Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Makan Siang Devi Dan Willy


__ADS_3

Seorang pelayan menghampiri Devi, begitu ia masuk kedalam restoran. Si pelayan itu menanyakan meja yang akan di pesan oleh Devi. Tapi sebelum memesan meja, Devi ingin melihat-lihat terlebih dahulu. Siapa tahu Willy lebih dulu datang. Sehingga Devi tidak harus lagi memesan meja.


Mata Devi hampir berputar 270 drajat memutari setiap sudut ruangan dine in. Tapi dia tidak menemukan satu meja pun yang sudah terisi oleh Willy. Kebanyakan meja-meja itu diisi oleh muda-mudi yang sedang berkencan dengan masing mereka masing-masing. Devi pun akhirnya memesan sebuah meja dengan dua kursi untuk dirinya dan Willy.


Si pelayan tadi, lantas mengantarkan Devi menuju meja yang hendak dipesan oleh Devi. Sebuah meja di pojok restoran. Rasanya tempat yang cocok untuk dirinya membahas pelaku pembakaran klinik miliknya.


Sambil menunggu Willy datang, Devi memesan sebuah dessert untuk sedikit mengganjal perut. Mungkin dessert ini bisa Devi gunakan untuk membuat perutnya berhenti berbunyi. Mengingat rasa lapar yang terus menyerangnya sedari tadi.


Tak menunggu lama, desert yang dipesan oleh Devi akhirnya tiba. Dibarengi sebuah jus jeruk segar. Devi sudah tak sabar untuk menyantap desert yang ia pesan tersebut.


Lembutnya desert yang ia pesan, langsung meleleh begitu memasuki mulutnya. Mungkin ini ini desert terlezat yang pernah ia makan. Tapi kondisi Devi yang lapar parah, mungkin saja yang membuat makanan itu terasa semakin istimewa. Mengingat Devi sudah sangat lapar.


5 menit waktu yang digunakan oleh Devi untuk memakan sepotong desert itu. Tak tersisa, Devi melahapnya dengan habis. Ia cukup menikmati sepotong kue yang memiliki harga yang cukup mahal tersebut.


Sebelum memesan menu utama yang akan membuat cacing di perutnya berpesta pora. Devi menunggu Willy terlebih dahulu. Dia tak ingin mendahului Willy, terlebih Willy yang akan mentraktir dirinya di hari ini. Jadi dia harus menunggu Willy.


15 menit berlalu, Willy tak kunjung datang menemuinya. Rasa bosan mulai menyerang dirinya. Ditambah beberapa pelayan yang mulai berdatangan untuk menanyakan pesanan yang hendak dipesan oleh Devi.


Devi memasang target, jika dalam 5 menit kedepan. Willy tak jua datang, Devi siap meninggalkan restoran tersebut. Mengingat cukup lama Devi menunggu Willy di restoran tersebut.

__ADS_1


Menit demi menit mulai berganti. Namun tak nampak batang hidung seorang Willy muncul di restoran. Hingga 5 menit yang di target oleh Devi, hampir tiba. Devi sudah merapikan tasnya untuk pergi dari restoran tersebut. Mengingat Willy yang tak juga datang menemuinya.


Di 30 detik menuju waktu itu habis. Akhirnya Willy menampakkan batang hidungnya. Dengan kemeja kerjanya, Willy datang menghampiri Devi. Dia terlihat begitu bersemangat untuk bertemu dengan Devi. Terlebih raut wajahnya yang nampak penuh suka cita.


Begitu tiba dihadapan Devi, Willy berusaha membuat suasana berjalan normal. Dia mencoba menempelkan pipinya pada Devi. Tapi dengan segera Devi menolak tawaran dari Willy tersebut. Dia langsung mendorong tubuh Willy yang berusaha mendekati.


Willy tak terlalu memaksa. Dia memaklumi Devi yang mungkin belum bisa normal seperti biasanya lagi. Itu proses yang harus Willy lewati. Memahami Devi sebagai orang temannya, hingga orang asing. Hingga kebiasaan dirinya dengan Devi sebagai sepasang kekasih harus sedikit dikurangi.


