
Amasya nampak begitu gelisah. Malam sudah semakin larut, tapi dia tak kunjung mengantuk. Matanya tak kunjung menutup. Sesekali Amasya menutup matanya, tapi dia tetap tak bisa tertidur dengan segera.
Amasya terus mengelus hidung Juan yang sudah sedari tadi tertidur dengan pulas di sampingnya. Semakin lama Amasya mengelus hidung Juan, akhirnya Juan pun menyadari istrinya tersebut mengelus hidung miliknya. Hingga akhirnya dia terbangun dari tidurnya.
Perlahan suaminya itu membuka mata. Lalu menatap wajah istrinya yang terlihat begitu segar. Senyuman darinya juga masih terlihat mempesona. Tak ada raut wajah mengantuk, padahal malam semakin larut dengan hembusan angin yang bertiup kencang.
"Kenapa belum tidur sayang?" Tanya Juan memegang tangan Amasya yang mengelus hidungnya.
"Aku belum mengantuk. Tidak tahu kenapa, aku ingin banget makan rujak cingur." Jawab Amasya dengan begitu manjanya.
"Apa, rujak cingur. Jam segini masih ada yang buka tukang rujak cingur itu?" Tanya balik Juan.
"Tidak tahu, tapi rasanya aku ingin makan rujak cingur." Pinta Amasya semakin memaksa.
"Kira-kira dimana rujak cingur yang masih buka?" Tanya Juan kembali.
Amasya menggelengkan kepalanya dengan raut wajah penuh harap. Dia menginginkan rujak cingur yang terkenal lezat itu. Mungkin Amasya sedang ngidam, sehingga dia meminta sesuatu yang aneh di malam seperti ini. Tapi kenapa harus rujak cingur.
Juan mengambil handphonenya. Lalu melakukan pencarian lokasi rujak cingur yang masih buka. Ada satu kedai yang masih buka. Tapi jarak dari rumah cukup jauh. Hingga Juan harus berpikir ulang untuk membeli rujak cingur yang di minta oleh Amasya.
Juan mencari yang lebih dekat lagi. Tapi mayoritas kedai rujak cingur yang dekat dengan rumah dirinya sudah tutup. Hingga Juan terpaksa harus membeli rujak cingur itu, walaupun jaraknya cukup jauh dari rumah.
"Apa kamu tidak bisa mengganti makanan yang memang ingin kamu makan. Seperti kamu makan rujak apa saja, asal jangan rujak cingur." Pinta Juan.
"Tidak mau sayang. Bayi kita ingin makan rujak cingur. Jadi yah aku maunya rujak cingur." Jawab Amasya dengan tegas.
"Tapi rujak cingur dari sini cukup jauh. Apa kamu tega lihat suami kamu malam-malam pergi ke tempat rujak cingur itu. Belum lagi resiko begal yang mengintai aku. Apa kamu gak kasihan sama aku sayang. Rujak yang lain saja yah sayang. Besok aja rujak cingurnya." Pinta Juan mengiba.
Dengan wajah yang cukup kesal, Amasya menggelengkan kepalanya. Dia tetap ingin rujak cingur. Tak ada yang lain. Dia hanya minta rujak cingur sekarang juga. Tidak ingin esok hari, tapi hari ini Amasya ingin rujak cingur itu di belikan oleh suaminya tercinta.
Permintaan dari Amasya adalah segalanya. Dengan sangat terpaksa, akhirnya Juan menuruti permintaan dari istri. Sekali pun udara dingin akan menghantam tubuhnya. Tapi demi istri dan calon anaknya. Juan siap melakukan apapun. Terpenting Amasya bisa mendapatkan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Mungkin mengajak Rendi adalah pilihan yang tepat. Mengingat Rendi belum begitu paham jalanan Jakarta. Sehingga ini bisa jadi alternatif dari Juan dalam memperkenalkan jalanan Jakarta pada Rendi.
Tok... Tok... Tok... Juan mengetuk pintu kamar Rendi. Namun Rendi yang sudah tertidur, tidak mendengar suara ketukan pintu dari Juan tersebut. Baru di ketukan kedua yang di lakukan oleh Juan. Akhirnya Rendi terbangun dari tidur lelapnya. Dengan segera Rendi bergegas dari atas kasurnya, untuk membuka pintu kamarnya.
Rendi merasa begitu tak enak, saat mengetahui orang yang mengetuk pintu kamarnya adalah Juan. Dia sempat lama tak membuka pintu kamarnya. Membuat seorang Juan menunggu cukup lama, hingga Rendi langsung meminta maaf pada Juan.
"Pak Juan. Maafkan saya pak, tadi saya ketiduran." Permohonan maaf dari Rendi.
"Itu bukan ketiduran Ren. Tapi memang waktunya untuk tidur. Tidak masalah Ren. Santai aja." Balas Juan dengan santainya.
Rendi tetap merasa tak enak hati pada Juan. Dia menundukkan kepalanya, dengan tangan yang terus di garuk olehnya.
"Jadi kedatangan saya ke kamar kamu ini Ren, saya ingin mengajak kamu untuk membeli rujak cingur." Ucap Juan.
"Kita beli di Surabaya Pak?" Tanya Rendi dengan polosnya.
"Hahaha... Tidak Rendi. Kita beli masih di sekitar Jakarta. Cuman jaraknya cukup jauh dari rumah. Sekalian biar kamu tahu jalanan Jakarta." Ucap Juan.
