Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Klinik Baru Devi


__ADS_3

Dengan menggunakan uang tabungan yang dimiliki oleh Ratna. Serta modal yang diinvestasikan oleh Alvin. Devi akhirnya memiliki klinik bersalin dirinya sendiri. Klinik itu diberi namanya sendiri. Dengan kemampuan dirinya di bidang persalinan serta kandungan. Devi membuka praktek bagi siapa saja yang ingin bersalin serta konsultasi kehamilan padanya.


Klinik yang Devi jadi tempat bersalin itu cukup strategis. Lokasinya ada di samping jalan. Hingga klinik miliknya akan mudah diakses oleh ibu hamil yang ingin konsultasi pada Devi. Maupun ingin melakukan persalinan padanya.


Pembukaan dari klinik Devi digelar cukup meriah. Dihiasi dengan berbagai ornamen seperti bunga serta balon-balon yang terletak di sudut ruangan. Semakin menambah kemeriahan dari acara launching klinik baru milik Devi tersebut.


Beberapa sahabat serta kerabat dekat dari Devi hadir untuk memberikan selamat atas pembukaan dari klinik baru milik Devi tersebut. Melihat banyaknya ucapan dari sahabat serta kerabat yang hadir. Perlahan membuat Devi menjadi congkak. Dirinya merasa telah berhasil menjadi seorang dokter, dengan pembukaan klinik barunya tersebut. Walaupun modal tempat Devi membuka klinik adalah pemberian dari Ratna serta investasi dari Alvin, ayah tirinya. Tetapi Devi yang selalu ingin dipandang hebat oleh orang lain, mengatakan semua itu berkat kerja kerasnya. Hingga bisa membuka klinik bersalin.


Kesombongan dari seorang Devi semakin menjadi-jadi. Amasya dan Juan yang datang untuk memberikan selamat pada Devi. Justru menjadi bulan-bulanan kesombongan dari Devi. Tak sekedar sombong, tapi Devi juga merendahkan harga diri seorang Amasya.


"Selamat Dev atas pembukaan klinik baru kamu. Aku harap kamu bisa membantu banyak orang dengan klinik baru yang kamu miliki ini." Ucap Amasya suka cita.


"Lihatkan Amasya, aku lebih sukses dari kamu. Aku sudah bisa membuka klinik sendiri, sementara kamu. Hanya bisa menjadi budak di sekolah orang lain." Jawab Devi dengan congkak.


"Omongan kamu itu tidak pantas. Amasya bukan budak seperti yang kamu ucapkan." Bantah Juan yang terpancing emosi.


"Seseorang yang bekerja di tempat orang lain, itu namanya budak. Kalau bukan budak apa dong sebutannya?" Devi semakin melancarkan serangannya.

__ADS_1


"Tapi frasa budak yang kamu sebut tadi benar-benar tidak pantas. Seharusnya frasa seperti itu tidak digunakan." Juan semakin tersulut emosi.


"Apa yang salah dengan frasa budak. Tidak ada yang salah. Itu sudah benar untuk menyebut istri kamu itu sebagai budak. Memang kenyataannya seperti itu." Ucap Devi semakin menyebalkan.


Juan mengepalkan tangan kanannya. Dia berusaha menahan emosi yang ada dihatinya. Emosi akan ucapan dari Devi yang terus merendahkan seorang Amasya.


Amasya yang melihat Juan sudah tidak bisa bersabar dengan ucapan yang dilontarkan oleh Devi. Mencoba menenangkan kembali suaminya tersebut. Amasya mengelus dada Juan untuk bisa lebih bersabar lagi dengan semua ucapan yang Devi lontarkan pada Amasya.


Alvin mencoba menengahi dengan permasalahan yang ada. Dia datang untuk menghentikan aksi keji Devi yang terus menyerang seorang Amasya. Begitu juga dengan Juan yang sudah mulai terpancing emosi dari seorang Devi.


"Ingat Devi, ayah menanamkan modal di klinik ini. Jadi jangan kamu pikir klinik ini bisa berdiri oleh kamu saja. Ada modal ayah yang ayah berikan disini." Ucap Alvin dengan tegas.


Tak ingin Devi dipojokan oleh Alvin. Ratna merasa harus menolong Devi. Ratna larut dalam obrolan sengit itu pun.


"Investasi kamu tidak sampai 50% Sementara uang aku hasil pemberian dari Devi, itu yang jadi modal berdirinya klinik ini." Bela Ratna tak mau kalah.


"Aku tidak yakin itu uang dari Devi. Bukan uang bulanan yang aku berikan, kamu potong." Tuduh Alvin tak kalah ngeyel.

__ADS_1


"Seberapa besar sih uang bulanan kamu. Uang itu tidak besar, mana mungkin aku bisa potong. Uang itu pemberian dari Devi." Bantah Ratna dengan begitu emosional.


Tak ingin semuanya semakin panas dengan kondisi yang ada. Akhirnya Amasya mencoba menenangkan keadaan. Amasya meminta semuanya tidak membahas lagi perihal yang itu. Terpenting hari ini Devi memiliki sebuah klinik yang tentunya bisa digunakan untuk menolong banyak orang.


Amasya juga berpamitan untuk pulang. Mengingat Juan yang sudah sangat tidak nyaman dengan kondisi yang ada. Hingga mungkin ini waktu yang tepat untuk pulang.


Devi tak merespon ketika Amasya izin pulang padanya. Begitu juga dengan Ratna yang tak menyambut tangan Amasya begitu ingin salim padanya. Hanya Alvin saja yang merespon Amasya. Bahkan Alvin mengantar Amasya dan Juan menuju parkiran.


Diparkiran mobil, Alvin kembali meminta Juan untuk lebih berbesar hati dengan ucapan dari adik tiri serta ibu tiri dari Amasya. Alvin meminta Juan untuk sedikit memaklumi kondisi Ratna serta Devi yang kurang baik pada Amasya. Alvin juga meminta maaf pada Amasya akan dirinya yang tak kunjung mampu merubah sikap Devi dan Ratna. Hingga Amasya yang kerap kali mendapat tindakan yang tidak menyenangkan dari keduanya.


Hati Amasya yang terbuat dari sutera yang halus serta lembut. Tak tergores sedikit pun oleh luka yang dibuat oleh Devi dan Ratna. Setiap perbuatan yang dilakukan oleh Devi dan Ratna, otomatis sudah Amasya maafkan. Hingga Amasya tidak pernah menyimpan sedikit pun dendam kepada keduanya.


"Jika aku jadi kamu, mungkin setiap hari aku akan adu mulut dengan mereka. Rasanya mereka seperti tidak memiliki hati. Mereka berbicara tanpa sedikitpun memikirkan perasaan kamu. Tapi aku salut, kamu selalu bisa memaafkan mereka. Itu luarbiasa menurutku." Puji Juan merangkul tubuh Amasya.


"Siapa dulu dong ayahnya...." Alvin bersuara.


Semuanya langsung tertawa dengan ucapan spontan dari Alvin. Amasya bahagia Juan dan ayahnya sudah bisa meredam emosi mereka. Mengingat keduanya begitu terpancing emosi dengan ucapan yang dilontarkan oleh Devi dan Ratna.

__ADS_1


Kembali berpamitan pada Alvin, Amasya dan Juan pun bergegas pergi menuju rumah mereka. Dengan doa yang dipanjatkan oleh Alvin, dirinya mendoakan keselamatan kepada Juan dan Amasya.


__ADS_2