Di Paksa Childfree

Di Paksa Childfree
Amasya Resmi Mengundurkan Diri


__ADS_3

Ini adalah akan jadi hari terakhir untuk Amasya mengenakan seragam guru. Hari ini adalah hari Amasya mengundurkan diri dari sekolah tempat dia mengajar. Semua kenangan Amasya mengajar akan berakhir di hari ini.


Selama sarapan, Amasya terlihat masih begitu sedih. Sekali lagi, seikhlas apapun Amasya, tetap saja dia masih begitu berat untuk meninggalkan sekolah yang telah memberikan kesempatan pada Amasya untuk mengajar. Mengingat sekolah itu juga yang membawa kenangan tersendiri bagi Amasya.


Rini dan Juan terus menyemangati Amasya. Keduanya meyakinkan Amasya ini adalah pilihan terbaik dari Amasya. Sehingga tidak ada yang harus membuat Amasya bersedih. Mungkin ini adalah jalan terbaik untuk Amasya. Begitu juga dengan awal kebahagiaan yang akan di hadapi oleh Amasya di masa mendatang.


Ini adalah titik balik dalam hidup Amasya. Amasya tidak harus bersedih dengan keputusan darinya itu. Sebab yang di pilih Amasya tak kalah baik juga dengan mengajar. Sehingga Amasya harus tetap yakin dengan keputusan darinya tersebut.


"Mbak Amasya harus ikhlas. Sebab dengan ikhlas, mbak Amasya tidak akan berat meninggalkan semuanya. Sebab dari ikhlas itu, kita bisa belajar untuk menerima semuanya." Ucap Rini memberikan semangat pada Amasya.


"Iya sayang, kamu harus kuat dan yakin dengan keputusan dari kamu tersebut. Ini semua sudah menjadi keputusan terbaik. Mengingat kamu sendiri sedang hamil. Jadi kamu harus bisa memberikan waktu kamu untuk calon bayi kita." Lanjut Juan sambil mengelus rambut Amasya.


"Terima kasih sayang, Rini. Dukungan kalian tentu begitu berarti buat aku. Sehingga aku bisa semakin kuat lagi dengan keputusan ini." Ucap Amasya.


Sebuah ciuman yang diberikan oleh Juan di kening Amasya. Mengakhiri rasa berat Amasya akan keputusan dirinya untuk mengundurkan diri dari sekolah. Mungkin ini adalah keputusan berat, tapi semuanya harus di ambil oleh Amasya. Semuanya harus di putuskan. Sebab Amasya harus bergelut dengan keluarga kecilnya. Keputusan pun harus di ambil Amasya dengan bijak.


Amasya yang di antar oleh Juan menuju sekolah. Tak terlihat bersedih lagi. Dia sudah mantap untuk berhenti menjadi seorang guru. Keputusan yang awalnya berat itu, kini di putuskan Amasya dengan ikhlas. Tidak ada lagi keberatan seperti hari-hari kemarin. Kini Amasya sudah ikhlas dan terasa ringan dengan keputusan darinya.


Juan sengaja datang terlambat ke kantor, hanya untuk mengantar Amasya ke ruangan Rehan. Tentu surat pengunduran diri dari Amasya itu harus di setujui oleh Rehan, sebagai kepala sekolah di sekolah.


Amasya dan Juan yang berjalan secara bergandengan. Menarik perhatian siswa-siswi yang berada di sekolah. Terutama para siswi yang begitu terkesima dengan penampilan Juan yang terlihat begitu tampan dengan pakaian kantor yang di tambah sebuah kacamata hitam. Juan langsung menarik perhatian seluruh siswi yang ada. Mereka mengagumi ketampanan seorang Juan.


Amasya langsung di sambut Bu Imas begitu memasuki ruangan guru. Sebelum mendatangi ruangan Rehan untuk menyerahkan surat pengunduran diri dari seorang Amasya. Amasya mendatangi terlebih dahulu ruang guru. Di momen ini, Amasya ingin berpamitan pada seluruh guru yang pernah menjadi rekan mengajar seorang Amasya.

__ADS_1


Semua guru di salami oleh Amasya. Terutama beberapa guru yang selama ini cukup dekat dengan Amasya selama mengajar di sekolah tersebut. Beberapa guru itu pun meneteskan air mata dengan keputusan dari Amasya untuk berhenti mengajar di sekolah.


"Terima kasih semuanya. Saya ucapkan banyak terima kasih dengan semua doa baik yang telah diberikan kepada saya. Mungkin saya tidak bisa mengucapkan satu persatu nama teman-teman yang telah menjadi bagian keluarga saya di sekolah ini. Namun kalian semua adalah rekan terbaik dalam hidup saya, selama mengajar di sekolah." Ucap Amasya dengan begitu sedihnya.


Lambaian terakhir dari tangan Amasya, menjadi perpisahan tersebut. Semuanya hampir meneteskan air mata dengan keputusan dari Amasya. Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, orang mati meninggalkan nama. Kebaikan yang Amasya berikan selama mengajar meninggalkan kesan yang cukup baik di ingatan para guru. Terlebih Amasya di kenal sebagai seorang guru yang rendah hati dan suka menolong.