Rendi segera mengganti pakaiannya. Begitu juga dengan Juan. Rendi meminta untuk menyetir di malam ini. Dia ingin menunjukkan kemampuan dia dalam menyetir kepada Juan. Sehingga Juan akan semakin yakin dalam memilih Rendi sebagai calon sopir pribadi miliknya.
Rendi yang begitu bersemangat untuk membawa Juan membeli rujak cingur itu. Begitu antusias ketika membawa mobil milik Juan. Dia mendengarkan setiap instruksi yang di arahkan oleh Juan. Termasuk dalam memilih jalan yang akan di lalui oleh Rendi.
Juan memuji ketenangan Rendi ketika mengemudi. Rendi terlihat begitu nyaman ketika berkendara, dengan pembawaan yang begitu asyik juga. Hingga Juan yang di bonceng oleh Rendi. Terlihat nyaman dan merasa aman.
"Kamu sebelumnya bekerja di mana Ren?" Tanya Juan penasaran.
"Saya bekerja di pabrik pak Juan. Cuman saya tidak kuat. Banyak tekanan yang datang pad saya. Hingga akhirnya saya memilih untuk mengundurkan diri." Jawab Rendi.
"Kamu di pabrik bagian apa?" Tanya Juan kembali.
"Saya bekerja sebagai operator produksi, di pabrik gula." Jawab Rendi kembali.
__ADS_1
"Terus kenapa kamu bisa menyetir seperti ini?' Juan semakin penasaran.
"Dulu almarhum paman saya, sering mengajak saya jalan-jalan dengan mobil bak terbuka yang di milikinya. Dari sana saya suka belajar untuk mengendarai mobil. Makanya saya bisa mengendarai mobil seperti ini." Jawab Rendi kembali.
"Pantas kamu jago seperti ini. Kamu belajar dari Pama kamu ternyata." Balas Juan.
Tak ada raut wajah mengantuk dari Rendi. Tidak seperti Juan yang terus menguap. Rendi terlihat masih cukup bugar. Matanya masih sangat segar untuk melihat jalanan Jakarta yang di penuhi lampu berkelap-kelip di sepanjang jalan.
Dengan panduan aplikasi peta online. Rendi akhirnya tiba di tempat rujak cingur yang hendak di tuju oleh Juan. Rendi dengan segera membangun Juan yang sudah lelap tertidur. Namun Juan tak kunjung bangun, dia begitu lelap tertidur. Akhirnya Rendi dengan uang seadanya, turun menuju tempat rujak cingur tersebut.
Untung uang Rendi yang seadanya itu cukup untuk membeli rujak cingur. Hingga Rendi tidak harus mengganggu tidur Juan yang begitu lelap tersebut. Rendi dengan segera kembali membawa mobil itu pulang ke rumah Juan.
Juan akhirnya terbangun, saat sudah sampai di rumah. Sebenarnya Rendi ingin membangun Juan, tapi Rendi tak enak. Untungnya Juan bangun dengan sendirinya. Sehingga Rendi tidak harus membangunkan Juan dari tidur nyenyaknya.
"Kita sudah sampai di tempat rujak cingurnya Ren?" Tanya Juan sambil mengusap matanya.
"Tidak pak. Tapi kita sudah sampai di rumah pak Juan." Jawab Rendi.
Juan terkejut. Dia melihat ke arah luar mobilnya. Melihat ka arah sekitar rumahnya. Benar apa yang di katakan oleh Rendi. Kini Juan telah berada di rumahnya kembali.
"Terus rujak cingur yang hendak kita beli Ren?" Tanya Juan kembali dengan paniknya.
"Tenang pak. Sudah saya beli." Jawab Rendi menunjukkan sebungkus rujak cingur yang diinginkan oleh Amasya.
Juan langsung mengucap syukur sambil mengelus dadanya. Untung Rendi dengan inisiatifnya membeli rujak itu. Tidak terbayang, jika Rendi tidak membeli rujak cingur itu. Mungkin Amasya akan marah pada Juan. Terlebih itu permintaan dari bayi yang ada di dalam kandungan Amasya.
Juan membawa sebungkus rujak cingur itu ke dalam kamar. Namun Juan langsung kesal, saat melihat Amasya yang telah lelap tertidur. Juan mendekati tubuh Amasya yang terbaring di atas kasur dengan begitu lelapnya. Dia mencoba membangunkan Amasya dengan mengelus lembut tubuh Amasya.
Amasya yang sudah sangat ngantuk. Menolak rujak cingur dari Juan. Dia mengatakan jika dirinya sudah tidak lagi ingin memakan rujak cingur. Amasya sudah sangat mengantuk. Hingga rujak cingur itu di berikan pada Juan untuk dia makan.
Juan kesal, tapi mungkin itu adalah bawaan dari bayi. Hingga rasa kesalnya seketika hilang. Terlebih dengan sebuah ciuman lembut yang di berikan oleh Juan di kening Amasya. Juan langsung mengasihi istrinya. Dia juga menyelimuti tubuh Amasya yang tidak tertutup selimut dengan baik. Juan yang tidak menyukai rujak cingur, akhirnya memberikan rujak cingur itu pada Rendi. Sebelum akhirnya dia tidur juga di samping Amasya. Juan mendekap tubuh Amasya.
__ADS_1