Willy duduk di kursi dihadapan Devi. Dia menanyakan apakah Devi telah memesan makanan untuk keduanya. Devi tidak mengatakan apa-apa, dia hanya menggelengkan kepalanya. Pertanda dia belum memesan makanan apapun hari ini.


Willy mengangkat tangan kanannya. Memanggil seorang pelayan untuk mencatat semua pesanan yang hendak dia pesan. Seorang pelayan pria dengan senyuman manisnya. Menghampiri meja Willy. Tak jauh berbeda dengan pelayan lain, di memperkenalkan dirinya. Sebelum menanyakan makanan yang hendak dipesan oleh Willy.


"Saya ingin memesan 2 paket yang berisi sate, nasi, minuman serta sup iga." Ucap Willy.


"Memang ada minuman apa yang sedang booming disini?" Tanya Devi yang terjerat jebakan marketing dari si pelayan tersebut.


"Kami ada mango ice cream, dimana itu minuman hasil racikan dari jus mangga yang dikombinasikan dengan full cream yang lumer." Terang si pelayan dengan meyakinkan.


"Kalau begitu saya pesan satu mas. Sepertinya itu lezat dan segar." Ucap Nania.

__ADS_1


"Saya juga pesan satu mas. Saya juga tertarik dengan minuman itu." Tambah Willy.


"Berarti dua mango ice cream nya yah kak." Tandas si pelayan tadi.


Begitu selesai mencatat semua pesanan dari Willy dan Devi. Si pelayan itu segera meninggalkan meja dan Willy. Dia segera menginput pesanan dari Willy dan Devi tersebut.


Menunggu pesanan yang dia pesan datang. Devi langsung memberondong Willy dengan beragam pertanyaan. Tentu pertanyaan besar dari semua pertanyaan dari seorang Devi adalah dalang pembakaran klinik miliknya. Terlebih Willy mengatakan jika dia mengetahui dalang dari pembakaran klinik Devi.


Willy berusaha tak menjawab langsung semua pertanyaan yang Devi berikan pada dirinya. Dia sengaja membelokkan beragam pertanyaan yang Devi lontarkan. Tujuannya sederhana, yaitu untuk membuat Devi tidak segera pergi dihadapannya. Mengingat sebenarnya Willy tak akan mengatakan dalang dalam kebakaran yang ada. Sebab dirinya sendiri adalah orang yang ada dibalik kebakaran dari klinik Devi.


Jawaban dari Willy yang tak pasti, sedikit membuat Devi emosi. Untung makanan yang Devi pesan segera datang. Beberapa menu makanan itu seketika meredakan emosi Devi yang hampir memuncak itu pada Willy. Devi akhirnya bisa meredam emosi yang ada di hatinya. Dengan beberapa tusuk sate yang terlihat begitu menggodanya.


"Lantas informasi apa yang kamu miliki akan kebakaran yang terjadi tersebut?" Tanya Devi dengan begitu tegasnya.


"Kamu ingin tahu banget?" Tanya balik Willy memakan sate juga.


"Lantas untuk apa aku kesini, kalau cuman lihat kamu makan doang. Cepat bilang, siapa dalang dari kebakaran yang terjadi hari itu." Desak Devi dengan begitu tegas.


"Aku pikir tidak sekarang. Mungkin nanti juga kamu akan tahu sendiri dalang itu." Jelas Willy kembali memakan sate-sate yang masih ada di piringnya.

__ADS_1


Devi memukul meja dengan begitu kerasnya. Dia marah akan Jawaban yang tak pasti diberikan oleh Willy padanya. Devi ingin jawaban pasti, tapi Willy terus berputar seperti biang lala. Kemarahan Devi tak ditanggapi serius oleh Willy. Willy hanya tertawa melihat Devi memarahinya dengan begitu frontal. Mungkin Willy memiliki gangguan jiwa yang menyebabkan dirinya sulit untuk memahami amarah seseorang. Hingga dia tak mampu merespon amarah dari Devi kepadanya.


Tak juga mendapatkan jawaban dari seorang Willy. Devi akhirnya memiliki untuk pergi dari restoran tersebut. Mengobrol tanpa mendapatkan informasi apapun, rasanya hanya memakan waktu Devi saja. Padahal Devi sangat membutuhkan informasi tersebut.


__ADS_2