam tiba. Terlebih sayur sop dari Parni di kenal enak dan memiliki rasa berbeda. Tentu Amasya akan sangat senang untuk menyantap sayur sop dari Parni tersebut.
Waktu makan malam pun tiba. Semua menu makan malam di tata dengan rapi oleh Parni dan Darmi. Gelas dan piring kembali di lap dengan begitu keringnya oleh Darmi. Begitu juga dengan Parni yang tak lupa mengelap kembali meja makan. Tentu untuk semakin membuat Amasya, Juan dan Rini yang akan makan malam di sana nyaman.
Parni sudah tidak sabar dengan yang akan terjadi pada Amasya. Tentu suatu hal yang buruk akan terjadi pada Amasya, saat menyantap sayur sop buatan Parni. Perutnya mungkin akan terasa begitu sakit. Mengingat Amasya akan mengeluarkan bayi dalam kandungannya secara paksa.
Amasya dan Juan datang terlebih dahulu ke meja makan. Keduanya terlihat begitu lapar saat mendatangi meja makan. Apalagi Juan yang begitu tak sabar menyantap sambal buatan Darmi yang lezat. Sebelum menyantap makanan utamanya, Juan menyempatkan diri untuk mencocol sebuah tahu ke dalam sambal buatan Darmi tersebut. Sudah pasti pedas, tapi rasa sambal buatan Darmi itu benar-benar lezat. Hingga Juan memberikan Darmi sebuah jempol.
Tak berselang lama, Rini juga datang ke meja makan. Rini yang baru menyelesaikan tugas kuliahnya. Juga begitu tak sabar untuk menyantap makanan yang terhidang di malam ini. Semua makanan yang ada di meja makan terlihat begitu menggugah selera. Hingga Rini tak sabar untuk menyantap semua menu makanan tersebut.
Berbeda dengan Juan yang begitu menyukai sambal. Rini sendiri adalah tim yang anti sambal. Dia yang memiliki penyakit maag, enggan untuk menyantap sambal dalam bentuk apapun. Hingga Rini tidak begitu menyukai makanan yang pedas.
Tak perlu berlama-lama lagi. Semuanya mulai menyendok nasi serta menu lainnya ke dalam piring masing-masing. Juan dengan penuh perhatian mengambilkan nasi ke atas piring Amasya. Juan tak ingin Amasya kecapean. Hingga bisa mengganggu bayi dalam kandungan Amasya. Walaupun itu sebenarnya terlalu berlebihan. Namun yang di lakukan oleh Juan semata-mata adalah pencegahan. Sehingga Juan melakukan hal tersebut sebagai bentuk cinta pada Amasya dan calon anaknya.
__ADS_1