
Kedatangan dari seorang Darmi ke rumah Amasya tentu akan jadi ancaman tersendiri bagi seorang Parni. Pembantu baru Amasya dan Juan itu tentu tidak ingin posisi dirinya sebagai pembantu utama dari Amasya tergantikan oleh kedatangan dari Darmi. Parni begitu tidak menyukai kedatangan seorang Darmi ke rumah Juan. Hingga Parni harus melakukan sesuatu untuk membuat Darmi di usir di rumah Juan. Sekali pun Darmi belum resmi menjadi pembantu di rumah Juan. Tapi Parni sudah ketakutan akan Darmi.
Parni begitu resah di dalam kamarnya. Seusai mengajak Alvin jalan-jalan di taman kota. Hati Parni langsung bimbang. Apalagi Amasya dan Juan terlihat begitu antusias dengan kedatangan dari seorang Darmi ke rumah mereka. Satu sinyal negatif yang tentu akan membuat posisi Parni terancam.
Kekhawatiran dari Parni ternyata menjadi sebuah kenyataan. Mimpi buruk yang akan segera di mulai oleh dirinya di rumah Amasya. Dimana Darmi akan memulai mimpi buruk itu.
Amasya membawa Darmi ke kamarnya. Tentu Amasya ingin memperkenalkan Parni pada Darmi. Darmi yang sudah di pecat oleh Ratna. Untuk sementara akan menjadi asisten rumah tangga di rumah Amasya dan Juan. Darmi akan mengurus seorang Alvin yang terkena stroke berat. Mungkin Darmi akan lebih baik dalam mengurus Alvin. Mengingat Darmi sudah puluhan tahun bekerja bersama Alvin. Tentu Darmi akan mengenal jauh seorang Alvin. Sentuhan dari hati seorang Darmi ke Alvin akan lebih terasa, di banding dengan Parni.
"Ada apa yah Bu Amasya?" Tanya Parni pada Amasya.
"Saya ingin memperkenalkan kamu sama bi Darmi." Jawab Amasya dengan penuh kehangatan.
__ADS_1
"Perkenalkan nama saya Darmi." Ucap Darmi menyodorkan tangan kanannya.
Parni tidak langsung menyambut tangan kanan Darmi itu. Dia sempat menatap wajah Darmi terlebih dahulu. Sebelum akhirnya Amasya mengejutkan seorang Parni. Dengan segera, Parni pun menjabat tangan seorang Darmi.
"Nama saya Parni." Ucap Parni.
"Jadi untuk sekarang, kalian akan berbagi tempat tidur di sini. Nanti kamu atur saja sendiri bagaimana posisi kalian tidur. Terpenting kalian tidur bersama." Pinta Amasya.
Amasya dengan segera meninggalkan kamar Parni dan Darmi. Amasya ingin memberikan waktu yang cukup bagi Darmi dan Parni untuk saling mengobrol. Mungkin keduanya ingin saling bertukar pikiran, atau hal lainnya. Itu terserah keduanya. Terpenting keduanya saling mengobrol saja.
Parni yang di depan Amasya tidak menunjukkan sikap buruknya. Begitu Amasya sudah tidak ada di hadapannya, Parni langsung menunjukkan sikap jahatnya. Dia menarik tubuh Darmi menjauh dari pintu. Dengan segera, Parni menutup pintu kamar dengan begitu kerasnya. Parni membanting pintu kamarnya itu. Hingga membuat Darmi terkejut hebat. Darmi langsung mengelus dadanya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, pelan-pelan Parni." Pinta Darmi dengan lembutnya.
"Terserah gue. Ini kamar gue, jadi loe gak usah banyak bacot!" Ujar Parni dengan begitu sewotnya.
"Saya tahu itu Parni, tapi kamu cuman menumpang di sinikan. Jadi ada baiknya hati-hati dengan semua peralatan dan benda yang ada di sini." Pinta Parni kembali.
"Gak usah banyak bacot. Mending sekarang loe beresin tuh tikar. Loe nanti tidur di sana saja." Perintah Parni pada Darmi.
"Bukannya kita akan tidur bersama di ranjang itu." Ucap Darmi mengiba.
"Tidak! Aku tidak sudi untuk tidur satu ranjang dengan kamu." Tegas Parni.
__ADS_1
Darmi yang tak ingin ada keributan kembali. Menurut pada perintah seorang Parni. Dia akhirnya tidur di atas tikar. Sementara Parni tidur di atas ranjang sendiri saja.