Seusai berpisah dengan rekan guru. Beberapa kelas yang menjadi tempat Amasya mengajar, juga di datangi Amasya. Semua kelas tempat Amasya mengajar, memberikan beberapa hadiah untuk Amasya. Hingga Juan harus turut membawa hadiah yang di dapat oleh Amasya dari para siswa tersebut. Hadiah yang cukup memorial dalam hidup Amasya.


Kini saatnya bagi Amasya untuk memberikan surat pengunduran dirinya pada Rehan. Tetap di gandeng oleh Juan, Amasya mulai melangkahkan kakinya menuju ruang kepala sekolah. Dimana tempat itu menjadi tempat Rehan berada.


Mengetuk pintu terlebih dahulu, begitu Rehan mempersilakan Amasya masuk. Dengan segera, Amasya masuk ke dalam ruangan Rehan. Rehan menyambut kedatangan Amasya dengan begitu sumringahnya. Dia tak mengetahui jika hari ini Amasya akan mengundurkan diri dari sekolah yang di pimpin olehnya. Hingga Rehan terlihat menyambut baik kedatangan dari seorang Amasya ke ruangannya.


Amasya dan Juan duduk di depan meja kerja seorang Rehan. Rehan yang masih tak mengetahui kedatangan dari Amasya untuk mengundurkan diri, tetap berusaha memberikan senyuman terbaiknya. Namun dia heran dengan kedatangan dari seorang Juan bersama Amasya. Tentu itu suatu hal yang cukup aneh baginya.


"Selamat pagi pak." Lanjut Juan menyodorkan tangan kanannya pada Rehan.


"Selamat pagi." Rehan menjabat tangan Juan.


"Ada maksud apa kedatangan dari Bu Amasya dan suami ke ruangan saya?" Tanya Rehan antusias.


"Maksud kedatangan saya di hari ini, tidak lain dan bukan." Amasya begitu berat untuk melanjutkan ucapannya.


"Bukan apa?" Tembak Rehan secara tiba-tiba.

__ADS_1


"Bukan untuk mengganggu pak Rehan. Tapi kedatangan istri saya adalah untuk mengundurkan diri dari sekolah ini." Balas Juan dengan begitu jelasnya.


Rehan tak bersuara. Tapi wajahnya tak bisa berbohong. Dia terkejut mendengar pernyataan dari seorang Juan akan Amasya. Bagaimana tidak, Juan mengatakan jika hari ini Amasya akan mengundurkan diri dari sekolah ini. Itu tentu jadi pukulan yang berat bagi sekolah. Kehilangan seorang pengajar sehebat Amasya adalah sebuah mimpi buruk bagi sekolah.


"Kamu yakin ingin keluar dari sekolah ini, tidak ada yang memaksa kamu untuk keluar dari sekolahkan?" Tanya Rehan masih tidak percaya.


"Kenapa anda mengatakan hal demikian. Istri saya keluar atas kemauan dirinya sendiri. Tidak ada yang memaksa dia untuk keluar. Jadi jangan berasumsi seolah ada yang memaksa dia keluar dari dari sini." Juan sedikit kesal dengan pertanyaan dari Rehan.


"Saya berbicara secara baik-baik. Apakah salah, jika saya bertanya demikian pada Amasya. Tentu itu bukan kesalahan, bukan?" Rehan membalas ucapan dari Juan dengan tak kalah tengil.


Melihat suaminya dan Rehan beradu argumen. Amasya segera melerai pertikaian keduanya. Amasya tak ingin Juan dan Rehan semakin dalam beradu argumentasi. Mengingat ini adalah sekolah, tempat yang tidak cocok untuk beradu argumentasi seperti itu.


"Kenapa kalian jadi ribut. Pak Rehan, tidak ada yang memaksa saya untuk keluar. Saya sedang hamil, kebetulan ayah saya sekarang sedang sakit. Sehingga saya harus memiliki banyak waktu untuk mengurus kehamilan saya. Begitu juga dengan ayah saya. Saya harus melakukan itu." Jelas Amasya yang sedikit kesal pada Rehan juga.


"Bukan maksud saya seperti itu Amasya. Saya pikir, keputusan kamu itu harus di pikir ulang lagi. Mengingat track record kamu yang bagus. Tentu yayasan pun akan berat untuk melepas kamu." Bantah Rehan.


"Yayasan tidak ada hak untuk melarang seseorang untuk berhenti dari sini. Jika yayasan menghalangi seseorang untuk keluar dari sini. Maka yayasan bisa berurusan dengan hukum." Jawab Juan dengan tegasnya.


"Saya tahu hal itu. Tapi..." Ucap Rehan menggantung.


"Tapi saya cuman minta anda tanda tangan surat pengunduran diri dari istri saya saja. Apa susahnya. Kita akan pergi dari sini. Jangan mempersulit, apalagi melarang istri saya untuk keluar dari sini." Sambung Juan semakin tegas.


"Baiklah, saya akan menandatangani surat pengunduran diri Amasya tersebut." Balas Rehan yang mulai membuka amplop coklat milik Amasya.

__ADS_1


Apa yang di inginkan oleh Juan, akhirnya di lakukan juga oleh Rehan. Dia menandatangani surat pengunduran diri dari Amasya. Dengan begitu, Amasya resmi keluar dari sekolah tersebut.


__ADS_2