
Ratih masuk kedalam ruangan kerja Juan, usai mendapatkan panggilan telepon dari Juan. Berdoa terlebih dahulu di depan pintu ruang kerja Juan. Ratih berharap tak mendapat tugas nyeleneh dari Juan di pagi ini.
Cukup sekali ketukan saja, Ratih langsung dipersilakan masuk oleh Juan. Dengan langkah hati-hati, Ratih berjalan kedalam ruangan kerja Juan.
"Pagi pak Juan." Sapa Ratih mendekat meja kerja Juan.
"Pagi Ratih. Silakan duduk." Titah Juan.
Ratih dengan perasaan yang mulai tak enak duduk dihadapan Juan.
"Ratih boleh saya minta tolong sesuatu sama kamu." Pinta Juan.
"Boleh pak. Memang bapak mau minta tolong apa?" Tanya Ratih.
"Sebentar lagi saya akan menikah dengan Amasya pacar saya tercinta. Saya ingin gaun pernikahan Amasya nanti sederhana tapi cantik. Kamu ada rekomendasi butik atau desainer yang bisa saya pilih untuk membuat gaun pengantin Amasya?" Tanya Juan.
"Ada dong pak. Bapak ingin model seperti apa?" Tanya balik Ratih.
"Tadikan saya bilang. Saya ingin sederhana tapi cantik. Kenapa kamu tanya lagi." Jawab Juan menyebalkan.
Dalam hati Ratih menggumam mengutamakan kekesalannya pada Juan yang sering memberi Ratih tugas. Tetapi tidak sesuai dengan harapan.
"Kenapa kamu terdiam sedikit cemberut gitu. kamu gak suka saya kasih tugas itu." Tegas Juan.
"Enggak pak. Saya senang." Ratih segera mengganti ekspresi wajah kesalnya dengan wajah penuh kebahagiaan.
"Gitu dong. Sekarang dimana yang menurut kamu cocok buat dijadikan tempat membeli gaun pengantin harapan saya?" Tanya Juan.
"Nanti saya cari-cari dulu. Soalnya banyak banget pak. Jadi saya harus cari yang sesuai dengan harapan bapak." Jawab Ratih.
__ADS_1
"Kamu sekarang belum punya rekomendasi gitu." Ujar Juan.
"Belum pak." Jawab Ratih menggelengkan kepalanya.
"Ya udah nanti hubungi saya lagi kalau kamu sudah punya rekomendasi gaun pengantin bagus." Pinta Juan.
"I-I-Iya pak." Jawab Ratih gugup.
Juan yang tak mempersilakan Ratih untuk pergi, membuat Ratih tak segera beranjak dari kursi tempatnya duduk. Sementara Juan yang mengira Ratih akan berpamitan dengan sendirinya. Sengaja tak mempersilakan Ratih pergi dari hadapannya.
Melihat Ratih yang masih ada di hadapannya. Juan seketika bingung. Dia melirik Ratih dengan wajah penuh kebingungan kala masih ada di hadapannya.
"Kenapa kamu masih disini?" Tanya Juan bingung.
"Saya pikir pak Juan masih ingin mengobrol dengan saya." Jawab Ratih.
"Baik pak kalau seperti itu. Kalau sudah ada yang sesuai kriteria bapak. Saya pasti akan kabarin bapak." Ucap Ratih sebelum pergi dari hadapan Juan.
"Iya-iya. Sekarang kamu pergi. Saya mau telepon calon istri saya dulu." Usir Juan.
Dengan wajah menahan kekesalan pada Juan. Ratih bergegas pergi dari hadapan Juan. Sementara Juan bersiap-siap menghubungi Amasya.
Juan adalah bos yang sedikit menyebalkan bagi Ratih. Setiap tingkah dari Juan terkadang membuat Ratih sedikit emosi dibuatnya. Tetapi Ratih hanya bisa bergumam untuk mengutarakan kekecewaannya pada Juan. Tanpa pernah mengatakan secara langsung.
Hari ini Amasya cuti, sehingga dia tak harus pergi ke sekolah untuk mengajar. Waktu bersantai itu dipakainya untuk berelaksasi sejenak di rumah. Tetapi Juan ingin mencari gaun pengantin yang ingin dipakai di hari pernikahan mereka nanti.
Juan menelepon Amasya yang sedang mendengarkan lagu dengan segelas jus di depan kolam renang di rumahnya. Hembusan angin menimbulkan gelombang air yang nampak seperti ombak dilautan lepas. Pikirannya terasa lepas kala burung-burung ikut berkicau mengiringi lagu yang terdengar begitu merdu.
"Hallo sayang." Sapa Amasya dengan begitu lantangnya.
__ADS_1
"Hallo sayang. Kamu dimana?" Tanya Juan.
"Emm aku lagi santai di samping kolam renang. Memangnya kenapa?" Jawab Amasya menyedot minuman miliknya.
"Gimana kalau hari ini kita cari butik buat pernikahan kita. Aku ingin kamu tampil cantik di pernikahan kita nanti." Tawar Juan.
"Boleh. Kebetulan aku juga cuman santai saja sih. Jadi gak banyak aktivitas yang aku lakukan." Amasya menerima tawaran dari Juan.
"Kalau gitu aku akan jemput kamu sekarang juga." Ucap Juan.
Juan yang tak banyak pekerjaan di hari ini, langsung membawa mobilnya menuju rumah Amasya. Sembari menunggu Juan datang. Amasya dengan make up yang tipis, bersiap-siap di kamarnya. Tak pusing masalah baju. Sebuah sweater denim berwarna navy, cocok untuk digunakan olehnya bersama Juan mencari gaun pengantin.
Ditengah perjalanan menuju luar rumahnya. Amasya berpapasan dengan Devi yang nampak begitu kusut dengan rambut yang berantakan.
"Mau kemana kamu, siang-siang gini udah rapi saja?" Tanya Devi.
"Aku mau jalan sama Juan. Dia katanya ingin mencari gaun pengantin buat aku." Jawab Amasya penuh kebahagiaan.
Devi yang sedari awal nampak murung, semakin dibuat tak berdaya kala mendengar ucapan Amasya yang hendak jalan bersama Juan mencari gaun pengantin. Dirinya pun semakin frustasi.
Tak lama, suara klakson yang khas dari mobil Juan memanggil Amasya. Dia pun langsung meminta izin pada Devi untuk segera berangkat menuju mobil Juan.
Tak menjawab ucapan dari Amasya. Devi hanya mengikuti Amasya kala berjalan pergi menuju mobil Juan. Dibalik gorden rumahnya. Devi harus menahan tangis, kala dengan mesranya Juan mencium Amasya ketika baru keluar dari dalam mobilnya.
Perlakuan romantis dari Juan yang membuka pintu mobilnya untuk Amasya, semakin Devi cemburu berat. Devi hanya bisa melampiaskan kekesalannya pada gorden tempatnya bersembunyi.
Sepanjang perjalanan menuju butik. Kebucinan dari Amasya terus ditunjukkan pada Juan. Dia menyandarkan tubuhnya dibahu kekar Juan. Sesekali dia mencium lembut tangan Juan yang menjadi sandaran dari kepalanya. Amasya begitu bahagia bisa berada disamping Juan.
Butik langganan dari keluarga Amasya kala menjadi pilihan Amasya untuk mencari gaun pengantin. Selain memiliki kualitas yang bagus dan mewah. Butik ini juga menjahit gaun pengantin dengan detail yang rumit. Sehingga akan sangat indah jika Nania memesan gaun pengantinnya nanti.
__ADS_1